Tinggalkan komentar

Siapa yang Lebih Bersyukur, Engkau atau Allah?

Telinga kita tidak asing lagi dengan ungkapan “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan untuk kalian.” Itu bukan sekedar ungkapan, sobat! Itu cuplikan alih bahasa dari firman Allah.

Begitu seringnya kalam Ilahi tersebut kita dengarkan, menjadikan  telinga kanan kita  “begitu hafalnya” sampai-sampai ia lemparkan begitu saja ke telinga kiri karena bosan. Telinga kiri pun tak jauh beda dengan telinga kanan, menjadikannya malas meneruskan kalam Ilahi tersebut ke dalam hati untuk diresapi dan direnungkan.

Tanpa bersyukur pun, makhluk melata bernama “manusia”, senantiasa dalam guyuran nikmat Ilahi. Bukankah ia, sebelum dilahirkan, berada dalam kegelapan dan kesendirian? Lantas menurutmu, siapa yang bisa memastikan ia terjamin dari kelaparan, kehausan,  dan rasa dingin yang menusuk, padahal ia tak membawa sehelai benang pun ketika dilahirkan? Siapakah yang telah memeliharanya dengan kasih sayang, siapakah yang telah memberinya makan dan minum hingga ia tumbuh dewasa, siapakah yang telah menjaganya dan memberikan perlindungan kepadanya?

Saat mata bisa menikmati indahnya senja, saat telinga bisa mendengarkan nyanyian burung, saat kulit bisa merasakan lembutnya belaian angin, saat hati merasakan kebahagiaan, dan saat……..(hitunglah sesukamu, bahkan sebanyak bintang di langit sekalipun).

Saat itulah kalimat syukur semestinya kita tampakkan, dengan lisan sebagai ikrar pengakuan, dengan hati sebagai bukti akan cinta (pada-Nya), dan dengan amal perbuatan sebagai bukti ketulusan syukur dan ketaatan[1]. Sekalipun itu adalah sebagian kecil nikmat yang kita kita rasakan (atau lebih tepatnya, “yang kita lalaikan”).

Saat engkau wahai sobat, telah menunaikan rasa syukur sebanyak bintang di langit. Maka camkanlah bahwa setiap rasa syukur yang terucap, membutuhkan syukur untuk mensyukurinya. Karena syukur adalah ibadah, dan ibadah sejatinya adalah anugrah Ilahi. Betapa tidak, Allah tidak butuh disembah dan diibadahi, kitalah yang membutuhkan ibadah (hanya) kepada-Nya.

Saat engkau wahai sobat, berada satu langkah lagi dari garis kematian, maka bersyukurlah, karena Allah dengan sifat Rahman-Nya telah memberikanmu dispensasi dalam syukur, Dia tidak membebanimu untuk bersyukur pada-Nya sebanyak nafas yang kau hirup, apalagi sebanyak bintang di langit.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” [QS. ar-Rahmaan:  13]

Dan saat terbukti bagimu wahai sobat, guyuran nikmat Ilahi yang terus membasahimu tatkala rasa syukur terukir dalam pola hidupmu, maka di saat itulah akan terlihat siapa sebenarnya yang lebih bersyukur, engkau atau Dia. Saat itu pula engkau akan memahami rahasia terdalam dari salah satu nama-Nya yang agung, “asy-Syakuur” (Yang Mahamensyukuri—ibadah hamba-Nya—)

***

Lombok, 08 Syawwal 1433-H / 26-08-2012

Johan Saputra Halim


[1] Saduran dari definisi “syukur” oleh Ibnul Qayyim rahimahullaah (wafat: 751-H) dari karyanya Madaarijus Saalikiin: 2/244.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: