Tinggalkan komentar

“Islam Memerintahkan Amalan Hati yang Tidak Sanggup Kita Penuhi…??!”

Apakah seorang insan memiliki kuasa atas niat dan maksud yang terlintas dalam hatinya? Mungkinkah baginya untuk mengarahkan niatnya menuju arah yang ia inginkan? Jika ia berkeinginan menjadi seorang yang mukhlis (ikhlas) misalkan, bisakah itu terwujud begitu saja sesaat setelah ia mengikrarkan keinginan tersebut di dalam hati?

Al-Imâm al-Ghazâli (wafat: 505-H) menjelaskan bahwa yang namanya niat, lahir dari bangkitnya hati dan kecondongannya menuju suatu tujuan. Kecondongan hati tersebut muncul tidak direkayasa atau dibuat-buat hanya sekedar dengan memunculkan iradah (baca: ucapan hati untuk mewujudkan sesuatu), bahkan yang demikian ini persis seperti ucapan seseorang yang kekenyangan: “Aku meniatkan untuk menginginkan suatu makanan” Atau perkataan seseorang yang tidak memiliki rasa di hatinya: “Aku meniatkan untuk merindukan si Fulan.” Itu mustahil.[1]

Ibnu Khaldun (wafat: 808-H) dengan tegas mengatakan bahwa amalan-amalan lahiriyah, semuanya dibawah kendali ikhtiar (tentu saja tidak lepas secara mutlak dari kendali Allah-pent). Dalam artian, hati punya kemampuan memilih untuk mengerjakannya atau tidak. Sedangkan amalan-amalan batin (hati), kebanyakannya berada di luar kendali hati.[2]

Nah, di sini muncul pertanyaan. Jika seorang insan tidak memiliki kuasa untuk mengendalikan niatnya, lalu bagaimana mungkin ia diperintahkan untuk mengarahkan niat tersebut menuju suatu tujuan? Kenapa syari’at memerintahkan kita untuk ikhlas jika memang ikhlas itu tidak bisa kita wujudkan ketika kita menginginkannya terwujud? Bukankah ini termasuk beban syari’at yang tidak mungkin untuk dipikul? Sementara kita sama-sama mengetahui bahwa Islam, mustahil memberikan beban syari’at di luar batas kemampuan seseorang.

Jawaban yang Indah dari Imam asy-Syâthibi (wafat: 790-H)

Jika sepintas terlihat bahwa syari’at memerintahkan sesuatu di luar kuasa seorang hamba untuk mewujudkannya, maka perintah tersebut sebenarnya ditujukan kepada implementasi hal-hal yang mungkin untuk diwujudkan dari perintah tersebut, berupa sebab-sebabnya misalkan.

Contohnya pada firman Allâh:

وَلَا تَمُوْتُنَّ إلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

“Dan janganlah kalian mati, kecuali kalian dalam keadaan Islam.” [QS. Ali ‘Imrân: 102]

Boleh jadi terlintas dalam pikiran; “bagaimana mungkin kita diperintahkan untuk tidak mati, sementara mati itu sudah ditentukan dan di luar kuasa kita untuk mengaturnya? Jika kita tidak mengetahui dan tidak memiliki kuasa untuk memastikan keislaman sampai akhir hayat, lantas kenapa al-Qur’an memerintahkannya?”.

Sebenarnya yang diperintahkan oleh ayat tersebut adalah sesuatu yang mampu kita wujudkan, yaitu agar kita senantiasa istiqomah di atas Islam sampai akhir hayat, dengan mewujudkan sebab-sebab keistiqomahan tersebut.

Dengan demikian bisa dipahami bahwa perintah untuk mengikhlaskan hati dan memaksudkan Allâh dalam setiap amalan, bukanlah perintah yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Perintah tersebut harus dibawa kepada perintah yang berada dalam ranah kemampuan seorang hamba untuk mewujudkannya, yaitu; perintah untuk mengerjakan sebab-sebab lahirnya keikhlasan hati. Misalkan dengan jalan mengenal Allâh, merenungkan betapa agung ciptaan dan kreasi-Nya di jagad semesta, betapa banyak dan luas nikmat-nikmat-Nya, menghayati sifat-sifat-Nya yang indah lagi sempurna, mengingat betapa besar pahala bagi mereka yang taat, dan betapa dahsyat hukuman bagi mereka yang menentang-Nya, atau dengan memikirkan faidah-faidah yang bakal ia peroleh dari ketaatan di atas keikhlasan baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Ini semua adalah implementasi yang mampu untuk kita wujudkan demi tercapainya rasa cinta dan pengagungan pada Allâh, yang kemudian akan memudahkan seorang hamba dalam mengikhlaskan niatnya.[3]

***

Lombok, 9 Sya’ban 1434-H

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] Lihat Ihyâ ‘Ulumiddin: 4/373.  Nukilan dari Maqâshidul Mukallafiin hal. 39, Desertasi Doktoral Syaikh Sulaiman al-Asyqar, Univ. al-Azhar – Mesir, Cet.-1, 1401-H, Maktabah al-Fallâh – Kuwait.

[2] Lihat Syifâ-us Sâ-il hal. 26. Nukilan dari Maqâshidul Mukallafiin hal. 40.

[3] Lihat penjelasannya dalam al-Muwâfaqât: 2/78. Nukilan dari Maqâshidul Mukallafiin hal. 41.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: