Tinggalkan komentar

Boleh “Qadha’ + Syawwal” Sekaligus Nggak..?? Yang Mana Lebih Dulu..??

Keutamaan Puasa Syawwal

Berpuasa 6 hari di bulan Syawwal punya keutamaan yang besar di sisi Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat, Abu Ayyub al-Anshory radhiallaahu’anhu[1]:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu melanjutkannya dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawwal (selain 1 Syawwal), maka seolah-olah dia telah berpuasa setahun penuh.” [2]

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

جَعَلَ اللهُ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَشَهْرٌ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ تَمَامُ السَّنَةِ

“Allah telah menetapkan bahwa satu kebaikan dibalas 10 kali lipat kebaikan, maka (puasa Ramadhan selama) sebulan sama dengan puasa 10 bulan, dan puasa 6 hari setelah ‘Idul Fithri (sama dengan 2 bulan sehingga) menyempurnakannya menjadi setahun.”[3]

Jika Masih Punya Hutang Puasa Ramadhan..??

Namun jika seseorang punya hutang puasa Ramadhan yang harus di-qadha’, apa yang semestinya ia lakukan jika ingin berpuasa 6 hari di bulan Syawwal?

  1. Apakah harus menunaikan qadha’ terlebih dahulu lalu berpuasa Syawwal?
  2. Atau boleh bagi dia untuk mendahulukan puasa Syawwal (yang hukumnya sunnah) dan mengakhirkan penunaian qadha’ Ramadhan (yang hukumnya wajib)?
  3. Ataukah dia boleh melakukan tasyriikun niyyah; yaitu menggabung pelaksanaan puasa qadha’ dengan puasa Syawwal dalam satu niat?

Jawaban:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan boleh mendahulukan puasa Syawwal yang sunnah daripada qadha’ Ramadhan yang bersifat wajib. Alasan mereka; tidak ada dalil tegas yang melarang hal tersebut. Menurut mereka, kaidah “yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah” tidak berlaku dalam masalah ini. Karena dulu istri Nabi, ‘Aisyah radhiallahu’anha, pernah menunaikan qadha’ Ramadhan di bulan Sya’ban. Sementara mustahil, ‘Aisyah luput melaksanakan puasa Syawwal, karena beliau (seperti shahabah dan shahabiyyah yang lain), adalah orang yang paling “rakus” terhadap pahala dan ganjaran kebaikan dari Allah.

Para ulama yang lain mengatakan; qadha’ Ramadhan harus ditunaikan terlebih dahulu, baru kemudian puasa Syawwal. Inilah pendapat yang saya pilih (secara pribadi). Mengenai argumentasinya, kita serahkan saja pada pakarnya untuk memaparkan. Berkata Faqiihuz Zamaan al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah:

أما صيام الست فلا يصح أن تجعلها عن قضاء رمضان لأن أيام الست تابعة لرمضان فهي بمنزلة الراتبة للصلاة المفروضة كما قال النبي صلى الله عليه وسلم (من صام رمضان ثم أتبعه ستة من شوال كان كصيام الدهر) والنبي عليه الصلاة والسلام في هذا الحديث جعلها تابعة لشهر رمضان وما كان تابع للشيء فإنه لا يغني عنه

“Adapun puasa 6 hari (di bulan Syawwal) maka tidak benar jika Anda menjadikannya sekalian sebagai qadha’ Ramadhan. Karena puasa 6 hari tersebut sejatinya adalah penyempurna yang mengikuti puasa Ramadhan setelahnya. Kedudukannya sama persis dengan Shalat Rawaatib pada Shalat Fardhu. Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu melanjutkannya dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawwal (selain 1 Syawwal-pent), seolah-olah dia telah berpuasa setahun penuh’. Pada hadits ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa 6 hari tersebut sebagai penyempurna yang mengikuti puasa Ramadhan setelahnya. Sesuatu yang mengikuti (dalam hal ini puasa Syawwal), tentu tidak berarti apa-apa jika sesuatu yang diikuti (yaitu puasa Ramadhan) belum ada atau belum ditunaikan secara sempurna.

تقديم الست على قضاء رمضان لا يحصل به الأجر الذي رتب النبي صلى الله عليه وسلم على صيامها بعد رمضان لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول (من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال) ومن كان عليه قضاء فإنه لا يطلق عليه أن يكون قد صام رمضان بل لا بد من صيام الشهر كله أداء وقضاء ثم بعد ذلك يصوم هذه الأيام الستة

“Mendahulukan puasa Syawwal dari qadha’ Ramadhan, tidak menjadikan seseorang meraih pahala puasa Syawwal yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam janjikan bagi orang-orang yang telah menunaikan puasa Ramadhan. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (sebagaimana hadits Abu Ayyub al-Anshory di atas). Jadi, bagi orang yang masih punya hutang puasa Ramadhan, maka dia belum bisa dikatakan telah menunaikan puasa Ramadhan. Dia harus menunaikan puasa Ramadhan seluruhnya termasuk yang harus di-qadha’, barulah kemudian dia berpuasa 6 hari Syawwal.

وأما إذا نوى بصيام يوم عاشوراء نوى به القضاء فإننا نرجو أن يحصل له القضاء وثواب اليوم لأن الظاهر أن المقصود هو أن يصوم ذلك اليوم وكذلك إذا صام يوم عرفة عن قضاء رمضان فإننا نرجو له أن يحصل له الأمران جميعاً وكذلك إذا صام ثلاثة عشرة وأربعة عشرة وخمسة عشرة من الشهر وهي أيام البيض ونواها عن قضاء رمضان فإننا نرجو أن يحصل له الثواب بالأمرين جميعاً وكذلك إذا صام يوم الخميس ويوم الاثنين عن قضاء رمضان فإننا نرجو أن يحصل له أجر القضاء وأجر صيام هذين اليومين.

Adapun jika seseorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) sekaligus diniatkan juga untuk menunaikan qadha’ Ramadhan, maka kita berharap hutang puasanya gugur dan mendapatkan pahala puasa ‘Asyura, karena secara zhahir (berdasarkan hadits tentang keutamaan puasa ‘Asyura-pent), yang penting bagi seseorang adalah berpuasa pada hari ‘Asyura tersebut, tidak ada prasyarat lain (beda halnya dengan puasa Syawwal yang mempersyaratkan telah ditunaikannya puasa Ramadhan-pent). Demikian pula jika dia berpuasa pada hari ‘Arafah sekaligus diniatkan untuk qadha’ Ramadhan, kita berharap dia memperoleh keduanya (pahala ‘Arafah sekaligus gugurnya hutang puasa-pent). Demikian juga halnya jika dia berpuasa ayyaamul biidh (puasa sunnah tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Qamariyah-pent) sekaligus diniatkan untuk menunaikan qadha’ Ramadhan, kita berharap dia memperoleh keduanya. Demikian pula jika dia berpuasa Senin-Kamis sekaligus qadha ‘Ramadhan, kita berharap dia mendapatkan pahala qadha’ dan juga pahala puasa sunnah Senin-Kamis[4].

Kesimpulannya..??

Menurut pendapat Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah (dan ini adalah pendapat yang paling kuat Insya Allah); untuk mendapatkan pahala puasa Syawwal, maka puasa Ramadhan harus sempurna. Jika masih ada hutang yang harus di-qadha’, maka ditunaikan terlebih dahulu qadha’-nya.

Tasyriikun niyyah (penggabungan niat ibadah) menurut Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah tidak berlaku pada puasa Syawwal dengan puasa qadha’ Ramadhan. Keduanya adalah ibadah yang harus dilakukan secara terpisah. Karena zhahir hadits Abu Ayyub al-Anshory radhiallaahu’anhu mengisyaratkan hal tersebut.

Kesimpulan yang sama juga dikeluarkan oleh Komisi Tetap untuk Fatwa (al-Lajnah ad-Daa-imah) Saudi Arabia, nomor fatwa: 17705 dan 18020.

Wallaahua’lam bish Shawaab.

***

Lombok, 05 Syawwal 1433 (23/08/2012)

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)


[1] Shahih Muslim: 1164.

[2]  Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan (Syarh Shahih Muslim: 8/56):

قَالَ أَصْحَابُنَا وَالْأَفْضَلُ أَنْ تُصَامَ السِّتَّةُ مُتَوَالِيَةً عَقِبَ يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عَنْ أَوَائِلِ شَوَّالٍ إِلَى أَوَاخِرِهِ حَصَلَتْ فَضِيلَةُ الْمُتَابَعَةِ لِأَنَّهُ يَصْدُقُ أَنَّهُ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ

“Berkata sahabat-sahabat kami (dari kalangan fuqaha’): yang lebih afdhal, (puasa Syawwal) dilakukan 6 hari berturut-turut setelah hari ‘Idul Fithri. Akan tetapi jika dilakukan secara terpisah (tidak berturut-turut), atau diakhirkan (tidak setelah hari ‘Id), juga boleh-boleh saja, keutamaan layaknya puasa setahun penuh tetap diraih, karena yang demikian juga termasuk menyempurnakan Ramadhan dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal.”

[3]  Shahih at-Targhiib wat Tarhiib: 1007, Imam al-Albani rahimahullaah.

[4] Fatawa Nuurin ‘alad Darb libni ‘Utsaimin, dinukil dari asy-Syamilah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: