1 Komentar

Antara Kita dan Iblis (4 Cakupan Iman pada Allah)

Artikel ini adalah sumbangan dari al-Akh Shalihin (zaadahullaahu hirshan fii tholabil ‘ilmi), sangat bermanfaat dalam memahami pondasi dasar keimanan pada Allah. Saya (Abu Ziyan) hanya memberikan sedikit tambahan di antara tanda [..] dan sedikit perubahan dengan tanda strikethrough.

[Prolog]

Sering kita mendengar di mimbar-mimbar khutbah jum’at  dan di pengajian-pengajian umum, para khotib dan da’i di awal-awal khutbah dan kajian mereka mengajak kaum muslimin dan muslimat untuk meningkatkan keimanan mereka kepada Allah Y, bahkan di media-media massa dan elektronik, seperti televisi, radio, internet dan lain-lain tidak jarang kita temukan ajakan-ajakan seperti itu, yang pantas dan layak kita apresiasi dan acungkan jempol.

Namun sangat disayangkan, jarang sekali kita temukan penjelasan tentang hakikat keimanan kepada Allah, padahal pengetahuan tentang keimanan kepada Allah merupakan hal yang paling penting dan kewajiban yang paling wajib bagi manusia secara umum dan bagi kita yang mengaku beragama Islam secara khusus, karena hal itu adalah pondasi yang paling dasar, yang apabila pondasi ini hampa dari seseorang, bisa dipastikan dia berada di atas kebinasaan dan kehancuran, baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

[Apa Bedanya Kita dengan Iblis? Bukankah Iblis Juga Beriman..?!!]

Oleh karena [itu] pada tulisan [ini] kami ingin mengangkat tema tentang hakikat keimanan kepada Allah. Apa hakikat iman kepada Allah? Apakah beriman kepada Allah itu hanya sekedar percaya akan adanya Allah dan meyakini kalau Allah itu Rabb kita?, kalau memang demikian, lalu apa bedanya dengan iblis yang percaya akan keberadaan Allah dan meyakini kalau Allah itu Rabbnya, sebagaimana yang Allah firmankan [ketika] mengisahkan ucapan iblis :

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Iblis berkata: “Ya Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan” (QS. Shaad : 79)

Perhatikanlah ayat di atas, iblis mengakui dan meyakini bahwa Allah adalah Rabbnya.

Bahkan lebih dari itu, iblis meyakini akan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Allah berfirman menceritakan ucapan iblis :

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Shaad : 82-83).

Walaupun iblis meyakini akan keberadaan Allah, meyakini Allah sebagai Rabbnya dan bahkan meyakini akan keperkasaan dan kekuasaan Allah, namun Allah tetap dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa Iblis adalah makhluk yang kafir, dilaknat, dikutuk dan kekal di dalam neraka. Sebagaimana firman Allah :

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

“Allah berfirman (kepada iblis): “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan. (QS. Shaad: 77-78)

Kalau memang demikian kenyataannya, lalu bagaimana konsep keimanan yang sesungguhnya kepada Allah?, Agar kita menjadi orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah yang sering mendapatkan pujian baik dalam Al-qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah.

[4 Cakupan Iman Pada Allâh]

Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin menyebutkan di dalam kitab beliau yang sangat berharga “Syarhu Usulil Iman” bahwa iman kepada Allah harus mencakup 4 hal, kalau 4 hal ini tidak direalisasikan, maka kita belum layak dan pantas untuk menyandang gelar sebagai orang yang beriman kepada Allah. 4 hal tersebut adalah :

1. Meyakini dengan benar-benar yakin akan keberadaan Allah

Fitrah manusia, akal, syara’ dan panca indra semuanya mengakui akan keberadaan Allah.

Seluruh makhluk termasuk manusia telah diberi fitrah oleh Allah untuk meyakini eksistensi Allah, tanpa didahului oleh perenungan dan pembelajaran. Sebagaimana sabda Rasulullah :

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

“Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah/Islam (yang mengakui akan keberadaan Allah), kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi” (HR Muslim).

Kemudian secara akal yang sehat, alam semesta beserta isinya yang begitu indah dan teratur ini tidak mungkin ada dengan sendirinya atau muncul secara kebetulan. Semua ini pasti ada yang menciptakannya yaitu Allah. Firman Allah :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ (37

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan), Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?” (QS. At-tuur : 35-37).

Kemudian bukti secara syara’ akan keberadaan Allah, semua kitab suci yang diturunkan oleh Allah di samping membawa hukum dan aturan-aturan yang mengandung kemaslahatan bagi manusia, juga mengabarkan tentang kejadian-kejadian alam semesta yang bisa disaksikan dalam kehidupan nyata. Hal ini merupakan bukti kuat bahwa Allah itu ada dan mampu merealisasikan semua informasi yang disebutkan di dalam kitab-kitab suci dalam kehidupan nyata, yang bisa disaksikan oleh manusia.

Panca indra manusia, juga menyaksikan dan membuktikan akan keberadaan Allah. Kita sering mendengar dan menyaksikan orang-orang yang do’anya terkabulkan atau datangnya pertolongan kepada orang-orang yang benar-benar dalam kesempitan. Kita juga sering mendengar tentang mukjizat para Nabi yang disaksikan oleh manusia. Semuanya ini merupakan bukti yang tak terbantahkan akan eksistensi Allah, karena hanya Allahlah yang mampu menciptakan keadaan-keadaan yang terjadi diluar nalar manusia (mukjizat), untuk menolong dan menguatkan para Nabi-Nya.

2. Meyakini dengan sepenuh hati akan Rububiyyah Allah

Yaitu dengan meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang menciptakan, yang menguasai sekaligus yang mengatur alam semesta ini, setetespun tidak ada campur tangan makhluk. Allah berfirman :

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al A’raf: 54).

Allah juga berfirman :

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari” (QS. Faatir: 13).

PERINGATAN PENTING : “hanya sekedar beriman akan Rububiyyah Allah tidak cukup untuk menjadikan seseorang menyandang status sebagai orang yang Islam [mukmin], karena orang kafir jahiliyahpun meyakini akan Rububiyyah Allah.”

 Bukti kuat yang tak terbantahkan untuk membuktikan pernyataan di atas sangat banyak. Di antaranya firman Allah :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka (orang-orang kafir): “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Az-zukhruf : 9).

Bagi yang mau menambah bukti, silahkan lihat surah Al Mu’minun : 84-89, Az Zukhruf 87, dan Yunus: 31.

3. Meyakini dengan keyakinan yang kuat yang tidak disisipi oleh sedikitpun keraguan akan Uluhiyyah Allah

Yaitu menyerahkan semua bentuk ibadah, baik ibadah hati, lisan, anggota badan maupun ibadah-ibadah lainnya hanya untuk Allah semata, tidak untuk yang selain-Nya meskipun hanya secuil. Banyak bukti di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya firman Allah :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS 162-163).

Keyakinan akan Uluhiyyah Allah Inilah yang menjadi jurang pemisah antara mukmin dengan kafir, sekaligus menjadi titik puncak perseteruan sengit antara Nabi Muhammad dengan kaum kafir jahiliyyah. Mereka enggan untuk menyerahkan ibadah hanya untuk Allah. Sehingga ketika mereka di ajak untuk menyerahkan semua ibadah kepada Allah, mereka menjawab:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shaad: 5).

  • 4. Meyakini dengan sungguh-sungguh akan nama-nama dan sifat-sifat Allah

Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat Allah yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang layak dan sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah, tanpa menyamakannya dengan nama dan sifat makhluk yang penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Firman Allah :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” (QS Asy Syura: 11).

 

4 hal inilah yang menjadikan seseorang layak dan pantas menyandang gelar sebagai orang yang beriman kepada Allah. Jika salah satu dari 4 hal ini belum kita yakini, maka pengakuan kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, masih perlu dipertanyakan lagi.

***

Al Anshari Shalihin

(http://www.facebook.com/alanshari.shalihin)

One comment on “Antara Kita dan Iblis (4 Cakupan Iman pada Allah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: