Tinggalkan komentar

3 Pelajaran Berharga dari Kisah Terjadinya Gerhana di Zaman Kenabian

Baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, keduanya adalah fenomena alam yang tidak keluar dari sunnah kauniyyah Allâh sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Keduanya adalah sedikit dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Allâh. Fenomena alam ini pernah terjadi di zaman Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ، فَقَالَ النَّاسُ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللَّهَ»

Diriwayatkan dari al-Mughîrah bin Syu’bah, beliau berkata: ‘Terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada hari meninggalnya Ibrâhîm[1]. Lantas orang-orang mengatakan bahwa gerhana matahari tersebut terjadi gara-gara wafatnya Ibrâhîm. Maka Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak ada kaitannya dengan mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian menyaksikannya, maka lakukanlah shalat gerhana, dan berdo’alah kepada Allâh’.[2]

Dalam riwayat yang lain, Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ…. وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

“Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allâh….. Dengan gerhana tersebut, Allâh menjadikan (baca: mengingatkan) hamba-hamba-Nya untuk takut kepada-Nya.”[3]

Fawâ-id Hadîts

Hadîts-hadîts shahîh seputar gerhana, sarat akan hikmah dan pelajaran yang berharga. Apa yang saya tuliskan berikut ini, adalah sedikit di antaranya:

Pertama: Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tujuan Allâh menjadikan gerhana adalah dalam rangka menakut-nakuti hamba-Nya. Rasa takut di sini tentu saja rasa takut yang bersifat ibadah, yang lahir dalam wujud amalan hati. Para ulama menyebutnya “al-Khauf”.

al-Khauf adalah rasa takut yang menumbuhkan pengagungan dan harapan kepada Allâh. al-Khauf dalam konteks ibadah bukanlah rasa takut yang menjadikan kita bermuka dua, terlihat taat dan tunduk secara lahiriah, namun di batin menyimpan kebencian. Al-Khauf yang bernilai ibadah adalah manakala hati tergoncang dalam rasa takut yang kemudian mendorong pemilik hati tersebut untuk taat pada semua perintah Allâh, dan menjauhi segenap larangan-Nya.[4]

Inilah pesan inti di balik peristiwa gerhana. Agar kita benar-benar memahami bahwa Dzat yang Mahperkasa memposisikan matahari dan bulan berada dalam satu garis lurus dengan bumi, adalah Dzat yang amat-amat mampu melumat segenap makhluk pembangkang yang lemah lagi kerdil semacam kita ini.

Kedua: Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam amat perhatian dengan masalah tauhid dan aqidah. Ketika terjadi penyimpangan dalam masalah aqidah, beliau tidak menunggu sehari sampai dua hari untuk segera merubah dan mengikisnya dari masyarakat.

Lihatlah bagaimana beliau dengan segera menghilangkan persepsi keliru yang menyimpang dari aqidah, terkait fenomena gerhana yang terjadi di masa beliau. Ini terbaca dengan jelas dan gamblang dari hadits di atas.

Ketiga: Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai pengkultusan melampaui batas terhadap diri beliau maupun keturunan beliau.

Rasulullâh  shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada para Sahabatnya:

لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ

“Jangan kalian memuji aku dengan pujian yang melampaui batas, sebagaimana kaum Nashrâni telah memuja ‘Isa putra Maryam dengan pujaan yang melampaui batas. Karena sesungguhnya aku adalah seorang hamba, maka sebut aku dengan sebutan; ‘Hamba Allâh dan Rasul-Nya’”[5]

Coba renungkan! Orang-orang menyangka bahwa terjadinya gerhana, punya keterkaitan sebab-akibat dengan kematian Ibrâhîm, putra beliau satu-satunya. Jika beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengharapkan pengkultusan dari ummatnya, maka membiarkan persepsi keliru tersebut terus berkembang di masyarkat, tentunya merupakan sarana pembentuk image yang paling efektif lagi gratis untuk dimanfaatkan.

Inilah yang kerap kali dibiarkan oleh segelintir “oknum Kyai” yang mengharapkan pengkultusan dari jama’ahnya. Membiarkan kisah-kisah khurafat berkembang di kalangan murid terkait “kekeramatan” mereka dan garis keturunan mereka. Jadilah agama, tak ubahnya alat untuk memperbanyak pengikut semata.

***

Lombok, 10-05-2013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] Putra Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, hasil pernikahan beliau dengan Mâriah al-Qibthiyyah. Wafat di usia 18 bulan.-Ta’lîq Musthafa al-Baghâ.

[2] Shahîh al-Bukhâri: 1043, juga dalam Shahîh Muslim: 911.

[3] Shahîh al-Bukhâri: 1048.

[4] Lihat Nadhratun Na’îm fî Makârimi Akhlâqir Rasûl al-Karîm: 1/31.

[5] Shahîh al-Bukhâri: 3445.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: