5 Komentar

Di Balik Perjumpaan dengan Syaikh Ali Hasan al-Halaby

Sebuah kesempatan berharga bisa hadir di majelis orang-orang mulia. Berguru langsung dengan melihat adab dan akhlak mereka dalam berbicara dan berinteraksi. Tepatnya kemarin siang, Rabu, 03 Dzulqo’dah 1433 (19 September 2012), saya menghadiri udangan dari salah satu orangtua kami (dalam dakwah), yang mulia Abdurrahman Hizam (semoga Allah memanjangkan umur beliau dalam kebaikan), atau yang akrab disapa dengan panggilan Abu Hakam. Undangan tersebut dalam rangka menyaksikan akad nikah putri beliau ‘Aisyah Abdurrahman Hizam dengan Abdurrahman bin Muhammad Musa, putra seorang ulama besar negeri Syam saat ini, asy-Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nasr.

Sayang, saya hadir agak terlambat. Kesemrawutan di jalan raya selepas shalat Zhuhur, benar-benar memakan waktu yang tidak sedikit. Sesampai di kediaman Abu Hakam, ternyata sudah ramai dengan tamu unadangan. Dan subhanallah, yang hadir adalah orang-orang mulia. Semua asaatidz yang saya kenal, tampak hadir, termasuk Ustadz Mukti Ali, Ust. Fauzi Athar, dan yang lainnya hafizhallaahul jamii’.

Yang lebih mengejutkan lagi, dua orang Syaikh yang beberapa hari sebelumnya saya saksikan mengisi Tabligh Akbar di Istiqlal Jakarta (via streaming rodja.tv) juga hadir di tempat undangan. Allaahu Akbar, al-Muhaddits Ali Hasan al-Halaby ada di sini.

Syaikh Ali Hasan al-Halaby adalah salah seorang murid terkemuka dari Muhaddits abad ini, Muhammad Nashirudiin al-Albani rahimahullah. Selain pakar dalam ilmu hadits, beliau (Syaikh Ali) punya ratusan karya tulis ilmiah dalam bidang keilmuan Islam yang lain. Dan satu kelebihan beliau dalam setiap tulisan dan pidato beliau yang jarang dimiliki ulama lain, beliau seorang “Pujangga” dalam sastra arab, orator, sangat dominan dan tampak superior di atas mimbar. Andaikata Bung Karno seorang ahli hadits sekaligus da’i ahlussunnah melalui tulisan dan pidatonya, maka Anda akan mendapatkan gambaran yang hampir mirip dengan Syaikh Ali Hasan. Tidak heran banyak orang di seluruh dunia, yang pernah membaca tulisan-tulisan beliau, sangat mengidolakan sosoknya, tanpa terkecuali saya.

Alkisah berlanjut…

Setelah akad selesai, lanjut dengan acara break. Makan-makan. Syaikh Ali Hasan dipersilahkan terlebih dahulu mengambil jamuan. Beliau mengambil jamuan dalam satu piring. Saya melihat beliau mengambil jamuan hanya sedikit, tidak banyak seperti kami ;-D.

Perlahan beliau berjalan menuju tempat yang disedikan bagi tamu undangan. Beliau semakin dekat dan mendekat, dengan senyum yang lebar bersahabat, beliau mengucapkan salam kepada kami. Hati yang tadinya segan dan penuh sungkan melihat kewibawaan beliau, tiba-tiba terasa sejuk diguyur hujan musim semi.

Saya menjabat tangan beliau, demikian pula dengan kawan-kawan yang lain. Belum sempat tangan beliau menyantap makanan, para tamu undangan sudah berjubel di hadapan beliau untuk bersalaman. Beliau menyalami satu per satu tamu undangan seraya mengucap do’a “hayyakallaah….baarakallaahu fiikum… jazaakallaahu khoiro, dan yang semisalnya”. Do’a-do’a tersebut meluncur dari lisan beliau tanpa sedikit pun senyum bersahabat terhenti walau sejenak. Dengan penuh rasa kagum, saya menyaksikan kejadian tersebut, dan tak ingin luput darinya walau sekejap.

Jujur, sebenarnya ada…

satu kalimat yang ingin saya ungkapkan jika suatu saat nanti saya dipertemukan oleh Allah dengan salah seorang ulama Ahlussunnah di zaman ini. Sayang, saat jabat tangan yang pertama, taufik untuk mengucapkan kalimat tersebut seolah “tersipu malu” di hadapan Syaikh Ali. Lidah saya kelu, tidak tahu harus berucap apa. Sobat kami Abu Abdirrahman (Pimpinan SMP-IT Putra Abu Hurairah Mataram) tiba-tiba berucap, “Ayo ngomong..!!” Seolah dia tahu kalimat yang saya pendam di hati tersebut. Namun tetap saja kalimat tersebut tidak terlintas, entah kemana ia bersembunyi.

Beberapa saat saya merenung. Jika kalimat tersebut tidak saya ucapkan, apakah itu pertanda Allah mengharamkan bagi saya taufik untuk mengucapkannya? Dan apakah itu berarti, Allah tidak menginginkan untuk saya cinta-Nya. Owh..owh, musibah besar. Jika demikian, saya tidak tahu ada orang di kolong langit ini yang lebih kasian ketimbang saya.

Para tamu undangan satu per satu beranjak pulang…

Beberapa asaatidz masih tinggal dan duduk bersama Masyaikh. Di samping beliau, duduk Syaikh Dr. Muhammad Musa, Syaikh Akrom, Ustadz Abdurrahman at-Tamimi, Ustadz Mukti Ali, al-Fadhil Abu Hakam, ada juga “Syaikhul Web” Fadil Basymeleh (apapun OS-nya, bicara IT tetap beliau ini) dan tandemnya Syaikh (dalam tanda kutip dan tinta merah plus Ctrl-B) Abu Kinan (;-D, piss..piss). Nama yang terakhir ini tampak antusias banget di depan Syaikh Ali Hasan, paling gesit kesana kemari pegang handycam. Keliatan skali dia punya idola baru sekarang. Kalau diterawang dari raut mukanya yang memelas, dia pengen banget ngomong ya hana..ya hanu.. ma Syaikh Ali, cuman bingung mau ngomongin apa. Sobat saya yang satu ini, tampaknya benar-benar tengah membayangkan Syaikh Ali bisa bicara Indonesia gaya Makassar dalam sekejap saat itu.

Oke, saatnya kembali ke bumi…

Seperti biasa, Syaikh Ali selalu jadi pusat perhatian dalam setiap pembicaraan. Tidak beberapa lama bangkit, berjalan menuju teras, tempat kami duduk bersama beberapa asaatidz lain di antaranya; Ustadz Fauzi Athar (Dewan Pembina al-Hunafa’), Ustadz Fakhruddin, Lc. (Pimpinan Ma’had Abu Hurairah Mataram), dan Ustadz Abdullah Husni, Lc. (Pimpinan Ma’had Imam Muslim Bageknyaka-Lotim).

Kali ini tidak boleh luput, gumam saya dalam hati. Beliau turun dari teras, mengambil sandal. Saat itulah saya menghampiri beliau sambil mengucapkan:

“Yaa Syaikh Innii uhibbuka fillaah….” (Wahai Syaikh, sungguh saya mencintai Anda karena Allah)

Jawaban yang saya harapkan selama ini, pun terucap dari beliau:

“Ahabbakallaahulladzii ahbabtanii fiihi…” (Semoga Allah mencintaimu, yang telah mencintai aku karena-Nya)

Dengan kalimat balasan tersebut, saya menggantungkan harapan, agar sudi kiranya Allah mencintai saya.

Demikianlah kata demi kata dalam kisah ini saya tuliskan. Bukan untuk berbangga. Namun semata-mata demi menjalankan apa yang dianjurkan oleh al-Qur’an sebagai wujud rasa syukur:

“Dan atas nikmat-nikmat Rabb-mu, sebut-sebutlah ia.” [QS. adh-Dhuhaa: 11]

***

Mataram, 04 Dzulqo’dah 1433 / 20-09-2012

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

5 comments on “Di Balik Perjumpaan dengan Syaikh Ali Hasan al-Halaby

  1. بارك الله فيكم يا أبا زيان

  2. ikhwan izin Save foto nya ya , udah saya save

  3. Syukran. artikel nya bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: