1 Komentar

Belajar dari Kesabaran Allah

Jika mata punya batas pandang di kaki langit, jika samudra terluas memiliki dasar dan tepian, jika cahaya bintang masih menempuh jarak tuk sampai ke mata, maka ketahuilah bahwa pahala kesabaran di jalan Allâh tidak memiliki batas dan tidak pula tepian. Pahala sabar laksana cahaya bintang yang menempuh perjalanan tanpa ujung.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas.” [QS. Az-Zumâr: 10]

Kata sabar begitu akrab di telinga. Akal pun tidak terlalu sulit membayangkan detail dan gambarannya. Semua hal tentang sabar tak ada yang sukar, selain mewujudkannya dalam realita. Semua definisi dan contoh tentangnya tak ada yang susah untuk dibahasakan oleh lisan, namun begitu terjal dan menyakitkan saat dilisankan dalam bahasa kehidupan.

Dengan sabar, cinta Allâh menjadi sebuah kepastian:

وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“…dan Allâh mencintai orang-orang yang sabar.” [QS. Ali ‘Imrân: 146]

Dengan sabar, orang-orang beriman diperintahkan untuk mengawinkannya dengan shalat dalam meraih pertolongan-Nya. Dengan sabar pula, Allâh akan senantiasa bersama para penyabar:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allâh bersama orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Baqarah: 153]

Karena Allâh-pun Bersabar

Sifat-sifat Allâh adalah teladan sekaligus pedoman hidup yang paling agung. Tidak terkecuali dalam kesabaran. Lihatlah bagaimana Allâh bersabar semenjak Dia menciptakan langit dan bumi, semenjak Iblis memperlihatkan pembangkangan pertama seorang makhluk kepada Tuannya. Lihatlah bagaimana Allâh bersabar pada kaum Nuh ‘alaihissalâm yang kufur. Lihatlah bagaimana Allâh bersabar pada Fir’aun tatakala dia berucap; ‘akulah Rabb kalian yang paling tinggi’. Lihat bagaimana Allâh bersabar pada Yahûdi yang membunuh utusan-utusan-Nya tercinta. Lihat bagaimana Allâh bersabar saat dihina oleh makhluk-makhluk-Nya yang kerdil dengan berbagai tuduhan dusta[1].

Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadîts yang shahîh:

لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tak ada seorang pun yang lebih sabar dari gangguan yang didengarnya dibanding Allâh. Dia disekutukan (padahal Dia tidak butuh pada tandingan apalagi sekutu), mereka menuduh Allâh punya anak, sementara Dia (Allâh) senantiasa memberikan kesehatan dan melimpahkan rizki kepada mereka.”[2]

Ibnul Qayyim berkata dalam kumpulan syair Nûniyyah-nya[3]:

وَهُوَ الصَّبُوْرُ عَلَى أَذَى أَعْدَائِهِ … شَتَمُوْهُ بَلْ نَسَبُوْهُ لِلْبُهْتَانِ

“Dialah yang Maha Sabar atas gangguan musuh-musuh-Nya … Mereka mencela-Nya, bahkan menyandarkan-Nya pada kedustaan”

قَالُوْا لَهُ وَلَدٌ وَلَيْسَ يُعِيْدُنَا شَتْمًا وَتَكْذِيْبًا مِنَ الْإِنْسَانِ

“Mereka berkata ; ‘Dia (Allâh) punya anak’, sebagai bentuk hinaan dan kedustaan dari manusia terhadap-Nya … Namun Dia (masih saja bersabar mengulur waktu) tidak segera membalas”

هَذَا وَذَاكَ بِسَمْعِهِ وَبِعِلْمِهِ لَوْ شَاءَ عَاجَلَهُمْ بِكُلِّ هَوَانِ

“Hinaan dan kedustaan tersebut didengar dan diketahui oleh-Nya[4] … Jika Dia menghendaki, Dia bisa menyegerakan siksaan yang amat menghinakan”

لَكِنْ يُعَافِيْهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ وَهُمْ يُؤْذُوْنَهُ بِالشِّرْكِ وَالْكُفْرَانِ

“Sebaliknya Dia senantiasa memberikan mereka kesehatan dan rizki, sementara mereka … terus menerus ‘menyakiti-Nya’[5] dengan kesyirikan dan kekufuran”

Sebelumnya, Ibnul Qayyim mengatakan:

وَهُوَ الْحَلِيْمُ فَلَا يُعَاجِلُ عَبْدَهُ بِعُقُوْبَةٍ لِيَتُوْبَ مِنْ عِصْيَانِ

“Dialah al-Halîm, yang Mahabijak, tidak tergesa-gesa dalam menghukum hamba-Nya … agar si hamba punya kesempatan untuk bertobat dari kemaksiatan”

وَهُوَ الْعَفُوُّ فَعَفْوُهُ وَسِعَ الْوَرَى لَوْلَاهُ غَارَ الْأَرْضُ بِالسُّكَّانِ

“Dialah al-‘Afuww, yang Mahapemaaf, anugerah maaf-Nya meliputi segenap makhluk … Tanpa maaf-Nya, bumi akan runtuh tenggelam berikut segenap penghuninya”

Antara Kesabaran Makhluk & Kesabaran Allâh

(1)    Jika kerajaan dan kekuasaan Allâh tidak sedikitpun berkurang apalagi hancur oleh hinaan dan tindak kejahatan yang dilakukan makhluk-Nya, maka seorang mukmin terkadang hancur dan jatuh sampai ke titik nadir manakala musibah dan kesedihan menimpanya dalam beragam bentuk dan warna. Saat itulah kesabaran benar-benar bernilai spesial.

(2)    Jika Allâh adalah pemberi titah dalam syari’at-Nya, maka seorang mukmin adalah pelaksana titah tersebut. Dia harus konsisten dalam menjalankan titah tersebut sebaik-baiknya. Ini pun membutuhkan kesabaran yang melelahkan.

(3)    Jika Allâh melarang hamba-Nya dari suatu hal, maka seorang mukmin wajib menjauhkan diri dari larangan tersebut, sementara hawa nafsu justru menarik mereka untuk mendekat. Ini tentu membutuhkan kesabaran yang pahit.

Kiranya, ketiga hal inilah sebab mengapa sabar tidak bertepi dalam samudera pahala. Karena sabar begitu berat dan menyakitkan. Allâh sangat mencintai kesabaran. Dia amat berbahagia melihat hamba-Nya kembali kepada-Nya di saat hamba tersebut tengah dihujam pilunya musibah, beratnya beban perintah, dan pahitnya mengekang nafsu yang ingin selalu mencicipi larangan.

Ash-Shabru Dhiyâ’

Tidak heran jika Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjuluki sabar dengan ungkapan: ash-Shabru Dhiyâ’, “Kesabaran ibarat sinar matahari yang terik menyengat”[6].

Lihatlah bagaimana Matahari menyibak kegelapan semesta. Luapan sinarnya tak terhingga semenjak ia diciptakan. Benar-benar kedermawanan yang tak terbatas. Seperti itulah kedermawan Allâh terhadap mereka orang-orang mukmin yang bersabar, bahkan melebihi kedermawanan yang bisa dibanggakan oleh matahari itu sendiri.

***

Lombok, 30-04-2013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] Namun kesabaran tersebut, bukan berarti meniadakan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Karena sejarah bertutur, bahwa toh segenap makhluk pembangkang semisal Fir’aun dan konco-konconya tersebut, pada akhirnya dihancurkan sehancur-hancurnya oleh Allâh. Kehancuran di dunia sebelum di akhirat. (Abu Ziyân Halîm)

[2] Shahîh al-Bukhâri no. 6099, Shahîh Muslim no. 2804. Hadîts di atas adalah lafaz dalam Shahîh Muslim.

[3] Al-Kâfiyah asy-Syâfiyah (Syarh Nûniyyah Libnil Qayyim) hal. 717, jilid-3, Isrâf: Bakr Abu Zaid rahimahullâh, Cet. Dâr ‘Ilmil Fawâ-id.

[4] Seolah-olah Ibnul Qayyim hendak berkata: “Jika manusia mampu mendengar dan mengetahui setiap ejekan yang disuarakan orang lain kepadanya, niscaya dia akan mati perlahan di bawah siksaan psikis, seolah ia dibunuh perlahan dengan satu sayatan belati setiap hari. Dari gambaran ini, jelaslah betapa sabarnya Allâh, karena Dia mendengar dan mengetahui secara detail setiap ejekan yang dilayangkan kepada-Nya, dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.” (Abu Ziyân Halîm)

[5] Ini hanya ungkapan untuk mendekatkan pemahaman betapa ucapan-ucapan tentang Allâh tanpa ilmu merupakan perkara yang dahsyat dosa dan kejahatannya. Karena toh, tak satu pun kekuatan yang mampu menyakiti Allâh.

[6] Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Mâlik al-Asy’ary radhiallâhu’anhu dalam Shahîh Muslim no. 223.

One comment on “Belajar dari Kesabaran Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: