Tinggalkan komentar

Fawâ-id Ushul – 02: Jika Kaidah Madzhab Bertentangan dengan Dalil (Umum—sekalipun—)

Para ulama yang setia berjalan di atas manhaj Salafush Shâlih telah menegaskan bahwa:

القَاعِدَةُ لَا تَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيْلٍ فَيُسْتَدَلُّ لَهَا مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَلَا يُسْتَدَلُّ بِهَا إذَا لَمْ تَثْبُتْ بِالدَّلِيْلِ

“Suatu kaidah tidak bisa dianggap sebagai kaidah kecuali jika didasari oleh dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, dan kaidah tersebut tidak bisa dijadikan dalil jika belum didasari oleh dalil”

Sehingga, kaidah apa saja yang tidak berlandaskan kepada dalil dari al-Qur’an ataupun Sunnah, maka kaidah tersebut adalah kaidah yang tidak dianggap, dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

Sebagai contoh, dalam Madzhab Mâliki ada sebuah kaidah fiqih yang berbunyi:

الأصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الْحُرْمَةُ إلَّا إذَا وَرَدَ الدَّلِيْلُ بِحِلِّهَا

“Hukum asal segala sesuatu adalah terlarang atau haram, kecuali ada dalil yang menerangkan akan kebolehan atau kehalalannya.”[1]

Kaidah ini bertentangan dengan firman Allah:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ

“Allah telah menundukkan untuk kalian apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya sebagai anugerah dari-Nya…” [QS. Al-Jâtsiyah: 13]

Contoh lain—dari kaidah yang bertentangan dengan nash—, adalah kaidah perihal syarat penetapan keabsahan suatu nash dalil dalam Madzhab Hanafi, kaidah tersebut berbunyi:

خَبَرُ الآحَادِ غَيْرُ مُعْتَمَدٍ فِيْمَا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى[2]

“Dalil yang bersumber dari periwayatan ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) terkait masalah-masalah yang bersifat urgen-mendesak dan menyangkut pengamalan kaum muslimin secara luas, maka riwayat tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sandaran pendalilan.”[3]

Kaidah ini tidak bisa diterima karena bertentangan dengan keumuman firman Allah:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ

“Apa saja yang datang dari Rasul, maka ambillah ia (dan jadikan sebagai pegangan)…” [QS. Al-Hasyr: 7]

***

Lombok, 17 Rabî’uts Tsâni 1434 – 28 Jan. 2013

Al-Faqiiru ilaa ‘Afwil Maulâ

Abi Ziyân Halim


[1]  Al-Bâ’itsul Hatsîts fî Taudhîhi Ushûlil Fiqhi ‘alaa Manhaji Ahlil Hadîts hal. 9, Syaikh Abu Khâlih Nâshir bin Sa’îd as-Saif, Dâr Ibn Khuzaimah.

[2]  Definisi ‘Umûmul Balwa: “عموم البلوى: شيوع الامر وانتشاره علما أو عملا مع الاضطرار إليه” [Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ hal. 110, Dâr an-Nafâ-is, 1408-H]

[3]  Al-Bâ’itsul Hatsîts fî Taudhîhi Ushûlil Fiqhi ‘alaa Manhaji Ahlil Hadîts hal. 9.

Faidah: perlu dicatat bahwa para ulama Ushûl meletakkan beberapa kaidah dalam menetapkan suatu dalil lebih dikedepankan (ar-râjih) dibandingkan dengan dalil yang lain (al-marjûh), salah satunya adalah; “Bahwa riwayat âhad pada perkara yang tidak ada ‘Umûmul Balwa-nya lebih dikedepankan dibanding riwayat âhad yang ada ‘Umûmul Balwa-nya.” [lih. Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaithiyyah: 22/102, asy-Syâmilah].

Contoh perkara yang termasuk ‘Umûmul Balwa; masalah batasan penyebab mandi junub, apakah keluarnya mani (riwayat dari Abu Sa’îd al-Khudri) atau sekedar bersentuhannya dua kemaluan (riwayat dari ‘Aisyah), para Sahabat lebih menguatkan riwayat ‘Aisyah radhiallaahu’anha karena beliau dianggap lebih dekat pada Rasulullâh sehingga mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Sahabat yang lain. Lagi pula masalah mandi junub ini ada unsur ‘Umûmul Balwa-nya yang merupakan masalah umum dan punya urgensi tinggi karena menyangkut sah tidaknya ibadah yang lain, seperti solat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: