1 Komentar

5 Kelembutan Ilahi di Balik Ungkapan; “Puasa itu Untuk-Ku…”

Sobat, mari sejenak ber-tafakkur tentang keagungan ibadah puasa. Ketika Allâh berfirman dalam sebuah hadits rabbâni (hadits qudsi):

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa adalah perisai.” [Shahïh al-Bukhâri: 1904]

Apa yang terlintas dalam hati kecil Anda saat membaca ungkapan “puasa adalah untuk-Ku”? Sementara literatur ilmiah periwayatan hadits tidak pernah merekam adanya ungkapan-ungkapan seperti ini; “Shalat itu untuk-Ku” atau “Ibadah haji itu adalah untuk-Ku”, atau “Ibadah zakat adalah untuk-Ku”, atau kalimat-kalimat semisal yang menggambarkan keistimewaan ibadah tersebut dibanding ibadah lainnya. Namun tidak demikian halnya dengan puasa. Lantas, apa gerangan hikmah lembut yang tersembunyi di balik ungkapan spesial tersebut? Ada apa dengan puasa?

Ada beberapa jawaban yang diungkapkan oleh para ulama. Setiap jawaban memiliki sisi hikmah dan kelembutannya sendiri. Berikut adalah beberapa di antaranya:

#1 – Karena puasa mengharuskan kemurnian hati

Al-Imâm Badruddïn al-Hanafi rahimahullâh (wafat: 855-H) mengatakan:

لِأَنَّهُ عمل سري لَا يدْخل الرِّيَاء فِيهِ

“Itu karena ibadah puasa merupakan amalan rahasia yang tidak disusupi oleh riyâ’.” [‘Umdatul Qâri Syarh Shahïh al-Bukhâri: 22/61]

Al-Imâm Ibnul ‘Utsaimïn rahimahullâh (wafat: 1421-H) menjelaskan:

فإنه سر بين الإنسان وربه لأنه الإنسان لا يعلم إذا كان صائما أو مفطرا هو مع الناس ولا يعلم به نيته باطنة فلذلك كان أعظم إخلاصا فاختصه الله من بين سائر الأعمال

“Puasa adalah rahasia antara seorang insan dengan Rabb-nya. Seorang insan yang berpuasa, tidak diketahui apakah dia benar-benar berpuasa ataukah tidak, isi hatinya juga tidak diketahui (sangat gampang bagi dia untuk membatalkan puasa tanpa harus kehilangan anggapan di mata orang lain bahwa dia masih berpuasa-pent). Sehingga orang yang benar-benar berpuasa sudah pasti orang yang paling besar keikhlasan dan ketulusannya. Maka Allâh pun mengistimewakannya dibanding ibadah-ibadah yang lain. [lih. Syarh Riyâdh ash-Shâlihïn: 5/266-267]

#2 – Karena tuhan-tuhan lain yang dianggap Tuhan, tidak pernah diibadahi dengan puasa

Al-Imâm Badruddïn al-Hanafi rahimahullâh (wafat: 855-H) mengatakan:

كل الْعِبَادَات لله تَعَالَى فَمَا معنى الْإِضَافَة لَهُ؟ وَأجِيب: بِأَنَّهُ لم يعبد بِهِ غَيره عز وَجل إِذْ لم يعظم الْكفَّار معبودهم فِي وَقت من الْأَوْقَات بالصيام لَهُ،

“Segenap ibadah sejatinya adalah hak Allâh, lantas kenapa hanya puasa yang diistimewakan ungkapan penyandarannya untuk Allâh? Jawabnya; karena tuhan-tuhan selain Allâh tidak pernah diibadahi melalui ibadah puasa. Orang-orang kafir tidak pernah mengagungkan tuhan-tuhan mereka pada waktu-waktu tertentu dengan berpuasa.” [‘Umdatul Qâri Syarh Shahïh al-Bukhâri: 22/61]

#3 – Karena kelak di akhirat, pahala puasa tidak bisa diganggu gugat

Al-Imâm Ibnul ‘Utsaimïn rahimahullâh mengungkapkan:

قال بعض العلماء ومعناه إذا كان الله سبحانه وتعالى يوم القيامة وكان على الإنسان مظالم للعباد فإنه يؤخذ للعباد من حسناته إلا الصيام فإنه لا يؤخذ منه شيء لأنه لله عز وجل وليس للإنسان وهذا معنى جيد

“Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya (penyandaran khusus ibadah puasa kepada Allâh-pent) adalah; karena kelak di hari pembalasan, saat seseorang memiliki dosa kezaliman terhadap orang lain, maka pahala-pahala yang dimiliki orang tersebut akan diambil dan diberikan kepada orang yang pernah ia zalimi di dunia, kecuali pahala puasa, ia tidak diambil sedikitpun juga karena ia diperuntukkan bagi Allâh ‘azza wa jalla semata, bukan untuk manusia. Makna yang demikian adalah makna yang bagus …” [lih. Syarh Riyâdh ash-Shâlihïn: 5/266-267]

#4 – Sebagai ungkapan betapa agungnya pahala puasa

Ungkapan Allâh “Puasa itu untuk-Ku, Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya” adalah ungkapan yang menggambarkan betapa besarnya pahala puasa yang akan diberikan Allâh kepada orang-orang yang berpuasa. Pahala puasa sejatinya adalah pahala sabar yang tidak ada batasnya.

Bukankah Allâh telah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahala untuk mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]

Puasa laksana kanvas yang terlukis di atasnya segenap gambaran tentang kesabaran yang agung. Dengan berpuasa, seorang hamba telah membuktikan kesabarannya untuk menahan diri dari kecondongan hawa nafsu pada hal-hal yang dihalalkan, terlebih-lebih lagi dari perkara yang diharamkan.

Al-Imâm Badruddïn al-Hanafi rahimahullâh mengatakan:

وَأجِيب: بِأَن الْغَرَض بَيَان كَثْرَة الثَّوَاب إِذْ عَظمَة الْمُعْطى دَلِيل على عَظمَة الْمُعْطِي.

“Ada yang memberikan jawaban bahwasanya ungkapan tersebut (Puasa itu untuk-Ku, Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya…) adalah untuk menjelaskan betapa besar dan banyaknya pahala bagi orang yang berpuasa. Karena besarnya pemberian adalah bukti akan kebesaran yang memberi.” [‘Umdatul Qâri Syarh Shahïh al-Bukhâri: 22/61]

Makna tersebut diperkuat oleh hadits Abu Hurairah radhiallâhu’ahu berikut ini:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

“Setiap amalan anak Adam pahalanya digandakan. Satu kebaikan akan digandakan pahalanya 10 kali lipat sampai 700 kali lipat, kecuali puasa (pahalanya tidak berbatas-pent), ia adalah untuk-Ku semata, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran. Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan menahan diri dari makanannya karena Aku.” [Shahïh Muslim: 1151]

Ketika menjelaskan makna ungkapan Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam “kecuali puasa, Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya”, al-Imâm Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullâh (wafat: 795-H) mengatakan:

يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الصِّيَامَ لَا يَعْلَمُ قَدْرَ مُضَاعَفَةِ ثَوَابِهِ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّهُ أَفْضَلُ أَنْوَاعِ الصَّبْرِ

“(Ungkapan tersebut) menunjukkan bahwa tidak ada yang mengetahui berapa besar dilipatgandakannya pahala puasa kecuali hanya Allâh saja. Karena puasa adalah jenis sabar yang paling utama.” [Jâmi’ul ‘Ulūm wal Hikam: 2/316]

#5 – Karena puasa adalah momentum untuk mentadabburi Kemahasempurnaan sifat-Nya

Seluruh perbuatan Allâh, kehendak dan syari’at-Nya, berikut segenap ciptaan-Nya, adalah cerminan dan manifestasi sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang Mahaagung lagi Mahasempurna. Allâh memuliakan orang-orang berilmu karena Dia memiliki nama al-‘Alïm yang Mahamengetahui. Allâh mentakdirkan tak satu pun hamba-Nya yang suci dari kesalahan, karena Dia adalah at-Tawwâb yang Maha pemberi taubat dan al-‘Afuww yang Mahapemaaf. Allâh menetapkan had dan jihad dalam syari’at-Nya, karena Dia adalah al-Mu-‘min yang Maha memberi keamanan. Surga adalah perwujudan sifat Rahmat-Nya, sebagaimana neraka adalah konsekuensi dari kesempurnaan sifat Adil-Nya.

Allâh menyerukan hamba-hamba-Nya untuk bersabar karena kesabaran yang Mahasempurna adalah sifat-Nya. Allâh memerintahkan hamba-Nya untuk mencintai orang-orang yang beriman, tidak lain karena sifat-Nya yang Mahapenyayang. Allâh memerintahkan kita untuk menolong sesama karena Dia adalah an-Nâshir yang Mahapenolong.

Tidak makan, tidak minum, dan tidak membutuhkan pasangan, adalah di antara sifat-sifat Allâh yang Mahasempurna. Dan puasa seolah mengingatkan kita akan Kemahasempurnaan sifat-sifat Allâh tersebut. Hanya Dia yang memiliki sifat-sifat tersebut, maka hanya Dia pula yang layak untuk disembah dan diibadahi.

Ketika menjelaskan salah satu hikmah mengapa Allâh mengkhususkan puasa dibanding ibadah yang lain, Al-Imâm Ibnul Jauzi rahimahullâh (wafat: 597-H) mengatakan:

أَن الْمَعْنى أَن الإستغناء عَن الْمطعم وَالْمشْرَب صِفَتي، فَكَأَن الصَّائِم تقرب إِلَى الله عز وَجل بِمَا يشبه صفته وَلَا شبه.

“Bahwasanya makna hadits di atas (puasa itu untuk-Ku); ‘Ketidakbutuhan pada makan dan minum adalah sifat-Ku’. Maka orang yang berpuasa seakan-akan tengah bertaqarrub pada Allâh dengan sesuatu yang menyerupai sifat-Nya (bukan hendak menyerupai sifat Allâh, karena sudah dimaklumi tak ada satu pun yang menyamai-Nya-pent).” [Kasyful Musykil min Hadïts ash-Shahïhain: 3/167]

***

Lombok, menjelang Shubuh, 23 Sya’bân 1434-H / 02072013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

“semoga Allâh memaafkannya”

One comment on “5 Kelembutan Ilahi di Balik Ungkapan; “Puasa itu Untuk-Ku…”

  1. izin kopas syekh, so inspiring…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: