Tinggalkan komentar

7 Hal Prinsipil “yang Merekonstruksi Pemahaman Kita” Terkait Nama Allah dan Sifat-Nya (beserta contoh riil)

Kita tahu bahwa ber-tawassul dalam do’a menggunakan al-Asmâ-ul Husna (nama-nama Allâh yang indah) adalah salah satu sebab terbesar bagi terkabulnya do’a tersebut. Namun sangat disayangkan banyak di antara kita terluput dari beberapa hal pinsipil lagi urgen terkait al-Asmâ-ul Husna di mata Ahlussunnah wal Jamâ’ah.

Berikut ini saya paparkan beberapa prinsip tersebut dalam bentuk rangkuman dan ringkasan (disertai contoh-contoh praktis) dari berbagai sumber referensi yang mengangkat penjelasan para ulama terkemuka dalam masalah ini.

Saya berharap ringkasan ini bisa memudahkan kaum muslimin dalam memahami hal-hal prinsipil yang seolah terlupakan ini. Mengingat di sisi yang lain, para ulama yang berbicara masalah ini—sepengetahuan saya yang kerdil—boleh dibilang sangat jarang. Kalaupun ada, penjelasan mereka—mungkin—sangat susah dipahami oleh orang awam.

Tujuh Prinsip

Pertama:

Nama-Nama Allâh yang indah (al-Asmâ-ul Husna) bersifat tauqifiyyah. Alias sudah baku sebutan dan ketentuannya dari Rabb semesta alam, selaku pemilik nama-nama agung tersebut. Tidak datang dari buah pemikiran Pak Kyai. Tidak pula keluar dari ucapan Syaikh Fulan atau Ustadz Fulan. Penetapan al-Asmâ-ul Husna, hanya datang dari wahyu Allâh kepada Nabi-Nya.

Kedua:

Menyeru Allâh dengan nama-nama yang tidak ada asal-usulnya dari al-Qur’an dan Sunnah, sudah jelas kebatilnya. Tidak dibenarkan menamakan Allâh dengan nama-nama yang tidak pernah digunakan oleh Allâh dan Rasul-Nya dalam menamakan diri-Nya. Seperti kesesatan Nashrani dalam menamakan Allâh dengan sebutan “al-Abb” (Bapak).

Bertolak dari kaidah ini, para ulama juga mengharamkan seseorang menamakan Allâh dengan sebutan al-Mudîr (Maha Sutradara), sekalipun pada kata “sutradara”, sekilas terlintas makna yang menggambarkan salah satu sifat Allâh yang Maha mengatur dan mengendalikan alam semesta berikut isinya. Alasannya, nama al-Mudîr atau “Maha Sutradara” tidak pernah disahkan dalam sudut pandang syari’at—berdasarkan dalil yang ada—sebagai salah satu nama dari nama-nama Allâh.

Ketiga:

Semua al-Asmâ-ul Husna sudah pasti mengandung makna sifat-sifat Allâh. Ambil contoh nama “al-Bashîr” (Yang Mahamelihat). Dari nama yang mulia ini, setidaknya terkandung 2 hal; al-Bashîr adalah nama lain bagi Dzat Allâh, dan bahwasanya Allâh itu punya sifat Bashar (melihat).

Keempat:

Sebaliknya, tidak semua sifat-sifat Allâh dalam al-Qur-ân dan Sunnah, merupakan al-Asmâ-ul Husna. Terkadang al-Qur-ân dan Sunnah mengabarkan tentang suatu sifat Allâh, namun Allâh tidak dinamakan dengan sifat tersebut.

Contoh; kita tidak dibenarkan menamakan Allâh dengan kata al-Mustawi (Yang Bersemayam) atau menamakan anak “Abdul Mustawi”, sekalipun al-Qur-ân dan Sunnah mengabarkan bahwa Allâh memiliki sifat Istiwâ’ ‘alal ‘Arsy (bersemayam di atas ‘Arsy).

Demikian halnya dengan sifat-sifat Allâh yang dikabarkan oleh al-Qur-ân seperti al-Ghadhab (marah), al-Mahabbah (cinta), dll. Dengan sifat-sifat tersebut, tidak lantas dikatakan bahwa al-Ghâdhib (Yang Marah) atau al-Muhib (Yang Mencintai) adalah bagian dari al-Asmâ-ul Husna.

Kelima:

Diperbolehkan menyebut suatu nama untuk Allâh, kendati nama tersebut bukan termasuk al-Asmâ-ul Husna, jika dimaksudkan untuk mengabarkan tentang sifat Allâh yang terkandung dalam al-Qur-ân atau Sunnah yang shahîh.

Contoh; diperbolehkan menyebut Allâh dengan sebutan al-Mustawi dalam konteks menjelaskan bahwa Allâh punya sifat Istiwâ’. Dengan catatan, tidak menganggap al-Mustawi sebagai nama Allâh.

Keenam:

Terdapat sebutan-sebutan bagi Allâh yang diambil dari sifat-sifat-Nya dan tidak termasuk al-Asmâ-ul Husna, namun boleh digunakan dalam do’a. Tapi ada syaratnya.

Syaratnya adalah;

(1)    Sebutan-sebutan tersebut bersifat khusus bagi Allâh dan hanya mungkin diperuntukkan bagi Allâh semata. Contoh: ungkapan “Yâ Qâdhiyal Hâjât” (Wahai Dzat yang mampu mengabulkan setiap kebutuhan hamba-Nya), atau “Yâ Syâfiyal Amrâdh” (Wahai Dzat mampu menyembuhkan penyakit), atau “Yâ Mujrias Sahâb” (Wahai Dzat yang mampu menjalankan awan sesuai kehendak-Nya). Adapun sebutan-sebutan yang tidak khusus bagi Allâh semata, dalam artian mampu dilakukan oleh makhluk, seperti ungkapan “Yâ Sâmi’as Shaut” (Wahai Dzat yang mampu mendengar suara), maka tidak boleh digunakan dalam do’a.

(2)    Syarat berikutnya adalah; sebutan-sebutan tersebut harus mengandung makna pujian yang layak bagi Allâh. Sebutan “Yâ Maujûd” (yang berarti: Wahai Dzat yang ada) bagi Allâh misalkan, tidak boleh digunakan untuk menyeru Allâh dalam munajat dan do’a. Karena ungkapan tersebut tidak mengandung makna pujian, sekalipun maknanya benar jika disandarkan pada Allâh sebagai salah satu sifat-Nya. Lagipula, semua makhluk-Nya menyandang predikat yang sama dengan-Nya dalam sifat Maujûd ini.

Ketujuh:

Sekalipun berdo’a dengan menyeru Allâh dengan sebutan-sebutan yang dipetik dari sifat-sifat-Nya diperbolehkan (tentunya dengan batasan-batasan yang telah dijelaskan pada poin keenam), namun berdo’a dengan al-Asmâ-ul Husna lebih afdhol dan lebih utama.

Contoh; ketika meminta tambahan rizki dari Allâh, kita mengucapkan “ Razzâq (Wahai Dzat yang Mahapemberi rizki), berilah hamba-Mu ini tambahan nikmat dan rizki”, ini lebih afdhol daripada mengucapkan “Yâ man a’tha ar-rizqa li jamî’il khalq (Wahai Dzat yang memberi rizki bagi segenap makhluk)…” Karena ar-Razzâq termasuk al-Asmâ-ul Husna, salah satu nama Allâh yang memang disyari’atkan meminta rizki dengannya.

Catatan Tambahan

Kesimpulan-kesimpulan prinsip dan kaidah di atas, saya rangkum dari berbagai penjelasan para ulama dari referensi berikut:

***

Lombok, 17 Jumadal Akhir 1434 / 27-04-2013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: