1 Komentar

Kisah Perdebatan Antara Ilmu dan Akal

Seorang penyair pernah menggambarkan keistimewaan ilmu dalam bari demi baris kalimat yang bertutur tentang perdebatan antara Ilmu dan Akal. Sang penyair berkata:

عِلْمُ الْعَلِيْمِ وَعَقْلُ الْعَاقِلِ اخْتَلَفَا       مَنْ ذَا الَّذِيْ مِنْهُمَا قَدْ أَحْرَزَ الشَّرَفَا

فَالْعِلْمُ قَالَ: أَنَا أَحْرَزْتُ غَايَتَهُ          وَالْعَقْلُ قَالَ: أَنَـا الرَّحْمَنُ بِيْ عُرِفَا

فَأَفْصَحَ الْعِلْمُ اِفْصَاحًا وَقَالَ لَهُ        بِأَيْنَا اللهُ فِي فُرْقَانِهِ اتَّصَفَا

فَبَانَ لِلْعَقْلِ أَنَّ الْعِلْمَ سَيِّدُهُ            فَقَبَّلَ الْعَقْلُ رَأْسَ الْعِلْمِ وَانْصَرَفَا

“Ilmu orang yang ‘alim dan Akal orang yang cerdik, berselisih pendapat”

“Tentang siapakah di antara keduanya yang telah meraih (puncak) kemuliaan”

“Ilmu berkata: ‘Aku telah menggapai puncaknya’”

“Akal lantas menyahut: ‘Akulah Sang akal, yang dengannya ar-Rahman (Allah) bisa dikenali (melalui keajaiban ciptaannya di alam semesta)”

“Maka dengan terang dan lugas ilmu menjawab: ‘Dengan apakah Allah dalam al-Qur’an disifatkan (dengan al-‘Aliim atau al-‘Aaqil..??)

“Maka jelaslah bagi akal, bahwa ilmu adalah tuan majikannya”

“Sang akal pun mencium kening ilmu (sebagai bentuk penghormatan), lantas ia pun pergi berlalu”

[Dinukil dari Mu-aanastul Jaliis hal. 12]

Catatan tambahan:

Cukuplah satu hal menjadi bukti dan argumen kokoh yang selamanya tidak mungkin akan terkalahkan (tentang kemuliaan ilmu pengetahuan), manakala “ilmu” adalah sifat yang Allah jadikan senantiasa melekat pada diri-Nya dalam keabadian waktu.

Bukankah Allah mengabarkan tentang diri-Nya dalam al-Qur’an, bahwa Dia adalah al-‘Aliim (Yang Mahamengetahui), sementara Allah tidak menamakan dan menyifatkan diri-Nya dengan al-‘Aaqil (Yang berakal), karena keterbatasan dan sifat kurang yang senantiasa melekat pada akal, betapa pun ia telah menggapai puncak kebrilianan.

***

11 Dzulhijjah 1433 / 27 Okt. 2012

Jo Saputra Halim (Abi Ziyan)

Email: abiziyan@ponpesabuhurairah.com

One comment on “Kisah Perdebatan Antara Ilmu dan Akal

  1. mungkin secara dhohir ilmu cenderung pada otak kanan dan akal pada otak kiri. wa allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: