1 Komentar

Antara Hadiah yang Dianjurkan & Gratifikasi yang Diharamkan

Gratifikasi sejatinya adalah hadiah dari satu orang ke orang lain. Hanya saja hadiah tersebut terkait dengan jabatan atau kekuasaan yang melekat pada seseorang yang diberi hadiah. Gratifikasi adalah indikasi nyata perihal “keberadaan udang di balik batu”. Islam sendiri sudah jauh hari mengharamkan yang namanya gratifikasi, namun menghalalkan bahkan memotivasi tumbuhnya budaya hadiah menghadiahi. Lalu, di mana letak benang tipis perbedaan antara hadiah dan gratifikasi? Apa dasar pelarangan gratifikasi dalam Islam? Untuk mendapatkan jawabannya, terlebih dahulu kita harus memahami apa definisi terminologi hadiah dalam perspektif syari’at.

Para fuqaha mendifinisikan hadiah sebagai berikut:

تمليك ممن له التبرع في حياته لغيره عينا من ماله إكراما بلا شرط ولا عوض

“Pemberian dari seseorang semasa hidupnya kepada orang lain, dari harta yang dimiliki oleh si pemberi secara dzat (bukan hanya kemanfaatannya saja), sebagai bentuk penghormatan atau pemuliaan kepada yang diberi, tanpa syarat, tanpa ada balasan.”[1]

Hadiah dalam ranah definisi tersebut jika ditujukan kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan/jabatan terkait pekerjaannya di bidang public servis, maka hukumnya bisa dibagi menjadi tiga:

  1. Haram bagi pemberi, haram juga bagi penerima. Contohnya: risywah (suap).
  2. Boleh bagi pemberi, haram bagi penerima. Contohnya: hadiah untuk pegawai terkait status atau wewenangnya sebagai public servant, dengan syarat si pemberi ikhlas menghadiahkan tanpa embel-embel interes di balik itu. Para ulama membahas juga cara pengalokasian hadiah semacam ini, yang pasti, hadiah semacam ini tidak boleh dialokasikan untuk pribadi pegawai.
  3. Boleh bagi pemberi, boleh juga bagi penerima. Contohnya: hadiah kepada pegawai dari seseorang, yang mana sebelum menjadi pegawai, dia sudah sering menerima hadiah dari si pemberi, dan kadar hadiah tidak melebihi kadar hadiah ketika dia belum menjadi pegawai.
Nah, hadiah yang banyak diterima oleh orang kantoran (public servant), biasanya tidak jauh-jauh dari kriteria yang kedua. Ada sebagian pejabat yang diberi hadiah (baca: gratifikasi) karena seseorang terpaksa harus mengamankan diri dari efek buruk kekuasaannya, atau murni untuk menghormati pejabat tersebut. Dalam kondisi seperti ini, si pemberi hadiah tidaklah berdosa. Namun dosa tersebut bagi yang diberi hadiah, Dalilnya jelas, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُوْلٌ

“Hadiah untuk para pegawai (karena statusnya sebagai pegawai atau pelayan publik-pent), termasuk harta ghulûl (yaitu harta yang diperoleh dari jalan khianat atau berbuat culas-pent).” [Shahîhul Jâmi’ no. 7021, al-Albâni]

Bukankah Rasulullah Menerima Hadiah..??

Bukan hanya menerima, bahkan Rasulullah menganjurkan untuk saling hadiah-menghadiahi antar sesama muslim. Beliau bersabda: “Saling menghadiahilah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” Ini adalah hukum asal hadiah, mustahab (dianjurkan).

Adapun hadits yang mengecam hadiah untuk pegawai di atas, berbicara tentang jenis hadiah yang diperoleh dari efek samping dari suatu jabatan atau kekuasaan. Seperti kita ketahui, jabatan dan kekuasaan punya efek magnetis, menarik apa-apa yang sebelumnya enggan atau tidak bisa tertarik. Hadiah semacam ini sangat rentan (bahkan bisa dipastikan bisa) menyelewengkan integritas seorang pejabat dalam menjalankan tanggungjawabnya. Adapun Rasulullah, beliau adalah manusia biasa namun tidak biasa seperti kita. Beliau terpelihara dari sifat khianat dan ketergelinciran integritas. Itulah sebabnya para ulama menjelaskan bahwa penerimaan hadiah yang dilakukan oleh Rasulullah terkait status beliau sebagai kepala negara, merupakan khushusiyyah beliau yang tidak dibenarkan untuk pejabat selain beliau. Sebagaimana syariat menikahi lebih dari 4 wanita khusus untuk beliau, maka kebolehan seorang pejabat menerima hadiah juga khusus untuk beliau. Khushusiyyah ini disebutkan dalam adz-Dzakhîrah: 10/81, ad-Durrul Mukhtâr: 5/372. [Dinukil dari Al-Hadâya lil-Muwazh-zhafîn hal. 58]

***

Lombok, 7 Sya’ban 143 | 16062013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)


[1] Definisi ini disimpulkan dari hasil telaah Syaikh DR. Abdurrahîm bin Ibrâhim al-Hâsyim dalam literatur ilmiahnya yang berjudul “al-Hadâya lil Muwazh-zhafîn Ahkâmuha wa Kaifaiyyatut Tasharruf fiiha” hal. 15.

About these ads

One comment on “Antara Hadiah yang Dianjurkan & Gratifikasi yang Diharamkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: