1 Komentar

Bersatu Bersama Ulil Amri Dalam ‘Ibadah Jama’iyyah

Jika Hilal Syawwal Bisa Terlihat, Namun Tidak Bagi Sebagian Orang

Berikut ini adalah hadits yang kami nukilkan dari al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassaroh (3/209, cet.-1 Maktabah Islamiyyah) karya Syaikh Husein al-‘Uwaayisyah.

عَن أبي عُمَيْر بن أَنَس بن مَالِك قال: “حدَّثنِي عُمُوْمَتِي مِن الأنْصار مِن أَصْحاب رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قالوا: أُغْمِي علينا هِلاَلُ شَوَّالٍ، فَأصْبَحْنا صِياماً، فجاء رَكْبٌ مِن آخر النَّهار، فشَهِدوا عِنْد النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أنَّهم رَأَوْا الْهِلاَل بالأمْسِ. فأمَرَهُم رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أن يُفْطِرُوا، وَأَنْ يَخْرُجُوْا إِلى عِيْدِهِمْ مِن الْغَد”

“Dari Abu ‘Umair bin Anas bin Malik, dia berkata: “Paman-pamanku, sahabat Rasulullah dari kalangan Anshor, mengabarkan padaku: “Pernah suatu ketika kami terhalang oleh awan ketika melakukan ru’yat hilal penentuan awal Syawwal, maka kami pun berpuasa (menyempurnakan Ramadhan 30 hari).  Tiba-tiba di penghujung hari, datanglah rombongan kafilah, mereka bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka telah melihat hilal Syawwal kemarin petang. Maka Rasulullah memerintahkan orang-orang untuk berbuka (membatalkan puasa), dan menunaikan hari raya keesokan harinya.” [HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, an-Nasaa-I, Shahih Sunan Ibni Majah no. 1340, al-Irwaa’ no. 634]

Fiqih Hadits

Berdasarkan hadits di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa ‘Iedul Fithri boleh dilakukan pada tanggal 2 Syawwal berdasarkan seruan Ulil Amri (Pemerintah) jika ada sebab-sebab tertentu yang melatarbelakanginya seperti kisah di atas.

Maka tidak ada lagi alasan untuk tidak berhari raya bersama Ulil Amri. Kalau toh kita bisa menerima sikap berbeda dari sebagian orang yang berpuasa hanya 29 hari (sementara Ulil Amri berdasarkan hasil ru’yat menetapkan—misalkan—30 hari), namun untuk urusan berhari raya yang jelas-jelas menjadi syi’ar terbesar persatuan kaum muslimin, maka pemisahan diri dari Ulil Amri dan jama’ah kaum muslimin dalam masalah ini, sama sekali tidak bisa diterima.

Penjelasan Para Ulama

Mari sejenak merenungkan hadits shahih berikut ini (kami nukil dari Sunan at-Tirmidzi no. 697):

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.

“(Hari) berpuasa adalah adalah hari di mana kalian semua berpuasa, dan hari ‘Idul Fithri kalian adalah hari di mana kalian semua melaksanakan ‘Idul Fihtri, (demikian pula) hari ‘Idul Adh-ha kalian adalah hari di mana kalian semua melakukan ‘Idul Adh-ha.” [Lihat takhrij-nya di Silsilah ash-Shahihah no. 224, al-Albani]

Setelah membawakan hadits tersebut, Imam at-Tirmidzi rahimahullah (wafat: 279-H) mengatakan:

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذَا الحَدِيثَ، فَقَالَ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالفِطْرَ مَعَ الجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ.

“Sebagian ‘ulama menafsirkan hadits ini. Mereka mengatakan: ‘Hadits ini memiliki pengertian bahwasanya puasa (Ramadhan) dan ‘Idul Fithri itu dilaksanakan bersama jama’ah (kaum muslimin) dan mayoritas manusia (bersama Ulil Amri-pent).”

Imam Muhammad bin Isma’il ash-Shan’aaniy rahimahullah (wafat: 1182-H) juga mengatakan dalam Subulus Salaam (1/425, Cet. Daarul Hadits):

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يُعْتَبَرُ فِي ثُبُوتِ الْعِيدِ الْمُوَافَقَةُ لِلنَّاسِ، وَأَنَّ الْمُنْفَرِدَ بِمَعْرِفَةِ يَوْمِ الْعِيدِ بِالرُّؤْيَةِ يَجِبُ عَلَيْهِ مُوَافَقَةُ غَيْرِهِ

“Dalam hadits tersebut, terdapat dalil bahwa ketetapan waktu hari raya itu didasarkan pada apa yang disepakati oleh masyarakat (berdasarkan permakluman hasil ru’yat dari pemerintah-pent), dan orang yang mengaku telah melihat hilal secara menyendiri, tetap wajib bagi dia untuk mengikuti warga masyarakat (yang berhari raya bersama pemerintah-pent).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah mengatakan dalam Tahdziibus Sunan (3/214):

وقيل: فيه الرد على من يقول إن من عرف طلوع القمر بتقدير حساب المنازل جاز له أن يصوم ويفطر، دون من لم يعلم، وقيل: إن الشاهد الواحد إذا رأى الهلال ولم يحكم القاضي بشهادته أنه لا يكون هذا له صوما، كما لم يكن للناس

“Dikatakan bahwa (dalam hadits tersebut) terdapat sanggahan terhadap orang-orang yang berpendapat bolehnya bagi seseorang yang mengetahui telah terbitnya bulan dengan metode hisab, untuk mulai berpuasa atau mengakhiri puasa, dan boleh baginya untuk tidak mengikuti keumuman manusia. Dan dikatakan pula bahwa jika seseorang bersaksi telah melihat hilal, namun hakim (ulil amri) menolak kesaksiannya, maka dia tetap tidak berhak untuk memulai puasa sendiri, sebagaimana tidak berhaknya manusia yang lain.” [Dinukil dari ash-Shahiihah: 1/443, al-Albani]

Imam Abul Hasan as-Sindi rahimahullaah mengomentari hadits di atas dalam Haasyiah Ibni Maajah:

والظاهر أن معناه أن هذه الأمور ليس للآحاد فيها دخل، وليس لهم التفرد فيها، بل الأمر فيها إلى الإمام والجماعة، ويجب على الآحاد اتباعهم للإمام والجماعة، وعلى هذا، فإذا رأى أحد الهلال، ورد الإمام شهادته ينبغي أن لا يثبت في حقه شيء من هذه الأمور، ويجب عليه أن يتبع الجماعة في ذلك

“Secara zhahir, makna hadits di atas menunjukkan bahwa perkara ini (ibadah jamaa’i seperti; hari raya, dll) bukanlah perkara yang bisa dilakukan oleh setiap individu. Tidak boleh bagi masing-masing pribadi untuk menyendiri dalam hal ini. Perkaranya kembali kepada Imam (pemimpin) dan jama’ah (kaum muslimin). Wajib bagi setiap individu untuk mengikuti imam dan jamaa’ah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal, dan Imam menolak persaksiannya, maka dia tidak boleh menentukan sikap sendiri, dan wajib bagi dia untuk mengikuti jama’ah dalam hal tersebut.” [Dinukil dari ash-Shahiihah: 1/443, al-Albani]

Imam al-Albani rahimahullaah mengatakan:

وهذا المعنى هو المتبادر من الحديث، ويؤيده احتجاج عائشة به على مسروق حين امتنع من صيام يوم عرفة خشية أن يكون يوم النحر، فبينت له أنه لا عبرة برأيه وأن عليه اتباع الجماعة فقالت: النحر يوم ينحر الناس، والفطر يوم يفطر الناس

“Inilah makna yang terlintas dari hadits (di atas). Hal ini semakin diperkuat oleh argumentasi ‘Aisyah radhiallaahu’anha terhadap Masruuq ketika dia tidak berpuasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) karena kuatir hari itu adalah hari raya kurban (10 Dzulhijjah yang tidak dibolehkan berpuasa). Maka ‘Aisyah menjelaskan kepadanya bahwa anggapannya itu tidak bisa dijadikan dasar (alasan untuk tidak berpuasa), dan bahwa dia tetap wajib untuk mengikuti jamaa’ah. ‘Aisyah radhiallaahu’anha berkata: ‘Hari raya kurban, adalah hari di mana manusia berhari raya kurban, dan hari ‘Idul Fithri adalah hari saat manusia melaksanakan ‘Idul Fithri.”

Hikmah di Balik Kewajiban Bersatu dalam Ibadah Jamaa’iyyah

Imam al-Albani rahimahullaah lanjut mengatakan:

وهذا هو اللائق بالشريعة السمحة التي من غاياتها تجميع الناس وتوحيد صفوفهم، وإبعادهم عن كل ما يفرق جمعهم من الآراء الفردية، فلا تعتبر الشريعة رأي الفرد – ولو كان صوابا في وجهة نظره – في عبادة جماعية كالصوم والتعبيد وصلاة الجماعة

“Dan inilah yang pantas bagi syari’at yang mudah dan toleran, yang mana di antara tujuannya adalah persatuan manusia dan kesatuan barisan mereka serta jauhnya mereka dari segala sesuatu yang bisa memecahbelah persatuan mereka dari pendapat-pendapat pribadi atau kelompok. Syari’at tidak menerima pendapat pribadi (sekalipun itu benar secara pribadi) dalam urusan ibadah jamaa’iyyah (yang dilakukan secara serentak oleh segenap kaum muslimin bersama Ulil Amri-pent) seperti puasa Ramadhan, hari raya, dan sholat berjama’ah.

ألا ترى أن الصحابة رضي الله عنهم كان يصلي بعضهم وراء بعض وفيهم من يرى أن مس المرأة والعضو وخروج الدم من نواقض الوضوء، ومنهم من لا يرى ذلك، ومنهم من يتم في السفر، ومنهم من يقصر، فلم يكن اختلافهم هذا وغيره ليمنعهم من الاجتماع في الصلاة وراء الإمام الواحد، والاعتداد بها، وذلك لعلمهم بأن التفرق في الدين شر من الاختلاف في بعض الآراء

“Tidakkah engkau melihat bagaimana para sahabat (semoga Allah meridhai mereka) menjadi makmum shalat di belakang sahabat yang lain, padahal di antara mereka (ada yang memiliki pendapat fiqih yang berbeda-pent), ada yang menganggap bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah (selain haidh & nifas-pent) sebagai perkara yang membatalkan wudhu’, sementara sahabat yang lain tidak berpendapat demikian. Di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat ketika safar, ada pula yang meng-qashar (dari 4 menjadi 2 raka’at-pent). Namun perbedaan pendapat (dalam masalah cabang fiqih-pent) yang terjadi di antara mereka, tidak mencegah persatuan dan perhatian mereka dalam urusan shalat jama’ah di belakang imam yang satu. Karena mereka mengetahui bahwasanya perpecahan dalam urusan agama jauh lebih buruk dibanding perselisihan pada sebagian pendapat.”

Kemudian Syaikh al-Albani membawakan riwayat berikut ini sebagai dalil:

فروى أبو داود (1 / 307) أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه: صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين، ومع أبي بكر ركعتين، ومع عمر ركعتين، ومع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا! فقيل له: عبت على عثمان ثم صليت أربعا؟ ! قال: الخلاف شر. وسنده صحيح. وروى أحمد (5 / 155) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين.

“Abu Dawud (1/307) meriwayatkan bahwasanya ‘Utsman radhiallaahu’anhu memimpin shalat (dalam kondisi safar-pent) di Mina sebanyak 4 raka’at. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu’anhu lantas berkata mengisyaratkan ketidaksetujuannya (dari sudut pandang fiqih-pent) dengan apa yang dilakukan ‘Utsman: ‘Aku shalat (di Mina dalam kondisi safar-pent) bersama Rasulullah 2 raka’at, bersama Abu Bakar radhiallaahu’anhu juga 2 raka’at, bersama ‘Umar radhiallaahu’anhu juga 2 raka’at (serta bersama ‘Utsaman sendiri di awal kekhalifahannya 2 raka’at). Maka ada yang berkata padanya: ‘Engkau mengkritisi ‘Utsman, lantas kenapa engkau justru ikut menyempurnakan shalat (4 raka’at) mengikuti ‘Utsman?’ ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab: ‘perselisihan (dalam masalah ibadah jamaa’iyyah-pent) adalah perkara yang (jauh lebih-pent) buruk.”

Sanad riwayat tersebut shahih. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (5/155) seperti di atas dari Abi Dzar al-Ghifari radhiallahu’anhum ajma’iin (semoga Allah meridhai mereka semuanya).

[Dinukil dari ash-Shahiihah: 1/443-444, Imam al-Albani rahimahullaah]

Fatwa al-Lajnah ad-Daa-imah (No. 1116)

س: سمع إذاعة القاهرة وإذاعة الكويت تذيعان أن الأحد هو يوم العيد وأنه أفطر ذلك اليوم، مع العلم أن إذاعة الرياض أذاعت أن العيد هو يوم الاثنين. فما الذي يلزمه؟

Pertanyaan:

Seorang penanya mendengar siaran Kairo dan Kuwait yang menyiarkan bahwa hari Ahad adalah hari ‘Idul Fithri, maka ia pun tidak berpuasa pada hari tersebut, padahal dia tahu bahwa siaran Riyadh telah mengumumkan ‘Idul Fithri jatuh pada hari Senin. Mana yang harus ia ikuti?

ج1: إذا كان المستفتي مقيما في بلادنا السعودية ليلة الأحد ويومه فيلزمه الالتزام بما التزمت به من أن يوم الأحد يوم من رمضان؛ لعدم ثبوت ما يثبت عند غيرها من أنه أول شهر شوال، وعليه فيلزمه قضاء ذلك اليوم والاستغفار عن الشذوذ عن المسلمين في بلادنا، وعدم العودة لمثل ذلك.

Jawaban:

Jika pada malam dan hari Ahad tersebut si penanya menetap di negeri kita, Saudi Arabia, maka dia wajib mengikuti ketetapan pemerintah Saudi bahwa hari Ahad masih terhitung Ramadhan, dikarenakan tidak adanya bukti meyakinkan bagi pemerintah Saudi yang boleh jadi (bukti tersebut) ada bagi negeri lain, bahwa hari (Ahad) tersebut adalah permulaan bulan Syawwal. Maka wajib bagi si penanya untuk meng-qadha’ puasa hari Ahad tersebut, dibarengi dengan istigfar, memohon ampun karena telah bersikap nyeleneh (dari persatuan kaum muslimin dalam ibadah jamaa’iyyah-pent) di negeri kita, dan dia tidak boleh mengulanginya lagi.

Fatwa al-Lajnah ad-Daa-imah (No. 388)

Pada kesempatan lain, al-Lajnah mengatakan:

ولا حرج على أهل أي بلد إذا لم يروا الهلال ليلة الثلاثين أن يأخذوا برؤيته في غير مطلعهم متى ثبت ذلك لديهم، فإذا اختلفوا فيما بينهم أخذوا بحكم الحاكم في دولتهم؛ إن كان الحاكم مسلما، فإن حكمه بأحد القولين يرفع الخلاف، ويلزم الأمة العمل به، وإن لم يكن مسلما أخذوا بحكم مجلس المركز الإسلامي في بلادهم؛ محافظة على الوحدة في صومهم رمضان وصلاتهم العيد في بلادهم.

“Tidak mengapa bagi penduduk suatu negeri, jika mereka belum melihat hilal, untuk memakai pengamatan hilal di negeri yang berbeda jika hal tersebut dapat mereka yakini. Jika mereka berselisih dalam hal pengamatan, maka dibawa perkaranya ke hakim di negeri mereka. Jika hakimnya seorang muslim, maka keputusan hakim yang memilih salah satu hasil pengamatan, bersifat final dan mengikat bagi yang lain. Setelah ada putusan hakim, tidak boleh ada perbedaan. Jika hakimnya non-muslim, maka yang dijadikan hakim adalah Majelis Islamic Centre yang ada di negeri mereka. Demi menjaga persatuan kaum muslimin dalam (ibadah jamaa’iyyah) puasa Ramadhan dan Shalat ‘Ied di negeri mereka.

***

 Inggos-Lotim, 29 Ramadhan 1433 / 17-08-2012

Abu Ziyan (Johan Saputra Halim)

e-mail: saputrahalim@gmail.com

 

Muraja’ah:

Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc.

One comment on “Bersatu Bersama Ulil Amri Dalam ‘Ibadah Jama’iyyah

  1. Demikian juga IDUL ADHA..

    Ada yang ketinggalan dari perkataan Imam ash Shan’ani:

    dan merupakan kelaziman baginya hukum mereka dalam shalat, berbuka dan BERKURBAN…”

    (Subulussalam 2/462)

    Dan HARB berkata:

    وهو مذهب أحمد، وإسحاق بن إبراهيم، وعبد الله بن مخلد وعبد الله بن الزبير الحميدي ،وسعد بن منصور، وغيرهم ممن جالسنا ،وأخذنا عنهم العلم

    “dan ini adalah madzhab (pendapat) Ahmad, Ishaq bin Ibrohim, Abdullah bin Mukhollad, Abdullah bin az-Zubair al-Humaidi, Sa’ad bin Manshur, dan yang selain mereka dari para ‘ulama yang kami duduk dan mengambil ‘ilmu dari mereka.

    وكان من قولهم …. والجمعة والعيدان، والحج مع السلطان، وإن لم يكونوا بررة عدولاً أتقياء، ودفع الصدقات، والخراج والأعشار والفيء، والغنائم إليهم، عدلوا فيها، أو جاروا … ا هـ

    dan diantara perkataan mereka : “….dan sholat jum’at, SHALAT DUA ‘IID, dan haji bersama penguasa, walaupun mereka bukan orang yang baik, adil dan bertaqwa. Dan menyerahkan shodaqoh-shodaqoh, al-A’syar, fai’, dan ghonimah kepada mereka, walaupun mereka adil atau dzolim….”

    [Dinukil oleh IBNUL QAYYIM dalam Hadi al-Arwah hal. 399]

    Imam ash-Shabuni Berkata :

    “Ahlul hadits berpendapat untuk menegakkan shalat Jum’at dan DUA (SHALAT) ‘IID dan lain-lain dari shalat-shalat jama’ah di belakang SETIAP PENGUASA MUSLIM yang baik atau pun yang jahat. mereka berpendapat untuk berjihad memerangi orang-orang kafir bersama mereka, walaupun penguasa tersebut dhalim dan jahat.”

    (Aqidatus Salaf ash-Habul Hadits hal. 102)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: