Tinggalkan komentar

Bulan al-Qur’an Tiba, “Jangan Sepelekan Tajwid…!!”

“Ramadhan adalah bulan al-Qur’ân”. Seuntai kata yang menyusun sebuah kalimat tahunan. Namun sudahkah kita beranjak dari merangkainya, untuk kemudian memaknai dan memahaminya dengan benar? Lalu—yang terpenting—sudahkan kita beranjak naik menuju level di mana pemahaman tersebut telah menjelma hidup dalam tathbïq (praktek) keseharian? Kebanyakan kita hanya menjadikan kalimat tersebut sebatas slogan di bibir atau sekedar cuap-cuap untuk meng-update status di Facebook dan Twitter. Sayang beribu sayang.

Ramadhân adalah bulan terpilih. Saat di mana al-Qur’an yang mulia diturunkan. Ramadhân ibarat ‘pesta tahunan’ para pecinta Kalam Ilahi. Tiada waktu yang berlalu bersama hembusan nafas, kecuali ayat-ayat sucinya senantiasa dilantunkan. Demikianlah para pendahulu kita yang shalih memakmurkan Ramadhân.

Sebelum tancap gas menghiasi Ramadhân dengan tilawah al-Qur’ân, sudah selayaknya kita mengevaluasi tilawah kita. Sudahkah sesuai dengan kaidah tilawah (baca: tajwid)? Karena membaca al-Qur’an tidak sama dengan membaca majalah atau koran berbahasa Arab, tidak juga identik dengan menyenandungkan syair-syair Arab yang menggugah jiwa. Bahkan tidak sama dengan membaca hadits-hadits Nabi. Ada aturan main yang bersifat baku dalam membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, agar bacaan kita terhitung bacaan yang baik dan benar.

Karena bacaan al-Qur’an diriwayatkan dari lisan ke lisan, dari generasi ke generasi dengan metode dan tata cara tertentu yang dikenal dengan tajwid. Dari Jibril ‘alaihissalâm kepada Nabi kita shallallâhu ‘alaihi wasallam, dari Nabi kepada para Sahabatnya, dari para Sahabat kepada para Tâbi’ïn, dari Tâbi’ïn kepada Tâbi’ut Tâbi’ïn. Demikian seterusnya. Sehingga jadilah tajwïd sebagai bagian dari sunnah nabawiyyah[1]. Praktek tajwid dalam membaca al-Qur’ân menjadi keharusan di mata mereka demi meraih sesempurna mungkin keutamaan tilawah. Para pengajar al-Qur’an yang berada dalam mata rantai periwayatan ayat-ayat  al-Qur’ân, semuanya mempraktekkan tajwid secara turun temurun sebagaimana Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam mempraktekkannya.

Tajwid sendiri adalah perintah al-Qur’an. Isyarat itu termaktub dalam firman-Nya:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

“Orang-orang yang telah Kami beri kitab suci, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya…” [QS. Al-Baqarah: 121]

Salah satu tafsiran “yatlūnahu haqqa tilâwatih” dalam ayat tersebut—sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Mas’ūd radhiallâhuanhu—merujuk kepada ‘mereka yang membacanya persis sebagaimana ia diturunkan dari Allâh’ [Mukhtashar Tafsïr Ibn Katsïr: 1/113].

Dan juga firman-Nya:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلًا

“Dan bacalah al-Qur’ân dengan tartïl (secara perlahan, jelas, dan memperhatikan huruf serta kapan harus berhenti)[2]…” [QS. Al-Muzammil: 4]

Begitu urgennya mempraktekkan tajwïd dalam bacaan  al-Qur’ân, sampai-sampai al-Imâm Ibnul Jazari rahimahullâh (wafat: 833-H) mengatakan dalam syairnya:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لازِمُ مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

“Mempelajari dan mempraktekkan tajwïd adalah kewajiban … Siapa yang tidak membaca al-Qur’ân dengan tajwïd (padahal dia punya kemampuan untuk mempelajarinya) maka dia berdosa”

لأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

“Karena Allâh menurunkan al-Qur’ân dengan tajwïd … Dengannya pula al-Qur’ân itu bisa sampai kepada kita (dengan metode bacaannya yang benar).”

وَهُوَ أَيْضًا حِلْيةُ التِّلاَوَةِ وَزِيْنَةُ الأَدَاءِ وَالْقِرَاءَةِ

“Tajwïd juga merupakan permata tilawah … dan juga perhiasan dalam penunaian—huruf-huruf al-Qur’ân—dan bacaan[3].”

Setiap huruf dalam al-Qur’ân memiliki jalan keluar saat melafazkannya. Itulah yang disebut dengan makhârijul hurūf. Ada huruf yang keluar dari rongga mulut dan rongga tenggorokan (al-Jauf). Ada lagi huruf yang keluar dari pangkal hidung (al-Khaisyum). Dan ada teknik-teknik tertentu untuk melafazkan setiap huruf agar terucap dengan benar. Ada kalanya ketika membaca, suara huruf harus didengungkan (gunnah), ada saatnya harus dimasukkan pada huruf selanjutnya (idgham), ada kalanya harus dipantulkan (qalqalah), dan tidak jarang harus dipanjangkan (mad). Bukan hanya sebatas itu, ada banyak hal terkait bacaan al-Qur’ân (tajwid) yang harus kita pelajari di hadapan seorang guru yang mumpuni. Karena ilmu tajwid adalah ilmu yang bersifat praktikal.

Setelah mengenal tajwïd dan mempraktekkannya, barulah kita masuk pada tataran mengamalkan al-Qur’an dalam tilawah. Tanda-tanda keajaiban al-Qur’an mulai akan Anda rasakan di sini, saat ayat demi ayat, Anda baca dengan benar, tartïl, sesuai dengan kaidah bacaannya. Pada fase inilah janji Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bagi para pembaca al-Qur’ân akan diraih, terlebih lagi di bulan Ramadhân yang mulia ini:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca al-Qur’ân, ia bersama para Malaikat yang taat lagi mulia. Sedangkan yang kesulitan dan terbata-bata membacanya (namun ia tetap berupaya sebaik-baiknya), maka ia memperoleh 2 pahala (pahala bacaannya, dan pahala jerih payahnya dalam memperbaiki bacaan[4]).” [Shahïh Muslim: 798]

Namun ada dua lagi fase dalam memakmurkan bulan al-Qur’ân, agar Ramadhân terasa lebih bermakna. Fase ini terhitung sebagai fase yang paling urgen. Yaitu fase memahami tafsiran ayat yang kita baca, mendulang mutiara hikmah yang terpendam di dalamnya, sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan. Selanjutnya adalah fase mewujudkan tafsiran al-Qur’ân tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi vertikal dengan Allâh, dan interaksi horizontal secara sosial dengan hamba Allâh lainnya. Barulah keindahan al-Qur’an tidak hanya akan dinikmati oleh penikmatnya secara pribadi di dalam hati, tapi juga dirasakan pengaruh positifnya secara luas dalam masyarakat kita. Untuk dua fase terakhir ini, dibutuhkan kesabaran untuk mempelajari halaman demi halaman berikutnya. Semoga.

***

Lombok, selepas shalat ‘Isya, 25 Sya’bân 1434-H / 03072013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] Lih. Ghâyatul Murïd fï ‘Ilmi at-Tajwïd hal. 38, ‘Athiyyah Qâbil Nashr.

[2] Lih. At-Tafsïr al-Muyassar hal. 574.

[3] Al-Muqaddimah al-Jazariyyah hal. 11.

[4] Lih. ta’lïq Muhammad Abdul Baqi pada Shahih Muslim: 1/549.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: