Tinggalkan komentar

Orang Pingsan Berpuasa Ramadhan..??

Pertanyaan:

Seseorang yang kehilangan kesadaraan selama beberapa saat, apakah ia tetap wajib berpuasa Ramadhân?

Jawaban:

Jika kesadarannya hanya hilang beberapa saat, maka dia tetap wajib berpuasa. Ini seperti orang yang tidur beberapa waktu (saat berpuasa Ramadhân-pent).  Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini sebagaimana pendapat Madzhab asy-Syâfi’i dan Madzhab al-Hambali[1]. al-Imâm an-Nawawi asy-Syâfi’i dalam al-Majmû’ Syarhul Muhadz-dzab (6/346)[2] mengatakan:

وأصح الأقوال : يشترط الإفاقة في جزءٍ منه

“Pendapat yang paling benar adalah; disyaratkannya sadar pada sebagian waktu.”

Maksudnya; puasa baru dikatakan sah bagi orang yang hilang kesadaran, jika dia bisa sadar pada sebagian waktu di siang hari Ramadhân.

Namun jika ia tidak sadarkan diri sebelum terbitnya fajar dan baru sadar ketika matahari telah terbenam, maka puasanya tidak sah dan dia wajib meng-qadhâ di hari yang lain. Karena yang dinamakan puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat atau tekad di dalam hati. Sementara dalam kasus seperti ini, seseorang tidak bisa dikatakan memiliki niat dan tekad di siang hari untuk berpuasa karena Allâh.

Dalilnya adalah firman Allâh dalam hadits qudsi:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“…dia meninggalkan makan-minum dan syahwatnya karena-Ku” [Bukhari: 1894, Muslim: 1151]

Dalam hadits tersebut, Allâh menyandarkan “at-tark” (yang bermakna; meninggalkan pembatal-pembatal puasa) dengan “ash-shâ-im” (orang yang berpuasa), sementara orang yang pingsan tidak bisa disandarkan kepadanya sifat at-tark.

Sementara dalil wajibnya meng-qadhâ puasa yang luput karena pingsan sehari penuh tersebut adalah keumuman firman Allâh:

 وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“…dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” [QS. Al-Baqarah: 185]

***

Lombok “The Most Lovely Island On Earth”, 19 Rajab 1434 / 29052013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] Lihat al-Mughni (4/344) dan asy-Syarhul Mumti’ (6/365).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: