Tinggalkan komentar

Hadits Nabawi Penyingkap Manhaj Aneh Para Ekstrimis al-Jarh wat Ta’dil

Saya amat tercengang ketika membuka salah satu halaman website resmi Syaikh ‘Ali Hasan al-Alhalaby hafizhahullâh. Terus terang, baru kali ini saya membaca riwayat tersebut. Semakin menguatkan keyakinan saya, bahwa istana megah al-Jarh wat Ta’dîl yang telah susah payah dibangun oleh para Muhaddits Salafuna ash-Shâlih, di zaman ini benar-benar telah dikotori oleh segelintir “Oknum Salafi” yang tidak bertanggungjawab.

Jadilah al-Jarh wat Ta’dîl tidak lebih dari sehelai kain pembenaran—atas nama agama—yang menutupi bobroknya nafsu lisan untuk mengumpat dan mencela. Jadilah al-Jarh wat Ta’dîl topeng berwajah shâlih di atas wajah yang terbakar api kebencian dan hasad terhadap ‘alim-‘ulama di atas Sunnah. Nas-alullâh al ‘Aafiyah.

Inilah Kisahnya…

Syaikh ‘Ali Hasan membuka riwayat tersebut dengan judul:

Hadits Nabawi yang mulia, menyingkap cacat prinsipil pada manhaj Saudara-Saudara kita (para ekstrimis dalam masalah al-Jarh wat Ta’dîl)—yang aneh—.

Al-Imâm Abu Dâwud berkata dalam as-Sunan (4659): “Ahmad bin Yûnus mengabarkan pada kami; Zâidah bin Qudâmah ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami; ‘Umar bin Qais al-Mâshir mengabarkan pada kami bahwasanya ‘Amr bin Abi Qurrah berkata:

Suatu ketika Hudzaifah berada di Madâ-in. Dia bercerita tentang beberapa hal yang diucapkan oleh Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang dari kalangan Sahabat-Sahabatnya—ketika beliau dalam keadaan marah—.

Maka orang-orang yang mendengar kisah Hudzaifah tersebut pun pergi, lantas mereka mendatangi Salmân kemudian mereka menceritakan apa yang dikatakan oleh Hudzaifah. Maka Salmân pun berkata: “Hudzaifah lebih tahu tentang ucapannya sendiri.”

Orang-orang tersebut kembali lagi menemui Hudzaifah. Mereka berkata kepadanya: “Kami telah sampaikan ucapanmu kepada Salmân, dan dia tidak mempercayaimu juga tidak mendustakanmu.” Hudzaifah kemudian datang menemui Salmân yang kala itu tengah berada di Mabqalah. Hudzaifah berkata kepada Salmân: “Wahai Salmân, apa yang mencegahmu untuk mempercayai apa yang aku dengar dari Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam?!”

Maka Salmân berkata: “Sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam terkadang berada dalam kondisi marah, lantas beliau berucap dalam kondisi marah pada Sahabat-Sahabatnya. Terkadang juga beliau berada dalam situasi ridha, lantas beliau pun berucap dalam situasi tersebut pada Sahabat-Sahabatnya.”

Salmân lanjut mengatakan: “Tidakkah engkau menghentikan sikapmu ini (wahai Hudzaifah), sampai engkau mewariskan generasi yang mencintai sebagian orang, dan membenci sebagian yang lain? Atau sampai engkau memunculkan perselisihan dan perpecahan? Sementara engkau sudah mengetahui bahwa Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah:

“Laki-laki manapun dari ummatku yang pernah aku cela dengan suatu celaan, atau yang pernah aku hardik dengan hardikan—ketika aku marah—, maka sejatinya aku hanya seorang anak Adam—yang bisa marah sebagaimana yang lain juga bisa marah, hanya saja aku ini diutus sebagai rahmat bagi semesta alam—, maka jadikanlah celaan tersebut sebagai do’a untuknya di hari akhirat”.

Salmân lanjut berkata: “Demi Allâh (wahai Hudzaifah), sungguh engkau harus berhenti dari perbuatanmu ini, atau aku laporkan engkau kepada ‘Umar (Amîrul Muminîn).”

Takhrij Riwayat

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halaby hafizhahullâh berkata—setelah membawakan riwayat di atas—:

“Kisah tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (234), dan at-Târîkh al-Kabîr (280) dan (281), Musnad Imâm Ahmad (23706 dan 23721), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jamul Kabîr (61560), Abu Nu’aim dalam Tatsbîtul Imâmah (159), al-Khathîb al-Baghdâdi dalam Tâlît Talkhîsh (70), al-Bazâr dalam al-Bahruz Zikhâr (2532), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Musnad (467), al-Mushannaf (34679), Ibnu Makhlad al-‘Ath-thâr dalam Hadîts Ibni Karâmah (27), al-Mizzi dalam Tahdzîbul Kamâl (21/486).

Dishahihkan oleh Syaikh kami al-Imâm al-Albâni rahimahullâh dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (1758).

Lihat juga—jangan sampai tidak—: ‘Ilalul Hadîts (hal. 640) oleh Ibnul Madîni, dan at-Taqrîbut Tahdzîb (5079) oleh Ibnu Hajar.

***

Diterjemahkan di Lombok, 21 Jumada ats-Tsâni 1434 / 21-04-2013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

Wallâhua’lam

 ***

Lampiran Teks Asli

Teks asli diambil dari http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=3213

حديثٌ نبويٌّ جليل يكشف الخلل الأصيل (!)

 في منهج إخواننا (غلاة الجرح والتعديل)-الدخيل-!

قال الإمام أبو داود في «السنن» (4659 ):

«حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ الثَّقَفِيُّ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ قَيْسٍ الـْمَاصِرُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي قُرَّةَ، قَالَ: كَانَ حُذَيْفَةُ بِالـْمَدَائِنِ ، فَكَانَ يَذْكُرُ أَشْيَاءَ قَالَهَا رَسُولُ الله-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لأنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ -فِي الْغَضَبِ-.

فَيَنْطَلِقُ نَاسٌ -مِمَّنْ سَمِعَ ذَلِكَ مِنْ حُذَيْفَةَ- ، فَيَأْتُونَ سَلْمَانَ ، فَيَذْكُرُونَ لَهُ قَوْلَ حُذَيْفَةَ، فَيَقُولُ سَلْمَانُ: حُذَيْفَةُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُ.

فَيَرْجِعُونَ إِلَى حُذَيْفَةَ ، فَيَقُولُونَ لَهُ: قَدْ ذَكَرْنَا قَوْلَكَ لِسَلْمَانَ ؛ فَمَا صَدَّقَكَ وَلا كَذَّبَكَ! فَأَتَى حُذَيْفَةُ سَلْمَانَ -وَهُوَ فِي مَبْقَلَةٍ-، فَقَالَ: يَا سَلْمَانُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تُصَدِّقَنِي بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-!؟

فَقَالَ سَلْمَانُ: إِنَّ رَسُولَ الله-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يَغْضَبُ؛ فَيَقُولُ فِي الْغَضَبِ لِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، وَيَرْضَى ؛ فَيَقُولُ فِي الرِّضَا لِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ.

أَمَا تَنْتَهِي حَتَّى تُوَرِّثَ رِجَالاً حُبَّ رِجَالٍ ، وَرِجَالاً بُغْضَ رِجَالٍ، وَحَتَّى تُوقِعَ اخْتِلافًا وَفُرْقَةً؟!

وَلَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ الله-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- خَطَبَ ، فَقَالَ: «أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ سَبَّةً، أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً -فِي غَضَبِي-؛ فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ وَلَدِ آدَمَ – أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ، وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ-؛ فَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ صَلاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ». وَالله لَتَنْتَهِيَنَّ ، أَوْ لأكْتُبَنَّ إِلَى عُمَرَ».

قلتُ:

ورواه البخاري في «الأدب»-المفرد-(234)،و«التاريخ الكبير»(280)و(281)،وأحمد (23706)،و(23721)،والطبراني في «المعجم الكبير»(61565) ،وأبو نُعيم في «تثبيت الإمامة»(159) ،والخطيب البغدادي في «تالي التلخيص»(80)،والبزار (2532 -«البحر الزخار»)،وابن أبي شيبة في «المسند»(467)،و«المصنَّف»(34679)، وابن مَخْلَد العطّار في «حديث ابن كرامة»(27)، والمِزّي في «تهذيب الكمال»(21/486)-مطوّلاً ومختصراً-.

وصحّحه شيخنا الإمام الألباني –رحمه الله- في «سلسلة الأحاديث الصحيحة»(1758).

وانظر-لزاماً-: «علل الحديث»(ص640)-لابن المديني-،و«تقريب التهذيب»(5079)-لابن حجر-.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: