1 Komentar

Awal Puasa; Ikut Pemerintah, Saudi Arabia, atau Negeri Tetangga…??

Beberapa tahun lalu ketika negeri kita yang tercinta ini dihebohkan dengan perdebatan masalah ru’yatul hilâl dan kapan harus memulai puasa Ramadhân, tiba-tiba saja lembaga independen pemantau hilal mulai tumbuh bak jamur di musim hujan. Di antara lembaga-lembaga tersebut ada yang resmi merupakan anak ranting dari sebuah ormas Islam dengan keanggotaan sekian banyak orang, dan ada juga lembaga yang hanya beranggotakan satu orang alias pemantau hilal freelance (atas inisiatif pribadi).

Singkat cerita, di antara para pemantau hilal non-resmi ini banyak yang bersaksi melihat hilal. Sementara Pemerintah menetapkan sebaliknya berdasarkan hasil ru’yat yang lain di banyak titik di nusantara plus berdasarkan asumsi ilmiah bahwa hilal tidak mungkin terlihat. Akhirnya, kita tahu bersama, kesaksian dan sumpah mereka ini ditolak oleh Pemerintah, sehingga Pemerintah tetap dalam keputusannya untuk meneympurnakan Sya’ban satu hari lagi.

Lantas, apa sikap yang harus dilakukan oleh para pemantau hilal yang telah bersaksi melihat hilal tersebut? Apakah ia harus berpuasa sendiri ataukah mengikuti mayoritas kaum muslimin di negerinya yang mulai berpuasa sesuai ketetapan Pemerintah? Ataukah ia selayaknya mengikuti Pemerintah Saudi Arabia atau negeri-negeri tetangga lainnya yang kebetulan waktu itu hasil ru’yat-nya berkesesuaian dengan hasil ru’yat yang ia dapat secara pribadi?

Jawaban “MUI”-nya Saudi Arabia

Dalam Fatâwa Nûr ‘Alad-Darb (juz 16 hal. 75) yang dikeluarkan oleh al-Lajnah ad-Dâ-imah (semacam MUI di Kerajaan Saudi Arabia) melalui website resminya www.alifta.net, terdapat keterangan sebagai berikut:

Jika seseorang menghadap mahkamah (qâdhi) atau pihak yang berwenang dalam penetapan puasa dan hari raya, kemudian bersaksi bahwa dia telah melihat hilal, namun pengakuannya tersebut ditolak dan tidak memakai hasil ru’yah-nya tersebut, maka di sini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dia wajib berpuasa (sekalipun sendiri-pent), karena dengan ru’yah-nya tersebut, bararti bulan (Ramadhân) telah masuk bagi dirinya selaku pribadi.

Namun ulama yang lain berpendapat bahwa ia tidak boleh berpuasa jika hasil ru’yah-nya ditolak, tetap tidak boleh puasa, berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam: ‘Puasa itu adalah saat kalian semua berpuasa, Idul Fithri adalah hari di mana kalian semua melaksanakan ‘Idul Fithri, dan ‘Idhul Adh-ha adalah hari di mana kalian semua melaksanakan ‘Idhul Adh-ha’. Sehingga dia tidak boleh berpuasa pada hari di mana jama’ah kaum muslimin (bersama pemerintahnya) tidak berpuasa.

Inilah pendapat yang dipilih oleh Abul ‘Abbâs Ibnu Taimiyyah rahimahullâh dan sekumpulan ulama yang lain. Pendapat inilah yang lebih jelas dalam pendalilan, berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam; ‘hari berpuasa adalah hari di mana kalian semua berpuasa’. Maka kesaksian ru’yah seseorang otomatis menjadi batal bagi dirinya dan bagi orang lain, sehingga tidak boleh ia berpuasa. Inilah pendapat yang paling mendekati kebenaran.

Namun jika ia berpuasa dengan berpegang pada pendapat mayoritas ulama (bahwa ia wajib berpuasa secara pribadi-pent) maka yang demikian pun tidak mengapa Insyâ Allâh. Hanya saja tidak berpuasa (dalam kasus seperti ini-pent), adalah lebih utama dan lebih afdol.

***

Lombok, 19 Rajab 1434 / 29052013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân Halim)

 

Teks Asli Fatwa Nûr ‘Alad Darb:

إذا تقدم الإنسان، وذكر للقاضي أو المسؤول أنه رأى الهلال؛ هلال رمضان فلم يقبل منه، ولم يعمل برؤيته فهذا فيه خلاف بين العلماء، ذهب الأكثرون إلى أنه يصوم؛ لأنه ثبت الشهر في حقه برؤيته، فيصوم ويسبق الناس بيوم، ويصوم معهم إذا صاموا، ويفطر معهم إذا أفطروا. وذهب آخرون من أهل العلم إلى أنه لا يصوم إذا لم يُعْمَلْ برؤيته، لا يصوم؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:  الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون  وهذا اليوم لم يَصُمْه المسلمون فلا يصومه.

وهذا هو اختيار أبي العباس ابن تيمية رحمه الله وجماعة، وهو أظهر في الدليل؛ لقوله صلى الله عليه وسلم:  الصوم يوم تصومون  . والمسلمون لم يصوموا، فتكون شهادته حينئذٍ لاغية في حقه وفي حق غيره فلا يصوم، هذا هو الأرجح، وإن صام مع القول الثاني الذي قاله الجمهور فلا حرج عليه إن شاء الله، لكن عدم صومه أولى وأفضل.

Fatâwa Nûr ‘Alad-Darb (juz 16 hal. 75)

One comment on “Awal Puasa; Ikut Pemerintah, Saudi Arabia, atau Negeri Tetangga…??

  1. Salam. Secara individu saya berpendapat kalau Arab Saudi berpuasa atau raya mereka bersandarkan rukyah atau hisab . Maka kita dirantau Asia kenalah berpuasa dan berbariraya juga .Oleh sebab kita Asia menerima matahari 5 jam (malaysia) lebih awal .jika arab saudi berhari raya (1 Syawal ) kita di asia tak boleh berpuasa lagi ( haram berpuasa pada 1 syawal) .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: