Tinggalkan komentar

Merangkai Ulang Hubungan Kita Dengan al-Qur’an

“Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan 1433-H”

Suatu ketika Abdullah bin Zubair rahimahullaah bertanya pada ibunda beliau tercinta, Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhuma; perihal keadaan para sahabat Rasulullah dahulu ketika mendengar ayat-ayat Ilahi (al-Qur’an) dibacakan. Maka Asma’ pun menjawab:

تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُوْدُهُمْ كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ

“Air mata mereka bercucuran, dan kulit-kulit mereka gemetar, persis seperti apa yang disifatkan oleh Allah tentang mereka.”

Yang dimaksud oleh Asma’ adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang diabadikan dalam al-Qur’an:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…” [QS. az-Zumar: 23]

Diriwayatkan bahwasanya ‘Umar bin Khaththab radhiallaahu’anhu di suatu malam pernah mendengar seorang laki-laki membaca ayat dalam tahajjud-nya:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِع

“Sungguh adzab Tuhanmu pasti akan terjadi. Tak ada seorang pun yang sanggup mencegahnya.” [QS. ath-Thuur: 7-8]

Maka ‘Umar pun berkata: “Ini adalah sumpah (dari Allah), Demi Rabb Pemilik Ka’bah, adzab tersebut haq (pasti terjadi)”. Lantas beliau kembali ke rumah dan mendadak ditimpa sakit selama sebulan. Orang-orang membesuk beliau tanpa ada yang tahu penyebabnya sakitnya.”

Dalam riwayat lain, ‘Umar pernah membaca Surat Maryam, saat melewati ayat berikut ini:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Jika dibacakan ayat-ayat ar-Rahman kepada mereka, mereka segera menyungkur sujud dan menangis” [QS. Maryam: 58]

‘Umar pun segera menyungkur sujud, lalu berkata: “Ini dia sujudnya, lalu mana tangisannya?”, beliau ingin sekali bisa menangis (karena ayat tersebut memuji orang-orang yang bersujud dan menangis ketika mendengar ayat Allah dibacakan). [Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir: 2/457]

Abdullah bin Syaddad mengisahkan:

سمعت نشيج عمر بن الخطاب وأنا في آخر الصفوف في صلاة الصبح يقرأ في سورة يوسف: ﴿قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ﴾

“Aku mendengar tangisan ‘Umar bin Khaththab, padahal aku berada di shaf terbelakang, ketika shalat shubuh, saat membaca ayat dalam Surat Yusuf (ayat-86): “Berkata (Ya’qub), aku tidak menampakkan keluh kesah, kedukaan, dan kesedihanku kecuali hanya kepada Allah semata.” [at-Tafsir al-Muyassar: 245]

Pengaruh ayat-ayat Qur’ani yang begitu menghujam di sanubari para sahabat tidak sebatas berujung pada air mata khosy-yah (takut) dan bergejolaknya hati yang sesak oleh rasa cinta dan pengagungan pada Rabb, namun lebih dari itu, al-Qur’an seolah bisa dibaca dari mujahadah dan pengorbanan mereka dalam mengamalkan kandungannya.

Renungkanlah kisah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhu, pemegang mahkota kedermawanan di kalangan para sahabat. Beliau memiliki kerabat dekat bernama Misthoh bin Utsaatsah, dia seorang yang fakir, Abu Bakr senantiasa menyantuni dan menafkahi hidupnya. Tatkala terjadi fitnah zina yang disebarkan oleh orang-orang munafik terhadap ‘Aisyah radhiallaahu’anha. Misthoh terbukti ikut andil dalam menggunjing dan menyakiti ‘Aisyah dengan fitnah keji tersebut. Abu Bakr pun kecewa berbaur marah, sampai-sampai beliau bersumpah untuk memutus nafkahnya kepada Misthoh. Namun ketika Allah menurunkan ayat:

  وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. an-Nuur: 22]

Abu Bakr ash-Shiddiq dengan penuh ketaatan segera menyambut ayat tersebut dengan mengatakan:

بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ، وَقَالَ: وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا

“Ya, Demi Allah, aku sangat menginginkan agar Allah mengampuniku.” (Maka beliau memberikan kembali nafkah beliau kepada Misthoh dan berkata: “Demi Allah aku tidak akan memutus nafkah tersebut darinya sampai kapanpun.” [Shahih Bukhari: 4750, Shahih Muslim: 2770]

Anas bin Malik menuturkan sebuah kisah yang tidak kalah mencengankan, tatkala turun ayat:

لَنْ تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّون

“Kalian tidak akan pernah menggapai surga[1] sampai kalian meng-infaq-kan apa-apa yang kalian cintai.” [QS. Ali ‘Imron: 92]

Tiba-tiba Abu Tholhah al-Anshoriy radhiallaahu’anhu bangkit dihadapan Rasulullah seraya berkata:

إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ، أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ، فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّه

“Sesungguhnya harta yang paling aku sayangi adalah sebidang (kebun luas dengan airnya yang segar di depan Masjid Nabawi bernama-pent) Bairuhaa’. Kebun tersebut aku sedekahkan (semuanya) di jalan Allah. Aku berharap keberkahannya dan ganjarannya di sisi Allah. Maka gunakanlah (sedekah tersebut) sebagaimana yang Allah inginkan melalui dirimu wahai Rasulullah.”   [Shahih Bukhari: 1461, Shahih Muslim: 998]

Rasulullah bahkan sampai takjub dengan besarnya pengorbanan harta tersebut, sampai-sampai beliau mengatakan: “Bakhin.., Bakhin…” (ungkapan dalam bahasa arab yang menunjukkan rasa takjub dan terkesima pada suatu perkara yang besar-Ta’liq Fuad Abdul Baqi-Shahih Muslim: 2/693)

Kisah banjirnya madinah dengan air khomr (karena gentong-gentong miras yang dipecahkan dan ditumpahkan) setelah turunnya ayat yang mengharamkan khomr secara total (QS. al-Maa-idah: 90-91), adalah kisah yang menggambarkan betapa tunduknya hati para sahabat pada ayat-ayat Allah. Jangan lupakan kisah para shahabiyyah yang bergegas menyelubungi diri mereka dengan kain-kain yang ada, sesaat setelah mereka mendengar turunnya ayat (QS. an-Nuur: 31) yang mewajibkan khimar (kain penutup) bagi wanita [Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir: 1/546 dan 2/600].

Demikianlah sebagian kecil kisah tentang salaf dan al-Qur’an. Sungguh, tinta sejarah tak akan sanggup menuliskan seluruh kisah fenomenal para salaf dalam hal ketundukan dan kelembutan hati ketika ayat-ayat Qur’ani melintas di hati mereka.

Bagaimana Kita Bisa Seperti Mereka?

Setidaknya ada beberapa faktor kunci yang menjadikan para sahabat mampu merasakan kutanya pengaruh ayat-ayat Allah di hati mereka:

Pertama; para sahabat segera menghafalkan ayat-ayat yang turun kepada Nabi, dan itu terjadi secara berangsur-angsur, setahap demi setahap. Inilah yang patut kita tiru, menghafal al-Qur’an sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Kedua; melakukan tadabbur dan tafakkur. Para sahabat benar-benar memahami dan merasakan makna sesungguhnya dari ayat-ayat yang mereka dengar dan baca. Karena al-Qur’an turun dalam bahasa mereka, bahasa Arab yang fasih dan murni, yang bertengger di puncak keindahan serta kekuatan ungkapan. Maka untuk bisa merasakan apa yang mereka (salafush shalih) rasakan ketika mendengar ayat-ayat Allah, penguasaan bahasa Arab adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Ditambah lagi dengan tafsiran yang mereka pelajari langsung dari Rasulullah, melalui hadits-hadits dan praktek sunnah beliau sehari-hari. Inilah fase inti yang kedua, yaitu fase ilmu[2]. Di sinilah awal mula datangnya barokah al-Qur’an.

Karena Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Yang diwahyukan kepadamu ini wahai Rasul adalah) Kitab yang telah Kami turunkan kepadamu yang penuh keberkahan, agar mereka mentadabburi (memikirkan dan mengamalkan petunjuk) ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran.” [QS. Shaad: 29]

asy-Syaikh Kholid bin Abdillah al-Mushlih mengungkapkan isyarat lembut di balik ayat tersebut, bahwa:

ليحصل لهم التدبر ولا سبيل لتحصيل بركة الكتاب إلا بهذا

“(al-Qur’an diturunkan) agar makna-maknanya ditadabburi, dan tidak ada jalan untuk meraih barokah al-Qur’an kecuali dengan tadabbur.”

Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu’anhu pernah berkata:

لاَ تَنْثُرُوْهُ نَثْرَ الدَّقَلِ وَلاَ تَهُذُّوْهُ هَذَّ الشِّعْرِ قِفُوْا عِنْدَ عَجَائِبِهِ وَحَرِّكُوْا بِهِ الْقُلُوْبَ

“Janganlah kalian membaca al-Qur’an layaknya kurma yang rontok dan berhamburan, jangan kalian membaca al-Qur’an seperti kalian membaca sya’ir (tergesa-tergesa, sehingga kalian tidak bisa meresapi maknanya-pent), berhentilah sejenak (demi menghayati) keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati kalian dengannya.”

Ketiga; para sahabat mempelajari al-Qur’an, memahami tafsirnya yang haq, bahkan berulang-ulang membaca satu ayat agar bisa mentadabburinya, tujuan utama mereka adalah; agar bisa mengamalkan kandungan ayat dengan sebenar-benarnya, sesuai keinginan Allah yang menurunkan ayat tersebut.

Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu’anhu mengatakan:

 كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتَّى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَالْعَمَلَ بِهِنَّ

“Dahulu di seseorang antara kami, jika tengah mempelajari sepuluh ayat, maka ia tidak lewat dari sepuluh ayat tersebut sampai ia benar-benar memahami maknanya dan beramal dengan kandungannya.”

Kesimpulannya, para sahabat mampu merasakan kedahsyatan al-Qur’an di hati-hati mereka dan mampu menciptakan perubahan (bahkan bagi peradaban), karena mereka melalui tiga fase yang tidak terpisahkan; menghafal, mengilmui, dan mengamalkan. Betapa banyak di antara kita yang menghafal ayat-ayat pendek, namun tidak pernah terlintas dalam benak kita untuk mempelajari kandungannya, lalu bagaimana mungkin mengamalkannya?. Seolah al-Qur’an hanya sekedar karya artistik kaligrafi dan hanya hiburan layaknya musik di telinga. Wajar jika tangisan sholat malam tidak mampu melewati pagar masjid. Di luar masjid, kita kembali pada kebiasaan lama, tenggelam dalam maksiat dan perkara sia-sia.

***

Penyusun:

Johan Saputra Halim

(saputrahalim@gmail.com)

Editor: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc.

(Pimpinan Ponpes Abu Hurairah Mataram-NTB)


[1]  Tafsiran Waqi’ dari ‘Amr bin Maimuun [lih. Mukhtasor Tafsir Ibn Katsir: 1/299, dan at-Tafsir al-Muyassar: 62]

[2]  Kedua hal di atas (fase menghafal, lalu fase ilmu) telah tersirat perintahnya dalam ayat:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Kamilah yang akan mengumpulkan (al-Qur’an itu) di dadamu (wahai Muhammad) agar engkau bisa membacanya kapan pun. Maka jika Kami membacakan (al-Qur’an itu), dengarkan lalu ikuti bacaan tersebut. Selanjutnya Kamilah yang akan menjelaskan apa-apa yang tidak kau pahami, dari makna, dan hukum-hukum yang terkandung dalam ayat tersebut.” [QS. al-Qiyaamah: 17-19, at-Tafsir al-Muyassar: 577]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: