Tinggalkan komentar

Lantas, “Apa Setelah Ramadhan..??”

Ada satu pertanyaan yang senantiasa mengayun di serambi hati, saat rembulan Syawwal—yang indah itu—akhirnya tersenyum lagi menyapa bumi. Tentang Ramadhan kah? Yap, apakah dia yang baru saja lewat menyapa dengan salam perpisahan, ataukah justru kita yang lebih dulu melambaikan kepadanya tangan kebebasan?

Wahai sobat! Garisbawahi kata “kebebasan”, lalu pandanglah ia dengan mata hati barang sejenak. Kebebasan dari apa? Kebebasan dari murka Allah kah? Atau mungkin kebebasan dari “Penjara Ramadhan” yang membelenggu? Orang arif mungkin tidak setuju dengan ungkapan “Penjara Ramadhan”, namun realitanya?

Gemuruh takbir malam lebaran seolah hanya terompet pertanda gerbang pelampiasan telah dibuka kembali. Lapar dan dahaga yang kita rasakan sebulan penuh di jalan Allah, sepertinya tak berbekas . Shalat yang kita dirikan di penghujung malam seakan hanya tinggal cerita. Yang terlintas di benak hanyalah “apa yang harus kita persiapkan demi pesta perayaan?”.  Tidak jarang—bahkan terlalu sering—detik-detik perpisahan dengan Ramadhan justru kita rayakan dengan pengkhianatan pada Ilahi. Berhura-hura, berfoya-foya, dan memamerkan keangkuhan, adalah sebagian kecil kealpaan kita yang paling ringan saat itu.

Kita lupa bahwa lapar dan dahaga yang kita rasakan sebulan penuh, sejatinya “menceritakan” pada kita beragam kisah, bahwa di sana masih banyak anak-anak yang tak pernah bisa menikmati kue-kue lebaran buatan sang bunda, tak ada baju baru pembelian sang ayah. Melewati malam lebaran dengan pakaian yatim bukanlah keinginan mereka. Menyapa dinginnya fajar Syawwal di balik selimut piatu bukanlah mimpi yang mereka harapkan.

Kita lupa bahwa setiap sujud yang kita haturkan bagi Sang Pencipta sepanjang malam Ramadhan, sejatinya mengajarkan betapa pakaian kehinaan senantiasa menyelubungi aurat dan borok-borok di sekujur jiwa dan raga kita di hadapan Ilahi. Juga bahwasanya “Selendang Keagungan dan Kebesaran”, selamanya akan menjadi milik-Nya semata. Sehingga tak pantas sedikitpun kita tersenyum dengan senyum keangkuhan pada si miskin penerima zakat, tak layak secuil pun kita menganggap hina mereka, kaum papa yang meminta-minta. Sungguh kebutuhan kita akan ampunan Allah (melalui zakat dan sedekah yang kita tunaikan), jauh lebih besar daripada kebutuhan fakir miskin terhadap harta-harta yang kita miliki, sebesar apapun kita menginfakkannya.

Kita lupa—atau mungkin pura-pura lupa—bahwa predikat kelulusan dari madrasah Ramadhan adalah takwa; ditandai dengan hati yang bertambah khusyu’ dan lembut, kasing sayang pada sesama yang semakin mengakar, dan tulusnya pengabdian pada titah-titah Ilahi yang semakin menjulang.

Kado Ilahi yang Terabaikan…

Ramadhan adalah “Kado Ilahi” bagi segenap hamba. Segenap rahmat dan keberkahan yang turun saat itu, seolah hujan lebat yang mengguyur. Pintu ampunan tak pernah berhias seindah waktu itu, seolah ingin menyambut putra-putri surgawi yang telah lama hilang dan ingin kembali.

Lantas, apa yang telah kita raih dari Ramadhan? Pelajaran apa yang bisa membangunkan kita dari kelalaian, jika Ramadhan tak mampu kita jadikan sebagai momentum mengambil pelajaran? Jika berlalunya Ramadhan tidak menjadikan dosa-dosa kita berguguran, lalu adakah waktu lain yang mungkin menggugurkannya? Jika surga Allah tidak mampu kita beli melalui keberkahan Ramadhan, lantas bulan apa lagi yang memungkinkan kita untuk mampu membelinya?

 “Siapa saja yang diharamkan meraih kebaikan dan keberkahan Ramadhan, sungguh dia benar-benar telah diharamkan untuk meraih kebaikan dan keberkahan, (karena di luar Ramadhan, lebih tidak mungkin lagi untuk meraihnya).”

Tidak heran jika orang bijak dahulu mengatakan:

إذَا الرَّوْضُ أَمْسَى مُجْدِبًا فِيْ رَبِيْعِهِ        فَفِيْ أَيِّ حِيْنٍ يَسْتَنِيْرُ وَيَخْصِبُ

“Saat kebun menjadi tandus di musim semi”

“Lantas, di musim mana lagi ia dapat berseri-seri melimpahkan buah?”

Ada lagi yang mengatakan:

ذَهَبَ شَهْرُ الْخَيْرِ وَالإِحْسَانِ وَانْصَرَمَا            وَاخْتَصَّ بِالْفَوْزِ بِالـجَنَّاتِ مَنْ خَدَمَا

وَأَصْبَحَ الْغَافِلُ الْمِسْكِيْنُ مُنْكَسِـــــــــــــــــــرًا             مِثْلِيْ فَيَا وَيْلَهُ يَا عَظِيْم مَا حُرِمَـــــــــــــــــا

مَنْ فَاتَهُ الزَّرْعُ فِيْ وَقْتِ الْبِدَارِ فَمَــــــــــــــا             تَـــــــــــرَاهُ يَحْصِدُ إلاَّ الْهَـــــــــــمَّ وَالنَّدَمَــــــــــــــــــــا

“Bulan penuh kebaikan dan ihsan telah pergi dan berlalu”

“Mereka yang jaya meraih taman-taman surga, hanyalah orang-orang yang berkhidmat (dalam ibadah)”

“Jadilah si kerdil yang lalai tertunduk hina”

“SEPERTI AKU INI, aduh betapa celakanya dia, betapa besar (rahmat & ampunan) yang luput darinya”

“Siapa saja yang terlewatkan menanam benih di musim menanam benih”

“Niscaya engkau tak akan melihatnya menuai, melainkan kesedihan dan penyesalan”

Semoga di Dermaga Berikutnya…

Ramadhan adalah dermaga tuk mengisi bekal. Perjalanan masih panjang. Ujian sesungguhnya ada pada sebelas bulan ke depan. Sampai kita merapat ke dermaga Ramadhan berikutnya, akan selalu ada pertanyaan di setiap tetes air mata di hari lebaran, apakah air mata kebebasan tuk kembali pada kebiasaan lama, ataukah air mata kesedihan karena perpisahan dengan Ramadhan. Jawaban dari pertanyaan tersebut, adalah jawaban dari pertanyaan sebelumnya, antara siapa yang sebenarnya mengucap salam perpisahan, kita atau Ramadhan… .

Ya Rabb, aku telah menjauh dan menolak panggilan Ramadhan-Mu kali ini. Namun, ku mohon, jangan biarkan rasa penuh harap tuk berjumpa dengannya, sirna dari dadaku.

***

Kelayu-Lotim, “H” plus dua 1433-H/2012

Jo Saputra halim (Abi Ziyan)

http://facebook.com/jo.saputra.halim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: