Tinggalkan komentar

Sejatinya, Pengingkar Eksistensi Tuhan Tidak Ditemukan di Jagad Raya Ini

Tak ada satu pun makhluk yang mengingakari eksistensi Allah sebagai Tuhan jagad semesta. Tak ada satu pun makhluk yang menolak bahwa ada Dzat yang mengatur alam semesta ini, ada Dzat yang menciptakan dan memeliharanya. Inilah esensi Tauhid Rububiyyah yang sejatinya telah dibawa oleh insan manusia semenjak mereka lahir ke muka bumi.

Secara fitrah, tidak ada makhluk yang mengingkari Tauhid Rububiyyah ini, tidak secara ta’thiil (penolakan), dan tidak pula secara tasyriik (penyekutuan). Kecuali apa yang muncul dari sikap Fir’aun, dia menolak Rububiyyah Allah dan mengingkari keberadaan-Nya secara ta’thiil atas dasar kesombongan. Allah mengabarkan tentang Fir’aun (yang berucap):

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأَعْلَى

“Maka dia (Fir’aun) berkata: ‘Akulah Tuhan kalian yang tinggi’” [QS. An-Naazi’at: 24]

مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ ِالَهٍ غَيْرِيْ

“Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain aku (Fir’aun)”. [QS. Al-Qoshosh: 38]

Kesombongan inipun muncul karena pada hakekatnya, dia (Fir’aun) mengetahui bahwasanya ada Tuhan selain dirinya, dan dirinya bukanlah Tuhan. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“dan mereka menentangnya, padahal mereka meyakini bahwa mereka telah berbuat zhalim dan sombong.” [QS. An-Naml: 14]

Allah juga berfirman mengisahkan tentang Musa tatkala berdialog dengan Fir’aun:

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Maka Musa ‘alaihissalam berkata pada Fir’aun: ‘Sungguh engkau—wahai Fir’aun—sebenarnya telah meyakini bahwasanya tidak ada seorang pun yang mampu menurunkan 9 jenis mukjizat sebagai tanda kenabianku itu melainkan hanya Tuhan langit dan bumi, agar menjadi bukti bagi orang-orang berilmu perihal Rububiyyah-Nya[1] dan Uluhiyyah-Nya[2], dan aku sangat meyakini bahwa engkau—wahai Fir’aun—adalah orang yang binasa, terlaknat, dan terkalahkan.  [QS. Al-Isroo’: 102][3]

Jadi, Fir’aun sejatinya mengakui dalam hati bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah.

Adapun mereka yang mengingkari Rububiyyah dari sisi tasyriik (penyekutuan), adalah orang-orang Majusi yang mengatakan: “Sesungguhnya alam ini punya dua Tuhan, Tuhan Cahaya dan Tuhan Kegelapan. Kendati demikian, mereka (secara fitrah) tidak menjadikan dua Tuhan tersebut memiliki kedudukan yang sama.

Mereka (Majusi) mengatakan: “Tuhan Cahaya lebih baik daripada Tuhan Kegelapan, karena Tuhan Cahaya menciptakan kebaikan, sedang Tuhan Kegelapan menciptakan keburukan. Dan pencipta kebaikan tentu lebih baik daripada pencipta keburukan ….”

[Disarikan dari Qoulul Mufiid: 1/12-13, Imam Ibnu ‘Utsaimin]

***

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)


[1]  Tauhid Rububiyyah: meyakini bahwa hanya Allah semata, Tuhan semesta alam yang mencipta, memelihara, menghidupkan, mematikan, member rizki, dll.

[2]  Tauhid Uluhiyyah: meyakini bahwa hanya Allah semata, satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar sesuai tuntunan syari’at. Tauhid Uluhiyyah ini merupakan inti dakwah para Rasul seluruhnya.

[3]  at-Tafsiir al-Muyassar hal. 292,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: