Tinggalkan komentar

Untaian Kalimat Emas Al-Albani, Ringkas dan Sarat Hikmah

Kalimat-kalimat emas yang ringkas namun sarat makna berikut ini, adalah sedikit di antara lautan hikmah yang pernah terucap oleh lisan seorang ulama besar abad ini, reformis Islam yang setia mengajak ummat pada kemurnian ajaran Islam di atas sunnah-sunnah Nabawiyyah. Dialah Muhaddits (pakar hadits) abad ini, al-Imâm Muhammad Nâshiruddîn al-Albani rahimahullâh (wafat: 1999-M).

Saya nukilkan kalimat-kalimat ringkas beliau ini dari tulisan asy-Syaikh Khâlid asy-Syâfi’i hafizhâhullâh dalam salah satu postingannya di: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=37445

01

قال الشيخ الألباني رحمه الله وهو كلام رد فيه على الذين يقسمون الدين إلى قشور ولباب : عندما خلق الله الفاكهة كالموز والبرتقال مثلا هل خلق قشرها عبثا أم خلقها لحكمة بالغة ؟

Ketika membantah orang-orang yang memilah-milah agama menjadi “Kulit” dan “Isi”, Syaikh al-Albâni rahimahullâh mengatakan:

“Tatakala Allâh menciptakan buah seperti pisang dan jeruk misalkan, apakah Dia menciptakan kulitnya sia-sia belaka, ataukah Dia menciptakannya atas dasar maksud, tujuan dan hikmah yang besar?” (Tentu saja jawabannya yang kedua—Abu Ziyân)

02

قال الشيخ الألباني رحمه الله : كلامي معلم ، وغير ملزم ا.هـ

وهذه العبارة شبيهة بقول القائل : رأيي أعرضه ، ولا أفرضه

“asy-Syaikh al-Albâni rahimahullâh mengatakan: ‘ucapanku hanya sekedar ilmu (yang diutarakan dan dipaparkan), bukan ucapan yang mutlak harus dipegang’.”

Ucapan beliau tersebut setali dua uang dengan ungkapan orang yang berkata: “Aku sekedar memaparkan pendapatku, dan aku tidak mewajibkan orang lain untuk berpegang dengannya.”

03

قال الشيخ الألباني : كنت أظن بأن مشكلة المسلمين عقائدية فقط ، فتبين لي فيما بعد بأنها أخلاقية أيضا. الرواية بالمعنى

Asy-Syaikh al-Albâni rahimahullâh berkata: “Dulunya aku mengira problematika muslimin hanyalah pada masalah aqidah saja, namun kemudian menjadi jelas bagiku bahwa masalah akhlak juga termasuk.”

04

قال الشيخ الألباني رحمه الله: العلم لا يقبل الجمود

Asy-Syaikh al-Albâni rahimahullâh berkata: “Ilmu tidak mengenal kata jumud (deadlock alias stagnan berhenti di tempat–az)”

Seorang ulama yang hari ini berpendapat A, besok boleh jadi berpendapat (baca: berijtihad) lain, karena melihat pendapat B lebih dekat pada kebenaran. Terkadang satu pendapat berlaku pada satu tempat dan sikon, namun tidak pada tempat dan sikon yang lain.

Demikianlah ilmu, senantiasa mengakar, tumbuh, serta bergerilya cabang dan rantingnya. Bukan patung yang membatu di satu tempat, yang tidak tumbuh, apalagi untuk berkembang dan berbuah. Pun ketika berpindah tempat, ia tetaplah seonggoh batu dalam wujud patung—Abu Ziyân

05

قال الشيخ الألباني رحمه الله : مهنة الساعات علمتني الدقة

Asy-Syaikh al-Albâni pernah mengatakan: “Bekerja sebagai reparator jam, mengajarkan saya tentang ketelitian.”

Sifat teliti tersebut sangat jelas terlihat dari karya-karya tulis beliau yang fenomenal di bidang hadits, yang banyak membahas seluk beluk periwayatan (isnad). Ketelitian yang telah menjadikan ilmu hadits yang agung itu ibarat taman-taman yang tertata rapi, setelah sebelumnya ia adalah hutan belantara yang teramat lebat dan sukar untuk diungkap hakikat yang tersembunyi di dalamnya.—Abu Ziyân

***

Lombok, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: