5 Komentar

Faidah Lughoh 02: Keajaiban makna dhomir (kata ganti) dalam al-Qur-aan

Di antara keajaiban ayat al-Qur-aan (jika ditinjau dari sisi bahasa), bisa terlihat dari dhomir-dhomir yang digunakannya. Satu dhomir terkadang kembali pada dua objek referensi yang berbeda, namun ajaibnya, makna yang dihasilkannya justru saling memperkuat makna masing-masing dhomir satu sama lain. Tidak hanya sampai di situ, makna ayat pun akan semakin luas dan kaya khazanah, tanpa ada kontradiksi sedikitpun apalagi sampai harus melenceng dari kebenaran.

Sebagai contoh, mari sejenak bertafakkur pada dua ayat pertama Surat al-Kahfi berikut ini:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2)

“Segala puji (yang disertai cinta dan pengagungan) hanya untuk Allah Yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur-aan) kepada ‘abdihi (hamba-Nya, Muhammad) dan Dia tidak menjadikan di dalamnya sesuatu yang bengkok (melenceng dari kebenaran).

“Sebagai bimbingan yang lurus, agar ia memberikan peringatan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal-amal shalih bahwasanya bagi mereka ganjaran yang baik.” [QS. Al-Kahfi: 1-2]

Kemudian pahamilah penjabaran ilmiah Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah dalam bukunya Tafsiirul Kahfi hal. 9 (Cet. Daaru Ibnil Jauzi, 1423H) ketika beliau menafsirkan ayat ke-2 dari Surat al-Kahfi di atas:

بيَّن تعالى الحكمة من إنْزال القرآن في قوله (لِيُنْذِرَ بَأْساً شَدِيداً مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً حسنا)

الضمير في قوله: (لينذر) يحتملُ أن يكون عائداً على (عبده) ويحتملُ أن يكون عائداً على (الكتاب) وكلاهما صحيح، فالكتاب نَزل على الرسول صلى الله عليه وسلم لأجل أن يُنذِر به، والكتاب نفسُه مُنذِر، ينذر الناس.

“Allah Ta’alaa menerangkan hikmah diturunkannya al-Qur-aan dalam firman-Nya: ‘….Liyundziro (agar ia memberikan peringatan) akan siksaan yang sangat pedih dari sisi-Nya, dan Yubasysyiro (agar ia memberikan kabar gembira) kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal-amal shalih bahwasanya bagi mereka ganjaran yang baik.’

“Dhomiir (kata ganti “ia”) yang terkandung dalam firman-Nya: “Liyundziro” (demikian pula Yubasysyiro-pent) boleh jadi kembali pada “’abdihi” (yang berarti hamba-Nya yakni Rasulullaah, yang terdapat pada ayat ke-1 -pent) atau bisa juga kembali pada al-Kitab (yang berarti al-Qur-aan, juga terdapat pada ayat ke-1 -pent). Dan kedua makna tersebut shahih (bisa digunakan kedua-duanya -pent). Al-Kitab turun kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar beliau memberi perintangan dengannya, sementara di satu sisi al-Kitab sendiri sudah merupakan pemberi peringatan yang memperingati manusia.” Selesai penjelasan beliau.

***

Lombok-NTB,

menjelang Sholat Jum’at, 17 Jumadal Akhir 1432 (20 Mei 2011)

 Penulis: Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

“semoga Allah mensucikan hatinya yang berlumuran dosa”

5 comments on “Faidah Lughoh 02: Keajaiban makna dhomir (kata ganti) dalam al-Qur-aan

  1. Assalamu’alaikum.
    Ustadz, ingin bertanya:
    1. Bagaimana kita memberi harokat lengkap untuk nama seseorang yang terdiri atas tiga atau lebih nama. Misalnya ada orang yang bernama MUHAMMAD YUSUF HARUS (محمد يةسف هارون). Bagaimana harokat lengkapnya saat nama orang ini berkedudukan sebagai isim yang marfu’, manshub, dan majrur? Mohon skalian beri contohnya dalam kalimat sempurna?

    2. Apa bedanya dua kalimat berikut ditinjau dari sisi arti dan maksud (kandungannya):
    لمحمد كتاب
    محمد له كتاب
    Jazakumullah khairan.

    Muhammad

    • 1. Jika yang dimaksud adalah Muhammad [bin] Yusuf [bin] Harun, maka ditulis (َمحمدُ بْنُ يوسفَ بْنِ هَارُوْن)
      2. (لمحمد كتاب): kitab hanya punya muhammad
      (محمد له كتاب): muhammad punya kitab (bukan berarti yg lain ga punya kitab)

      Wallaahua’lam

  2. Jazakumullahu khairan atas jawabannya.
    1. Kalau itu sih alhamdulillah sudah jelas. Maksud saya, semua itu nama untuk satu orang, seperti nama-nama orang yang banyak di Indonesia. Seperti, ada satu orang yang bernama Siti Vicki Maulaya Adisya Maharani…..dst……

    2. Kalau kalimatnya begini:

    هذا بيت له باب واسع

    Apakah ini menunjukkan bahwa yang punya pintu luas hanya rumah ini?

    Jazakumullah khair atas jawabannya.

    • Afwan, saya blm paham maksud pertanyaan no. 1.
      Adapun yg ke-2:
      هذا بيت له باب واسع

      Apakah ini menunjukkan bahwa yang punya pintu luas hanya rumah ini?

      (هذا البيت له باب واسع) maknanya: “rumah ini punya pintu yg luas” berbeda dg: (للبيت باب واسع) “Rumah tsb, hanya punya pintu yg luas”. Wallaahu’alam, mohon dikoreksi jika ada yg keliru.

  3. Pertanyaan pertama misalnya nama pensyarah kitab aqidah washithiyyah yaitu:
    محمد خليل هراس
    Bagaiman kita memberi harokat lengkap nama ini? Syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: