Archive | November 2012

You are browsing the site archives by date.

KHUSYU’: “Apa, & Bagaimana Meraihnya”

HAKIKAT KHUSU’: Dari segi bahasa, kata “khusyu’” (dalam bahasa Arab) mengandung makna (طأطأ) yang berarti; membungkuk, menyelam, atau menunduk. Khusyu’ memiliki kedekatan makna dengan kata khudhu’, hanya saja khudhu’ maknanya lebih ke “tunduknya anggota badan”, sedangkan khusyu’ bisa berarti tunduknya anggota badan, suara, dan pandangan mata, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur-an (QS. al-Qolam: 43) “khoosyi’atan […]

Syair Ibnu Taimiyyah di Penghujung Hayat Beliau

Syair Ibnu Taimiyyah di Penghujung Hayat Beliau

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat: 751-H) mengisahkan: “Suatu ketika—di akhir-akhir hayatnya—Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat: 728-H) mengirimi aku tulisan tangan beliau tentang Kaidah Tafsir. Di balik tulisan tersebut terdapat bait-bait syair yang beliau tulis sendiri dengan tangan beliau. Tulisan tersebut berbunyi: أَنَا الْفَقِيرُ إِلَى رَبِّ الْبَرِيَّاتِ … أَنَا الْمُسَيْكِينُ فِي مَجْمُوعِ حَالَاتِي “Akulah hamba […]

Syair “Renungan Muharram” – 01

قَطَعْتَ شُهُوْرَ الْعَامِ لَهْوًا وَغَفْلَةً … وَلَمْ تَحْتَرِمْ فِيْمَا أَتَيْتَ الْمُحَرَّمَا “Engkau telah menghabiskan bulan demi bulan sepanjang tahun dalam buaian dan kelalaian … Pun tatkala Muharram datang, engkau tidak memberikan penghormatan (dengan meninggalkan maksiat).” فَلاَ رَجَبًا وَافَيْتَ فِيْهِ بِحَقِّهِ … وَلاَ صُمْتَ شَهْرَ الصَّوْمِ صَوْمًا مُتَمِّمَا “Rajab pun tidak engkau tunaikan haknya (dengan ibadah […]

Muharram “Di Mata Mufassir dan Ahli Hikmah”

Kemuliaan Muharram di Mata Mufassir Dijadikannya bulan Muharram oleh Sang Pencipta, Allah Ta’ala, sebagai salah satu bulan haram dalam Islam, adalah bukti terbesar bahwa bulan yang mulia ini benar-benar bernilai mulia di sisi-Nya. Allah berfirman: إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ […]

Umar bin Khaththab Shalat di Gereja..??

PERTANYAAN: حين كان صحابة النبي صلى الله عليه وسلم في القدس وقاموا بفتح القدس ، وكان معهم سيدنا عمر بن الخطاب رضي لله عنه حينها صلَّى الصحابة الكرام في بهو الكنيسة بدعوة من كبير القساوسة ، ولكن لم يشاركهم عمر بن الخطاب لأسباب أخرى . فهل هذا صحيح أن الصحابة صلوا بالكنيسة ؟ Saat para […]

Syair Hikmah: Target Hidup yang “Paa…aa..aaling” Tinggi

لِكُلِّ بَنِي الدُّنْيَا مُرَادٌ وَمَقْصَدُ          وَإنَّ مُرَادِيْ صِحَّةٌ وَفَرَاغُ “Bagi setiap anak-anak dunia ada keinginan dan tujuan … Adapun tujuanku, sekedar bisa (selalu) sehat dan memiliki waktu luang.” لِأَبْلُغَ فِيْ عِلْمِ الشَّرِيْعَةِ مَبْلَغًا               يَكُوْنُ بِهِ لِيْ لِلْجِنَانِ بَـلاَغُ “Agar aku bisa mencapai satu tingkatan (yang tinggi) dalam ilmu syari’at … yang dengannya […]

Di Balik Distorsi Sejarah & Riwayat Tentang Karbala (Tempat Terbunuhnya Cucu Nabi Tercinta)

Di Balik Distorsi Sejarah & Riwayat Tentang Karbala (Tempat Terbunuhnya Cucu Nabi Tercinta)

Ada distorsi sejarah yang sepertinya sengaja dibuat dalam kisah “Terbunuhnya Husein bin Ali—cucu tercinta Rasulullah—di padang Karbala”. Ini adalah kesimpulan yang saya dapatkan setelah membaca buku sejarah berjudul “Hiqbatun min at-Taariikh (hal. 229-244)” karya Syaikh DR. ‘Utsman Muhammad al-Khumais. Buku ini memaparkan fakta sejarah Islam yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai […]

Faidah Lughoh 01: Kekeliruan Jahmiyyah dalam Memahami “Innaa Ja’alnaa…”

Kekeliruan dalam memahami teks Bahasa Arab dalam ayat-ayat al-Qur’an bisa menghantarkan pada penyimpangan aqidah. Sebagai contoh; kekeliruan sekte Jahmiyyah dalam memahami lafaz ayat “Innaa ja’alnaa…” (Sungguh, Kami telah menjadikan…) “Innaa ja’alnaa” terkadang bermakna “shoyyaro” (menjadikan) dan terkadang juga bermakna “kholaqo” (menciptakan). Jadi tidak selalu bermakna “kholaqo” di setiap tempat dalam al-Qur-an, sebagaimana anggapan Jahmiyyah. Lalu […]

Faidah Lughoh 02: Keajaiban makna dhomir (kata ganti) dalam al-Qur-aan

Di antara keajaiban ayat al-Qur-aan (jika ditinjau dari sisi bahasa), bisa terlihat dari dhomir-dhomir yang digunakannya. Satu dhomir terkadang kembali pada dua objek referensi yang berbeda, namun ajaibnya, makna yang dihasilkannya justru saling memperkuat makna masing-masing dhomir satu sama lain. Tidak hanya sampai di situ, makna ayat pun akan semakin luas dan kaya khazanah, tanpa […]