Tinggalkan komentar

Inilah Yang Telah Lama Hilang dari Kita, Yaa Akhi…!!

Saat kumandang ibadah diserukan, seketika itu pula sejagad hati bertawajjuh pada Rabb-nya. Tak ada yang mengusik pikiran. Tak ada yang menggelayut di hati. Yang ada hanya hasrat tuk menundukkan wajah dalam keheningan sujud di hadapan-Nya. Begitu tenangnya arus darah yang menyusuri setiap sudut arteri. Betapa damai setiap hembusan nafas demi nafas. Betapa tentramnya selaput ari menyelimuti sekujur tubuh. Pori-pori begitu nyenyak mengatup kelopak matanya. Jantung berdetak dalam ritme yang khudu’, seolah melantunkan lafaz-lafaz dzikir yang syahdu.

‘Amir bin Sa’ad mengisahkan

tentang suatu hari, tatkala ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqâsh radhiallâhu’anhu, tengah bersama unta dan kambing gembalaannya. Seketika, datanglah ‘Umar, salah seorang putra Sa’ad. Dia melihat sang ayah dalam tatapan keheranan penuh tanya. “Aku berlindung kepada Allâh dari keburukan hewan gembalaan ini”, gumam ‘Umar. Saat sampai di hadapan sang ayah, ‘Umar berkata; “Wahai ayah, apa engkau rela, terus melakoni hidup badui dengan gembalaanmu ini? Engkau telah berpaling menuju unta dan kambingmu, dan engkau tinggalkan orang-orang tengah sibuk memperebutkan singgasana kekuasaan di antara mereka?”. Kenapa berpangku tangan? Seakan ‘Umar ingin mengucapkan kalimat tersebut.

Tiba-tiba ada hentakan yang keras menimpa dada ‘Umar. Saat sang ayah menempelkan telapak tangannya di dada itu, ia berkata lirih dengan ucapan yang tajam; ‘Diam kau! Sungguh aku pernah mendengar Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ

“Sesungguhnya Allâh mencintai hamba yang bertaqwa, yang kaya hatinya lagi tersembunyi (dalam ketaqwaannya).” [Shahih Muslim: 2965, Ahmad: 1/168, Syarhus Sunnah al-Baghawi: 15/21-22]

Kisah tersebut tidak sedang bertutur tentang sikap acuh tak acuh. Tidak juga tentang egoisme kezuhudan yang hendak menelantarkan ummat. Ia adalah sehalaman kisah dari seorang Sahabat yang agung. Salah satu dari 10 penghuni surga yang berjalan di muka bumi. Tidak, sekali-kali tidak. Sa’ad bin Abi Waqqâsh bukanlah orang yang berpangku tangan dari kehinaan yang menimpa ummat. Dia adalah salah seorang dari 6 ahlul halli wal aqdi (ulama sekaligus legislator) yang duduk dalam majelis tinggi permusyawarahan para petinggi Sahabat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Sa’ad tidak sedang tenggelam dalam egoisme hubungan cinta-Nya dengan Sang Khâliq. Sa’ad benar-benar memahami, bahwa membimbing ummat di atas rel ilahi adalah salah satu bentuk ungkapan cinta pada Allâh, yang akan berbalas cinta dari-Nya.

Hanya saja, ada suatu fase dalam perguliran masa dan sunnatullâh yang mengharuskan Sa’ad untuk lebih mengutamakan keselamatan agamanya daripada keselamatan agama orang lain. Fase tersebut mengharuskan Sa’ad untuk memilih jalan alternatif dalam perjuangannya meraih cinta Allâh. Saat fitnah dunia merekah dengan cakarnya yang tajam. Saat seorang hamba merasa tak mampu menghadapi fitnah tersebut. Ia memilih lari. Sejenak memutuskan hubungan dengan manusia-manusia yang bisa menularkan virus yang merusak iman, ber-‘uzlah demi terpeliharanya hubungan yang lebih agung dengan Rabbnya.

Halaman kedua

dalam kisah Sa’ad di atas, menyiratkan arti dari keikhlasan. Manakala kesendirian bukanlah masalah. Ketika kegelapan adalah terang. Dan hening malam adalah sahabat yang dirindukan. Saat itu hati seolah berteriak dalam “pesta” kegembiraan. Pesta yang bisa buyar dalam sekejap, saat lirikan mata kagum manusia kepergok mengintai.

Ia lebih memilih sajadah di sudut mihrab sebagai peraduan, karena kebisuannya dari ungkapan pujian. Ia ingin hanya Dia (ar-Rahmân) yang melihat. Ia hanya mencari muka pada-Nya, tidak pada selain-Nya. Inilah yang hilang dari kita yaa ikhwaan, sudah dulu dan lama hilang. Harapan dan perjuangan untuk menemukannya kembali adalah jihad yang agung. Inilah pintu terbesar untuk meraih kedamaian ibadah yang kami sebutkan sejak awal paragraf tulisan ini dituliskan.

***

“Syukur dan terima kasih—ba’dallâhi—teruntuk al-Akh Fachrian Almer Akiera hafizhâhullâhu ta’âla yang telah memberikan kesempatan tulisan ini muncul di page Status Nasehat”

***

Lombok, 17 Sya’ban 1434 – 26062013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

“semoga Allâh memaafkannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: