Tinggalkan komentar

“Pelajaran al-Wala’ wal Bara'” dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani[1] rahimahullaah (wafat: 561-H), menjelaskan bagaimana kebencian dan permusuhan karena Allah ditegakkan oleh ahlussunnah terhadap para penyeleweng agama dari kalangan ahlul bid’ah (da’i-da’i & tokoh aliran sesat). Dalam kitabnya al-Ghun-yah (jilid 1/ hal. 165, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah) beliau mengatakan:

ألَّا يُكَاثِرُ أَهْلَ الْبِدَعِ وَلَا يُدَانِيْهِمْ، وَلَا يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ

“Agar (selayaknya ahlussunnah) tidak membiarkan ahlul bid’ah (da’i-da’i aliran sesat) berkembang, tidak mendekat pada mereka, dan tidak mengucapkan salam pada mereka…”

sampai-sampai beliau mengatakan:

ولا يجالسهم ولا يقرب منهم ولا يهنيهم في الأعياد وأوقات السرور، ولا يصلي عليهم إذا ماتوا، ولا يترحم عليهم إذا ذكروا بال يباينهم ويعاديهم في الله عز وجل، معتقدا ومحتسبا بذلك الثواب الجزيل والأجر الكثير.

“Dan tidak duduk bersama mereka, tidak mendekati mereka, tidak mengucapkan selamat pada perayaan-perayaan mereka dan pada waktu-waktu mereka bergembira, tidak menyolatkan jenazah mereka, tidak mengucapkan (do’a) “rahimahullaah” ketika nama mereka disebut. Bahkan pisah dari mereka, memusuhi mereka karena Allah ‘azza wa jalla, atas dasar keyakinan dan harapan dari sikap (Baraa’) tersebut akan pahala yang besar dan ganjaran yang banyak.” 

Jika demikian sikap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah terhadap segelintir muslim yang menjadi tokoh dan penyeru kesesatan, maka bisa dibayangkan bagaimana sikap (baraa’) beliau terhadap orang-orang kafir.

Karena menurut keyakinan ahlussunnah, seorang muslim yang fasik tetap berhak mendapatkan perlakuan walaa’ dari muslim yang lain seukuran iman yang masih bersemayam dalam hatinya, kendati juga tetap disikapi dengan baraa’ sesuai kadar kefasikannya. Berbeda halnya dengan orang-orang kafir, yang tidak memiliki pokok iman. Maka baraa’ kita terhadap mereka haruslah mutlak 100%, dan walaa’ tidak boleh kita berikan kepada mereka sekalipun hanya 0,1%.


[1] Beliau adalah salah seorang ulama ahlussunnah yang diagung-agungkan sebagai tokoh sufi besar di dunia tasawuf. Padahal ajaran beliau sangat jauh bertolakbelakang dengan praktek thariqoh-thariqoh sufiyyah di zaman ini. Kitab al-Ghun-yah adalah bukti otentik ajaran beliau yang sejalan dengan manhaj salaf. Di dalamnya (1/hal. 179) bahkan terdapat bantahan kepada sekte Syi’ah-Rafidhah yang jelas-jelas punya hubungan erat dengan tasawuf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: