Tinggalkan komentar

Pengertian “Syirik” di Mata Ulama Syafi’iyyah

Menarik untuk mengkaji terminologi “syirik” dari kacamata para ulama Madzhab Syafi’i. Selain pandangan-pandangan Syafi’iyyah sangat dominan dan populer di Indonesia, juga dikarenakan para pembesar ulama Syafi’i ternyata mewariskan kepada kita karya-karya fenomenal bagi khasanah keilmuan Islam, khususnya di bidang aqidah, salah satu cabang ilmu yang fundamental bagi kaum muslimin. Di sisi yang lain, ternyata fakta di lapangan seolah menunjukkan adanya tali penghubung yang terputus antara konsep ulama Syafi’iyyah dalam memahami terminologi syirik dengan praktik kebanyakan kaum muslimin tanah air.

Melalui artikel singkat ini, kami akan suguhkan beberapa nukilan dari Imam-Imam Madzhab Syafi’i rahimallaahul jamii’ ketika mereka berbicara tentang “syirik”. Namun sebelum itu, perlu kami tegaskan bahwa syirik yang dimaksud dalam tulisan ini adalah syirik besar, yang bisa mengeluarkan seseorang dari koridor Islam, dan pelakunya tidak akan diampuni (kelak di akhirat) jika belum sempat bertaubat di dunia.

Definisi Syirik Secara Harfiah (Bahasa)

Kata “syirik” berasal dari akar kata syaroka (شرك) yang berarti: sekutu, sejawat (partner). Ibnu Faaris rahimahullaah (wafat: 395-H) dalam Maqooyiisi al-Lughoh (3/265, cet. Daarul Fikr, 1399-H) mengatakan:

“(kata syirik) menunjukkan makna muqooronah (berbanding atau bersamaan dalam sesuatu) dan khilaaf infirood (lawan dari kesendirian)…yaitu manakala sesuatu dimiliki berdua, tidak dimiliki sendiri.”

Ibnu Manzhuur rahimahullaah (wafat: 711-H) berkata dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob (10/449, cet.-3, Daar Shoodir, 1414-H):

“Berbuat syirik pada Allah: yaitu menjadikan adanya sekutu atau partner bagi Allah dalam hal kepemilikan alam semesta. Mahatinggi Allah dari hal tersebut.”

Kemudian Ibnu Manzhuur rahimahullaah menukil ucapan Abul ‘Abbas ketika mengomentari firman Allah:

“Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” [QS. an-Nahl: 100]

“Maknanya adalah; orang-orang yang menjadi musyrik karena mentaati syaitan. Bukanlah yang dimaksud mempersekutukan di sini, bahwa mereka beriman kepada Allah lantas mempersekutukan syaitan. Akan tetapi (maknanya adalah), mereka beribadah pada Allah bersamaan dengan itu pula mereka beribadah kepada syaitan. Maka jadilah mereka orang yang berbuat syirik (mempersekutukan Allah dengan syaitan).” [Lisaanul ‘Arob: 10/449]

Syirik Menurut Imam Abu Manshur al-Azhariy rahimahullaah

Beliau adalah salah satu ulama besar Syafi’iyyah yang terdahulu, wafat pada tahun 370-H. Karya tulis beliau yang terkenal adalah Tahdziibul Lughoh. Ibnu Manzhuur rahimahullaah mengatakan tentang karya tulis beliau ini:

“Saya belum pernah menemukan dalam buku-buku bahasa, sesuatu yang lebih bagus daripada Tahdziibul Lughoh karya al-Azhary.”

Beliau berkata dalam Tahdziibul Lughoh (10/hal. 12, Cet.-1, Daar Ihyaaut Turots) ketika mendefinisikan syirik:

والشرك: أَن تجْعَل لله شَرِيكا فِي رُبُوبيَّته، تَعَالَى الله عَن الشُّركاءِ والأنْدَادِ

“Syirik adalah; (tatkala) engkau menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Allah dalam Rububiyyah-Nya, Mahatinggi Allah dari berbagai macam sekutu dan tandingan.”

Termasuk dalam lingkup Rububiyyah Allah adalah; pengetahuan tentang yang ghaib, menciptakan dan memilihara alam semesta, menghidupkan dan mematikan makhluk, menurunkan penyakit dan menyembuhkan, membagi rizki makhluk, dsb. Ketika seseorang meyakini ada selain Allah yang memiliki kekuasaan atau kekuatan mandiri dalam Rububiyyah, maka saat itu ia telah berbuat syirik pada Allah.

Syirik Menurut Imam as-Sam’aaniy rahimahullaah

Beliau adalah ulama besar Syafi’iyyah abad ke-5, wafat tahun 489-H. Sangat mengakar dalam ilmu tafsir dan periwayatan. Di antara karya tulis beliau adalah; Tafsiir as-Sam’aaniy, al-Intishoor Li-ash-haabil Hadiits, dan al-Qowaathi’ di bidang ushul fiqh.

Beliau berkata dalam tafsirnya (Tafsir as-Sam’aaniy: 2/121, Cet.-1, Daarul Wathon – Riyadh, 1418-H) ketika menafsirkan ayat ke-81 dari Surat al-An’am:

الْإِشْرَاك: هُوَ الْجمع بَين الشَّيْئَيْنِ فِي مَعْنًى؛ فَالإشْرَاكُ بِاللَّهِ: هُوَ أَن يُجْمَعَ مَعَ اللهِ غَيْرُ اللهِ فِيمَا لَا يجوز إِلَّا لِلَّهِ.

“Kesyirikan adalah menggabungkan antara dua hal dalam satu makna. Maka yang dimaksud dengan syirik pada Allah adalah menggabungkan antara Allah dan selain-Nya, dalam perkara yang tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya bagi Allah saja.”

Mari mengambil contoh sederhana; ibadah. Kita sepakat bahwa ibadah hanya boleh diperuntukkan bagi Allah semata. Nah, tatkala ibadah tersebut diselewengkan kepada selain Allah (walaupun di saat yang sama pelakunya masih beribadah kepada Allah), maka saat itu sang pelaku dikatakan telah berbuat syirik pada Allah. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, sang pelaku telah “menduakan” Allah dalam ibadahnya. Inilah hakikat syirik menurut Imam as-Sam’aaniy.

Kata kuncinya ada pada ungkapan beliau “…dalam perkara yang tidak boleh diperuntukkan kecuali hanya bagi Allah saja.” Banyak hal bisa ditimbang dengan kata kunci tersebut, termasuk perkara-perkara yang terkait dengan Rububiyyah Allah seperti; pengetahuan tentang hal ghaib, penciptaan makhluk, pembagian rizki makhluk, menyembuhkan, mematikan, dsb.

Syirik Menurut Imam an-Nawawi rahimahullaah

Beliau wafat tahun 676-H. Merupakan salah satu ulama Syafi’iyyah yang terbesar dan paling tersohor hingga hari ini. Karya tulis beliau yang paling fenomenal adalah al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, penjelasan kandungan Shahih Muslim.

Beliau mengatakan dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (2/71, cet.-2 Daar Ihyaa’ at-Turaats, 1392-H) ketika berbicara tentang definisi kufur dan syirik:

الشِّرْكُ وَالْكُفْرُ قَدْ يُطْلَقَانِ بِمَعْنًى وَاحِدٍ وَهُوَ الْكُفْرُ بِاللهِ تَعَالَى، وَقَدْ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا فَيُخَصُّ الشِّرْكُ بِعِبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْمَخْلُوْقَاتِ مَعَ اعْتِرَافِهِمْ بِاللهِ تَعَالَى ككفار قريش فيكون الكفر أعم من الشرك

“Syirik dan kufur terkadang dimutlakkan penyebutan keduanya pada satu makna, yaitu al-Kufru (kekufuran) pada Allah ta’aala. Dan terkadang keduanya dibedakan, sehingga istilah syirik secara khusus mengandung makna: peribadatan kepada autsaan (patung-patung) atau selainnya dari kalangan makhluk, sekaligus mengakui Allah sebagai Tuhan. (Syirik model ini) persis seperti kesyirikan kaum kafir Quraisy. Dengan demikian, isitilah kufur punya pengertian yang lebih umum (luas) dibanding syirik.”

Berdasarkan definisi tersebut, ada kesimpulan penting yang bisa dirumuskan terkait pemahaman Imam Nawawi rahimahullaah tentang syirik:

“Bahwasyirik adalah beribadah kepada makhluk di samping juga beribadah kepada Allah. Dan bahwasanyakaum kafir Quraisy beriman kepada Allah akan tetapi mereka memperuntukkan sebagian ibadah mereka kepada selain Allah.”

Syirik Menurut Imam Ibnu Katsiir rahimahullaah

Seorang ahli tafsir dan sejarawan besar Islam, yang juga terhitung salah satu pembesar Syafi’iyyah. Beliau wafat tahun 774-H. Dalam bidang tafsir, tentunya tidak ada penggelut ilmu tafsir yang tidak mengenal karya beliau Tafsiirul Qur-aanil ‘Azhiim. Dalam bidang sejarah, beliau punya karya yang melegenda berjudul al-Bidaayah wan-Nihaayah.

Beliau menegaskan bahwa orang-orang musyrik di masa Nabi r sebenarnya mengakui Rububiyyah Allah, namun mereka tetap dikatakan berbuat syirik karena beribadah kepada selain Allah (berhala orang shalih) dengan dalih; berhala-berhala tersebut bisa mendekatkan mereka kepada Allah.

Ketika menafsirkan firman Allah dalam QS. al-Mu’minun ayat 84 sampai 89, beliau menegaskan:

قَالَ لِرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقُولَ لِلْمُشْرِكِينَ الْعَابِدِينَ مَعَهُ غَيْرَهُ، الْمُعْتَرِفِينَ لَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ، وَأَنَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فِيهَا، وَمَعَ هَذَا فَقَدَ أَشْرَكُوا مَعَهُ في الْإِلَهِيَّةِ، فَعَبَدُوا غَيْرَهُ مَعَهُ، مَعَ اعْتِرَافِهِمْ أَنَّ الَّذِينَ عَبَدُوهُمْ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا، وَلَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا، وَلَا يَسْتَبِدُّونَ بِشَيْءٍ، بَلِ اعْتَقَدُوا أَنَّهُمْ يُقَرِّبُونَهُمْ إِلَيْهِ زُلْفَى: {مَا (1) نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى} [الزُّمَرِ: 3]

“Allah berfirman kepada Rasul-Nya Muhammad r agar berkata (melemparkan argumen) kepada orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah di samping juga beribadah kepada-Nya, orang-orang musyrik yang (sebenarnya) mengakui Rububiyyah (Allah) dan bahwasanya Dia tidak punya sekutu/tandingan dalam Rububiyyah tersebut. Namun begitu, mereka tetap berbuat syirik dalam Uluhiyyah, (yaitu dengan) beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya, disertai pengakuan bahwasanya sesembahan-sesembahan mereka itu tidak mampu menciptakan suatu apapun, tidak memiliki secuil apapun, dan tidak menguasai sedikitpun, tetapi mereka (orang-orang musyrik) berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan itu mampu mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya (sebagaimana firman Allah dalam QS. az-Zumar: 3 yang artinya[1]): “Tidaklah kami mengibadahi mereka (di samping kami beribadah kepada Allah), melainkan supaya mereka sudi memberi kami syafa’at dan mendekatkan kedudukan kami di sisi Allah.”

Kesimpulan

Menurut Imam-Imam Syafi’iyyah (yang juga Imam kaum muslimin) di atas, kesyirikan adalah; menyekutukan Allah dalam Rububiyyah dan ‘Uluhiyyah-Nya. Kebanyakan jenis syirik adalah syirik dalam hal Uluhiyyah, yaitu beribadah kepada Allah dan juga kepada selain-Nya, atau memalingkan sesuatu yang menjadi hak Allah berupa peribadatan kepada selain-Nya, seperti menyembelih kurban sebagai bentuk pengabdian kepada selain Allah (baca: sesajen), dsb.

***

Artikel: http://alhujjah.com

8 Jumadil Akhir 1433-H /29 April 2012

Penyusun:

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

Muroja’ah:

Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc.

(Mudir Ma’had Abu Hurairah Mataram – Lombok NTB)


[1]     Disadur maknanya dari at-Tafsiir al-Muyassar, yang disusun bersama oleh pakar-pakar tafsir, Cet.-2, Majma’ul Malik Fahd, KSA, 1430-H:

قالوا: ما نعبد تلك الآلهة مع الله إلا لتشفع لنا عند الله، وتقربنا عنده منزلة، فكفروا بذلك؛ لأن العبادة والشفاعة لله وحده

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: