1 Komentar

Antara “Kemunafikan” & “Lelet Menyambut Panggilan Shalat”

Ada jembatan berkabut yang menghubungkan antara kemunafikan dan sikap lelet dalam menyambut seruan kebaikan. Ada namun samar. Samar, tapi ada dan eksis.

Tatkala kita membaca firman Allah;

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bergegaslah menuju ampunan dari Tuhanmu, dan menuju surga yang luasnya membentang seluas langit dan bumi, yang telah disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.”[1]

 

ada semacam paradoksi yang bergelut dalam diri kita. Antara mengimani ayat tersebut sebagai sebuah kebenaran absolut, dan antara mengaplikasikan ayat tersebut dalam wujud aksi keimanan (baca: amal).

Sebuah Renungan

Mari berhenti sejenak pada kata “wa saari’uu” dalam ayat di atas, demi sebuah renungan. Pada dasarnya kalimat perintah semacam ini dalam al-Qur’an, memberikan fungsi wajib secara hukum syar’i. Demikianlah penjelasan para ulama Ushul kita. Artinya, bersegera dalam istigfar dan ibadah, adalah sebuah keharusan dalam Islam.

Namun sayang beribu sayang, pemahaman terhadap ayat tersebut hanya sebatas pemahaman. Tidak ada ruh yang menggerakkannya menjadi sebuah amal yang bernilai. Betapa tidak, saat adzan dikumandangkan misalkan, kita masih saja tenggelam dalam keasyikan canda-tawa bersama teman dan kawan. Kaki baru beranjak dan melangkah ke masjid setelah mu’adz-dzin mengumandangkan lafaz iqomah yang terakhir; “laa… ilaaha… illallaah….”.

Hanya saja permasalahannya tidak sebatas pada bergegas memenuhi panggilan solat. Karena toh, ayat tersebut berbicara umum, mencakup segala jenis ketaatan dan kebaikan. Mukmin sejati senantiasa berlomba-lomba dalam bersegera mengerjakan berbagai ketaatan dan kebaikan. Inilah yang disimpulkan oleh al-Imam al-Qurthubi rahimahullah (wafat: 671-H) [2] dalam tafsirannya terhadap ayat tersebut.

Solat saya kedepankan sebagai contoh, selain karena Anas bin Malik radhiallahu’anhu menfasirkan bahwa yang dimaksud dengan “wa saari’uu ilaa maghfiratin min robbikum…”  adalah: (bersegera demi mendapati) takbir yang pertama (Takbiratul Ihram)[3], juga dikarenakan solat kini—bagi kebanyakan kita—seolah telah berubah status dari tiang penopang agama, menjadi tiang tanpa atap yang harus ditopang. Istiqomah menjadi makmum yang masbuq adalah bukti betapa rutinitas solat benar-benar telah menjadi “sekedar” rutinitas.

Sebabnya..??

Setidaknya ada dua faktor penyebab mengapa kita begitu malas untuk bersegera menyambut seruan kebaikan:

Pertama: minimnya keikhlasan, dan

Kedua: adanya jentik kemunafikan yang bercokol di hati.

Jujur saya katakan, bahwa judul tulisan ini terinspirasi dari poin yang kedua.

Dalam Mausuu’atu Akhlaaqil Qur’aan[4] disebutkan:

“Bahwa seorang mukmin yang ikhlas, tidak akan lelet dalam medan kebaikan dan ibadah. Karena berlambat-lambat dalam kebaikan, sejatinya merupakan karakteristik orang-orang munafik yang menyimpan penyakit dalam hati mereka, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

وَإِذا قامُوا إِلَى الصَّلاةِ قامُوا كُسالى يُراؤُنَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Jika mereka (orang-orang munafik itu) bangkit untuk solat, mereka bangkit dengan malas, tampil riya’ di hadapan manusia, dan mereka tidak berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit.”[5]

Dengan ungkapan yang lebih sederhana, tulisan ini ingin berkata:

“Saat rasa malas menjangkiti dan menahan-nahan Anda untuk bersegera melakukan kebaikan, maka tuduhlah hati Anda saat itu juga, bahwa keikhlasannya telah tergerus dan kemunafikan mulai menggerogotinya.”

Inilah “jembatan berkabut” yang saya maksudkan di awal tulisan. Tanpa sadar selama ini kita telah tenggelam dalam anggapan menyesatkan, bahwa kita—sebagai seorang mukmin—, benar-benar ma’shum alias terpelihara dari kemunafikan. Ternyata tidak, sekali-kali tidak.

Akhirul kalam, Allah-ah yang menguasai segenap hati manusia. Jika bukan Dia yang menjadi tujuan do’a-do’a kita dalam menghilangkan jentik-jentik kemunafikan, lantas kepada siapa lagi?

***

Lombok, Jum’at malam selepas Solat ‘Isya

26 Dzulqa’dah 1433 / 12 Okt. 2012

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

Email: abiziyan@ponpesabuhurairah.com

Blog: http://abiziyan.ponpesabuhurairah.com


[1]  QS. Ali Imran: 133

[2]  Tafsir al-Qurthubi: 4/203

[3]  Ad-Durrul Mantsuur: 2/314, al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi (wafat: 911-H).

[4]  Juz: 1, hal. 11, dinukil dari Mu-aanasatul Jaalis hal. 51, Daarus Shomi’iy, 1415-H.

[5]  QS. An-Nisaa’: 142.

One comment on “Antara “Kemunafikan” & “Lelet Menyambut Panggilan Shalat”

  1. — 1 Tentang perkataan Ibnu Mas’ud —-

    لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيضٌ إِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلَاةَ

    “Kami dahulu berpendapat, bahwa tidaklah seseorang yang tidak menghadiri shalat (jamaah) melainkan ia seorang munafik yang telah jelas kemunafikannya, atau kalaulah ia sakit, maka ia berjalan dengan cara dipapah diantara dua orang hingga ia hadiri shalat.”

    Maka bukanlah maksud beliau serta-merta mencap orang-orang yang tidak shalat berjama’ah dari kalangan kaum muslimiin dengan cap munafiq!! Sungguh jauh sekali!!

    cobalah simak perkataan beliau KEPADA KAUM MUSLIMIIN:

    فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى

    sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat, diantara sunnah-sunnah petunjuk itu..

    وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ

    kalaulah kalian shalat di rumah kalian, seperti orang-orang yang tinggal di rumahnya… berarti telah kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sekiranya kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sungguh kalian akan tersesat…

    Lihat beliau diatas berkata: “kalaulah kalian shalat dirumah kalian, seperti orang-orang yang tinggal dirumahnya… berarti kalian telah tinggalkan sunnah nabi kalian…”

    Kalaulah hal tersebut adalah amalan nifaq, tentunya beliau akan berkata:

    “seandainya kalian shalat di rumah kalian, maka kalian telah melakukan perbuatan kemunafiqan!”

    Dan juga perkataan beliau: “telah kalian tinggalkan sunnah nabi kalian…”

    Sunnah nabi disini, justru menekankan sunnahnya shalat berjama’ah.. yang hendaknya setiap orang menjaganya, jika ia mampu..

    Oleh karenanya berkata Imaam ibnu ‘abdil barr rahimahullaah dalam at-tamhiid setelah membawakan atsar ibnu mas’uud diatas:

    فقد صرحت هذه الآثار عن ابن مسعود بأن شهود الجماعة سنة ، ومن تدبرها علم أنها واجبة على الكفاية

    Telah dijelaskan, bahwa atsar dari ibnu mas’uud ini (menjelaskan) bahwasanya (hukum) menghadiri shalat berjama’ah adalah sunnah… Dan barangispa yang memikirkannya (lebih jauh lagi) tahulah (ia), bahwa sesungguhnya ia (hukumnya) adalah fardhu kifaayah

    (Lihat at Tamhiid)

    Hal ini seperti perkataan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, yang bermakna:

    “Tidaklah aku meniggalkan sedikitpun sunnah Rasulullah, melainkan aku amalkan. Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sedikit saja dari perintahnya, aku akan tersesat.”

    Sedangkan kita ketahui, sunnah Rasuulullaah; ada yang wajib ‘ain, ada yang wajib kifayah dan ada yang sunnah mu’akkadah. Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu tidak membedakan hukumnya, apapun sunnah yang ia dapati dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, akan ia berusaha kerjakan, merutinkannya dan tidak meninggalkannya; karena khawatir akan dapat menjerumuskannya kepada kesesatan.

    — 2 Pemahaman ibnu ‘amr ibnul ash —-

    Pemahaman ibnu mas’uud diatas, didukung oleh atsar berikut, dari Aus Al-Ma’arifi bahwa dia pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Ash,

    أَرَأَيْتَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى فِي بَيْتِهِ ؟

    ”Bagaimana pendapat anda jika seseorang berwudhu dengan sempurna lantas ia shalat di rumahnya?

    قَالَ : حَسَنٌ جَمِيلٌ

    ”Abdullah bin Amr menjawab :”Sangat baik”.

    قَالَ : فَإِنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِ عَشِيرَتِهِ ؟

    Aus bertanya lagi “Jika ia shalat di mesjid keluarganya ?”

    قَالَ : خَمْسَ عَشْرَةَ صَلَاةً

    Dijawab :”Berarti ia dapat pahala 15 kali lipat”.

    قَالَ : فَإِنْ مَشَى إِلَى مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ فَصَلَّى فِيهِ ؟

    Diatanya lagi ,”Bagaimana jika berjalan ke masjid (yang ditegakkan) jamaa’ah kemudian ia shalat disana?”

    قَالَ : خَمْسٌ وَعِشْرُونَ

    Abdullah bin Amr menjawab “Berarti ia mendapat 25 kali lipat”

    [HR Ibnu Manshuur, dengan sanad yang hasan; lihat Fathul Baari (II/35)]

    Lihat, diatas ditanyakan kepada ‘Abdullah ibnul ‘Amr ibnul ‘Ash tentang shalat seorang dirumahnya, jika sekiranya para shahabat sepakat (sebagaimana klaim ibnul qayyim) bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan nifaaq.. tentulah hal ini akan diingkari oleh ‘Abdullah ibnul ‘Amr.. bahkan hadits diatas membicarakan masalah pahala, yang tidak mungkin keluar dari ijtihad shahabat, menandakan atsar diatas dihukumi marfu’ (sampai kepada nabi)!

    Sayang sekali… kalau ada shahabat yang paling semangat menegakkan sunnah seperti abdullah ibn amr membiarkan amalan nifaq..

    — 3. HADITS ANAS BIN MALIK sendiri —-

    Bagaimana pula dengan amalan Rasuulullaah berikut? Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata

    “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam adalah seorang yang sangat mulia akhlaknya. terkadang beliau masih berada di RUMAH KAMI di saat WAKTU SHALAT SUDAH MASUK.

    Lantas beliau menyuruh untuk menyapu tikar yang ada di bawah beliau dan memercikkan air ke tikar tersebut. Kemudian kami berdiri (SHALAT) di belakang dan beliau mengimami kami shalat. Tikar yang beliau pakai saat itu terbuat dari daun kurma…”

    (Shahih, Riwayat Muslim)

    Apakah Rasuulullaah mengajarkan/mencontohkan kemunafiqan?!

    —- 4. HADITS dua orang yang datang ke masjid tapi tidka shalat —-

    Bagaimana juga dengan hadits berikut:

    إذا صلى أحدكم في رحله ثم أدرك الإمام ولم يصل فليصل معه فإنها له نافلة

    Jika sekiranya salah seorang dari kalian TELAH SHALAT di RUMAHNYA, kemudian ia mendapati imam sedang shalat, maka hendaklah ia shalat bersamanya, karena ia menjadi nafilah (shalat sunnah) baginya.”

    (Shahiih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidizi, dan lain-lain.)

    1. Rasuulullaah MENETAPKAN shalat seseorang DIRUMAHNYA. Dan tidak mencela shalat tersebut. Padahal terlarang bagi beliau mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan.

    2. Jika seseorang TELAH SHALAT dirumahnya, maka ia BOLEH MEMILIH, apakah tetap mendatangi masjid, ataukah tidak. karena dalam hadits lain beliau bersabda:

    إِذَا جِئْتَ فَصَلِّ مَعَ النَّاسِ وَإِنْ كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ

    “JIKA kamu datang ke masjid, maka shalatlah bersama orang-orang, walau sudah shalat.”

    (Shahiih; HR. Maalik (dan ini lafazhnya), al-Baghawiy, dll. dihasankan al-Baghawiy dalam syarhus sunnah, dan dishahiihkan al-albaniy dalam al-misykat)

    disana Rasuulullaah, mengandengkan kata إِذَا “jika”, menandakan seseorang boleh memilih mendatanginya, atau tidak (simak tentang fiqh hukum qurban). mendatanginya pun maka hukumnya sunnah, karena beliau bersabda:

    فإنها له نافلة

    “karena ia menjadi nafilah (shalat sunnah) baginya.”

    Pertanyaan: Apakah patut Rasuulullaah MEMBIARKAN AMALAN NIFAQ!!?

    — 5. Hadits keutamaan shalat berjama’ah diatas shalat sendirian —-

    Kemudian bagimana dengan hadits berikut:

    وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الَّذِي يُصَلِّي وَحْدَهُ ثُمَّ يَنَامُ

    Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang SHALAT SENDIRIAN kemudian tidur…

    Jelas sekali hadits ini menetapkan akan BOLEHnya seseorang yang shalat sendirian (TIDAK BERJAMA’AH), kemudian tidur. Disini Rasulullah membandingkan KADAR PAHALA antara dua orang yang mengerjakan shalat.

    Seanadainya orang yang shalat sendirian kemudian tidur itu mewajibkan dosa baginya atau bahkan PERBUATAN NIFAQ (yang mana ini dosa besar) untuk apa disebut Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam? Mengapa diakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan? Dalam berbagai hadits, Rasuulullah senantiasa mengulang-ngulang dalam mengingatkan perbuatan haram atau bahkan nifaq, namun malah membiarkannya? Lagi pula perbandingan sesuatu yang memiliki dosa, dengan sesuatu yang tidak ada dosanya pun adalah QIYAS MA’AL FARIQ.

    Kemudian bagaimana dengan hadits berikut:

    تَطَوُّعُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ يَزِيْدُ عَلَى تَطَوُّعِهِ عِنْدَ النَّاسِ، كَفَضْلِ صَلاَةِ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ عَلَى صَلاَتِهِ وَحْدَهُ

    “Sholat sunnahnya seseorang di rumahnya lebih bernilai dari pada sholat sunnahnya di hadapan manusia, SEBAGAIMANA KEUTAMAAN sholat seseorang bersama jama’ah dibandingkan jika ia sholat sendirian”

    (Hadits ini dishahihkan oleh Albani dalam as-Shahihah no 3149)

    hadits diatas didukung dua hadits lain:

    صَلاَةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعاً حَيْثُ لاَ يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْساً وَعِشْرِيْنَ

    “Sholat sunnahnya seseorang yang dikerjakan tanpa dilihat oleh manusia niainya sebanding dengan DUA PULUH LIMA SHALAT sunnahnya yang dilihat oleh mata-mata manusia”

    (HR Abu Ya’la dalam musnadnya dan dishahihkan oleh Albani dalam As-Shahihah pada penjelasan hadits no 3149)

    تفضل صلاة الجماعة على صلاة الفذ أو صلاة الرجل وحده، خمسًا وعشرين صلاةً

    Keutamaan shalat berjama’ah terhadap shalat sendirian DUA PULUH LIMA SHALAT.

    (HR. al Bazzaar, dikatakan imam al-haytsami “para perawinya tsiqat”)

    maka Rasuulullaah menyamakan/mengqiyaskan dua perbandingan:

    – shalat sunnah dilihat orang, dengan tidak dilihat orang

    – shalat wajib sendirian dengan shalat wajib jama’ah

    apakah shalat sunnah dihadapan manusia BERDOSA? ataukah hanya lebih sedikit keutamaannya? maka dikatakan, ia TIDAK BERDOSA, bahkan ia memiliki keutamaan, hanya saja, keutamaan orang yang shalat sunnah secara sembunyi-sembunyi MELEBIHI KEUTAMAAN orang yang terang-terangan, dan orang yang shalat sendiri LEBIH TERJAGA dari godaan syaithan; yaitu dari godaan riya’/sum’ah. Oleh karenanya dijanjikan PAHALA YANG BESAR bagi yang mampu melakukannya.

    Beliau bersabda:

    صَلاَةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعاً حَيْثُ لاَ يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْساً وَعِشْرِيْنَ

    “Sholat sunnahnya seseorang yang dikerjakan tanpa dilihat oleh manusia niainya sebanding dengan DUA PULUH LIMA SHALATNYA yang dilihat oleh mata-mata manusia”

    (HR Abu Ya’la dalam musnadnya dan dishahihkan oleh Albani dalam As-Shahihah pada penjelasan hadits no 3149)

    MAKA DEMIKIAN PULA… Seperti itulah perbedaan keutamaan orang yang shalat berjama’ah dengan orang yang shalat sendiri. Dimana orang yang shalat berjama’ah keutamaannya SANGAT BESAR dibandingkan dengan orang yang shalat sendirian. Dan orang yang shalat berjama’ah dimesjid bersama imam rawatib, keutamaannya lebih besar daripada orang yang berjama’ah dirumah/dipasarnya atau shalat sendirian di rumahnya atau di pasarnya.

    Rasuulullaah bersabda:

    تفضل صلاة الجماعة على صلاة الفذ أو صلاة الرجل وحده، خمسًا وعشرين صلاةً

    Keutamaan shalat berjama’ah terhadap shalat sendirian DUA PULUH LIMA SHALAT.

    (HR. al Bazzaar, dikatakan imam al-haytsami “para perawinya tsiqat”)

    dan juga shalat jama’ah LEBIH TERJAGA dari godaan syaithan untuk tidak khusyu’, karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

    فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

    Berjama’ahlah kalian, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian.

    (HR Abu Dawud dan selainnya)

    Yaitu syaithan memiliki kekuasaan yang lebih kepada orang yang sendirian, dibandingkan bersama orang banyak.

    Oleh karenanya, perkara seperti ini, seperti FIRMAN-Nya:

    إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ

    Jika kamu MENAMPAKKAN sedekah(mu), maka itu adalah BAIK.

    وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

    Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu LEBIH BAIK BAGIMU.

    (Al-Baqara: 271)

    jika engkau SHALAT WAJIB (baik sendirian maupun jama’ah DI RUMAH atau DIPASAR) maka hal itu BAIK..

    tapi jika engkau SHALAT WAJIB BERJAMA’AH BERSAMA IMAM RAWATIB DI MASJID.. maka ini LEBIH BAIK bagimu..

    Yang mengQIYASkan keduanya adalah Rasuulullaah.. sekaligus, dalil ini sebagai “pemalingan hukum” yang paling kuat dan shariih.. yang hendaknya kita pikirkan..

    Lantas apakah seseorang akan SERAMPANGAN mencap saudaranya MUNAFIQ atau mengerjakan amalan nifaq?!

    Semoga komentar inipun tidak disikapi sebagai komentar “membela amalan nifaq” atau dikomentari seorang yang “terjangkiti nifaq”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: