Tinggalkan komentar

Muharram “Di Mata Mufassir dan Ahli Hikmah”

Kemuliaan Muharram di Mata Mufassir

Dijadikannya bulan Muharram oleh Sang Pencipta, Allah Ta’ala, sebagai salah satu bulan haram dalam Islam, adalah bukti terbesar bahwa bulan yang mulia ini benar-benar bernilai mulia di sisi-Nya. Allah berfirman:

إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, yang demikian telah ditetapkan dalam Lauhul Mahfuzh[1] saat Allah menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada 4 bulan haram (yang diharamkan berperang pada bulan-bulan tersebut, yaitu; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab[2]), maka janganlah kalian menzalimi diri kalian (dengan berbuat dosa, terlebih-lebih) pada bulan-bulan haram tersebut (karena dosanya lebih dahsyat lagi).” [QS. At-Taubah: 36, lihat At-Tafsir al-Muyassar hal. 192]

Dalam bahasa al-Qur’an, penyebutan sesuatu yang khusus, setelah sebelumnya disebutkan dalam konteks yang umum; menunjukkan bahwa sesuatu yang khusus tersebut memiliki kemuliaan dan nilai tambah tersendiri. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama tafsir dengan ungkapan “’Athful Khoosh Ba’dal ‘Aam”. Jika kita renungkan, 4 bulan yang disebutkan (secara khusus) dalam ayat di atas sebenarnya sudah tercakup dalam 12 bulan yang disebutkan sebelumnya. Namun disebutkan kembali secara khusus, untuk menunjukkan bahwa 4 bulan tersebut memiliki keistimewaan tersendiri.

Orang-orang shalih sepanjang masa, begitu mengagungkan bulan Muharram dengan ibadah-ibadah yang disunnahkan, khususnya puasa. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallaahu’anhu:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa  yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada Bulan Allah, al-Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah Shalat Fardhu adalah shalat malam.” [Shahih Muslim: 1163]

Mengapa dinamakan “Bulan Allah”?

Hadits tersebut, selain kembali menegaskan tentang kemuliaan Muharam—sehingga puasa di dalamnya merupakan puasa terbaik setelah Ramadhan—, juga mengisyaratkan sisi lain dari kemuliaan Muharram, yaitu manakala namanya di-idhofah-kan (disandarkan) pada nama Allah.

Renungkanlah bagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut menyebut Muharram dengan ungkapan Syahrullaah (Bulan Allah), sebuah ungkapan kehormatan yang serumpun dengan ungkapan Baitullaah untuk Ka’bah, Ruuhullaah untuk ‘Isya ‘alaihissalam, Kaliimullaah untuk Musa ‘alaihissalam, dan Khaliilullaah untuk Ibrahim dan Muhammad shallallaahu ‘alaihima wa sallam. Inilah di antara mutiara hikam yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullaah (wafat: 795-H) dalam kitabnya yang berharga “Lathaa-iful Ma’aarif[3]

***

Lombok, 08 Muharram 1434 / 22-11-2012

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)


[1]  At-Tafsiir al-Muyassar hal. 192.

[2]  Shahih Bukhari: 2958.

[3]  Hal. 36, Cet. Daar Ibn Hazm, 1424. Di halaman tersebut Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan:

وقد سمى النبي صلى الله عليه وسلم المحرم شهر الله واضافته إلى الله تدل على شرفه وفضله فإن الله تعالى لا يضيف إليه إلا خواص مخلوقاته كما نسب محمدا وإبرهيم وإسحاق ويعقوب وغيرهم من الأنبياء إلى عبوديته ونسب إليه بيته وناقته

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: