Tinggalkan komentar

Besarnya Celaan dan Siksaan, Berbanding Lurus dengan Tingginya Kemuliaan dan Kedudukan

Renungan akan sebuah ayat yang mulia berikut ini, sudah seharusnya menjadikan para da’i dan guru dalam kebajikan, terbang melayang dalam rasa takut yang hebat. Betapa tidak, manakala Allâh berfirman:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا. ومن يقنت منكن لله ورسوله وتعمل صالحاً نؤتها أجرها مرتين واعتدنا لها رزقاً كريماً

“Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” [QS. Al-Ahzâb: 30-31]

ada semacam benang merah yang Nampak jelas sekali antara kedudukan istri-istri Nabi dan kedudukan para ‘alim ulama dalam masalah amal. Benang merah tersebut diungkapkan oleh Abul Barakât ‘Abdullâh as-Sinfi rahimahullâh (wafat: 710-H) dalam ucapannya:

ضعفي عذاب غيرهن من النساء؛ لأن ما قبح من سائر النساء كان أقبح منهن، فزيادة قبح المعصية تتبع زيادة الفضل، وليس لأحد من النساء مثل فضل نساء النبي – – ولذا كان الذم للعاصي العالم أشد من العاصي الجاهل؛ لأن المعصية من العالم أقبح

“Siksaan bagi istri-istri Nabi (jika bermaksiat), kadarnya dua kali lipat jika dibandingkan dengan siksaan untuk wanita-wanita selain mereka. Karena perbuatan buruk dari wanita lain, nilainya jauh lebih buruk jika dilakukan oleh mereka dalam status mereka sebagai istri seorang Nabi. Maka, bertambahnya nilai buruk suatu maksiat, sebanding dengan kedudukan orang yang melakukan maksiat tersebut. Dan telah dimaklumi bahwa tidak ada wanita yang lebih mulia kedudukannya dari istri-istri Nabi. Oleh sebab itulah, celaan terhadap orang berilmu yang bermaksiat, lebih keras daripada celaan terhadap seorang jahil yang bermaksiat. Dikarenakan kemaksiatan dari seorang ‘âlim lebih buruk (dari kemaksiatan yang dilakukan oleh selain mereka).[1]

Semoga Allâh merahmati Ibnu Jamâ’ah rahimahullâh yang melisankan kalimat indah berikut ini:

واعلم أن جميع ما ذكر من فضيلة العلم والعلماء إنما هو في حق العلماء العاملين الأبرار المتقين الذي قصدوا به وجه الله الكريم والزلفى لديه في جنات النعيم. لا من طلبه لسوء نية أو خبث طوية أو لأغراض دنيوية من جاه أو مال أو مكاثرة في الأتباع والطلاب

“Ketahuilah, bahwasanya segenap ucapan perihal keutamaan ilmu dan ulama yang telah disebutkan, hanyalah tertuju pada mereka; orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, yang bertaqwa lagi shalih, yang mengarahkan niatnya pada Wajah Allâh semata serta kedekatan di sisi-Nya kelak di surga penuh kenikmatan. Bukannya bagi mereka para penuntut ilmu dengan latarbelakang niat yang busuk lagi kotor, atau demi tujuan-tujuan duniawi berupa kedudukan, harta, atau untuk megah-megahan dengan memperbanyak pengikut dan murid.” [Tadzkiratus Sâmi’ wal Mutakallim hal. 13]

Dan semoga Allâh merahmati penyair yang mencela para pendidik di atas ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya:

غَيْرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ بِالتُّقَى     طَبِيْبٌ يُدَاوِي النَّاسَ وَهُوَ عَلِيْلُ

“Seorang pendosa yang mengajak manusia untuk bertaqwa ** (layaknya) Tabib yang mengobati orang lain sementara dia sendiri dalam keadaan sakit.”

***

Lombok, 15042013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)


[1] Madârikut Tanzîl (Tafsir as-Sinfi): 3/29, Dârul Kalimut Thayyib, 1419.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: