Tinggalkan komentar

Kalau Bukan Sekarang (Ramadhan), Lantas Kapan Lagi…??

Artikel ini sejatinya adalah teks khutbah jum’at yang pernah saya bawakan di salah satu Masjid yang menegakkan sunnah jum’at di Kota Mataram. Semoga Allah menjadikan kalimat-kalimat yang tertuang di sini, benar-benar keluar dari sanubari keikhlasan. Karena hanya dengan itu, esensi teks akan mendatangkan manfaat bagi diri saya, sebelum bagi orang lain yang membacanya. Tidak terkecuali dengan curahan perhatian Allah dan kasih sayang-Nya, hanya bisa diraih dengan itu (keikhlasan).

Khutbah Pertama

[Khutbatul Hâjah]

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu waiyyâkum jamï’an…

Pertama-tama, marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allâh, sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya tabâraka wa ta’âla. Kita bersyukur pada Allâh dengan sebesar-besar rasa syukur, karena Dia dengan sifat Rahman-Nya masih memberikan kita kesempatan sekali lagi bertemu dengan Ramadhân. Syahrus shiyâm…, Syahrul qiyâm…., Syahrul qur’ân….., bulan yang mulia, bulan di mana al-Qur’ân diturunkan, bulan…., saat kita menyemai benih-benih kebajikan, untuk masa panen di akhirat kelak, satu hari yang disifatkan oleh Allâh dalam firman-Nya:

يوم لا ينفع مال ولا بنون. إلا من أتى الله بقلب سليم

Pada hari akhirat “di mana harta dan keturunan tidak akan mendatangkan arti dan manfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan Qalbun Salïm [QS. Asy-Syu’ara: 88-89]

Hati yang selamat, yaitu hati yang bersih dari noda kesyirikan. Hati yang menjadikan Allâh sebagai satu-satunya tujuan ibadah dan pengabdian, hati yang dipenuhi oleh cahaya keimanan, sebagai buah dari amal shalih dan ketakwaan, khususnya amal shalih dan ketakwaan di bulan Ramadhân.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu waiyyâkum jamï’an…

Baginda Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling antusias dan paling berbahagia dengan kedatangan Ramadhân. Bahkan beliau menyampaikan kebahagiaan tersebut kepada para Sahabatnya:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhân, bulan keberkahan, bulan di mana Allâh mewajibkan atas kalian untuk berpuasa. Bulan di mana pintu-pintu langit dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup rapat. Para pembesar syaitan dibelenggu. Pada bulan tersebut terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang meraih kebaikannya, maka sungguh dia benar-benar telah diharamkan untuk meraih keberkahannya.”

Ma’âsyiral muslimïn rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…

Untuk itu, marilah kita jadikan Ramadhân tahun ini lebih bermakna dari tahun-tahun sebelumnya, dengan memperbanyak kebajikan dan amal shalih.

Di antara amalan-amalan tersebut adalah;

Pertama: memperbanyak niat shâlihah, niat dan tekad di dalam hati untuk berbuat kebajikan. Karena Rasulullâh bersabda:

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ

“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan, kendati ia belum sempat mengerjakannya, Allâh akan mencatat untuknya satu hasanah yang sempurna, jika ia berniat kebaikan, lalu mewujudkannya, maka Allâh akan mencatat untuknya, minimal 10 hasanah” [Muslim: 131, Bukhâri: 6491]

Dalam bekerja sehari-hari misalkan, niatkanlah itu sebagai wujud ketaatan pada Allâh yang memerintahkan kita untuk mencari rizki yang halal, niat ini akan menjadi pahala tersendiri bagi kita. Kemudian tambahkan juga niat untuk menafkahi keluarga saat berbuka dan sahur agar mereka bisa menjalankan puasa, niatkan juga untuk menambah tabungan haji, untuk membiayai pendidikan agama anak-anak, untuk bersedekah dll. Sungguh dari masing-masing niat tersebut, seseorang sudah mengumpulkan pahala yang banyak.

Kemudian yang Kedua di antara amalan yang ringan namun berpahala besar adalah: memperbanyak dzikir di waktu luang. Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَهُ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَهُ الله الْعَظِيم

“Dua kalimat dzikir yang sangat ringan di lisan, sangat berat di atas timbangan amal, dan sangat dicintai ar-Rahmân; dua kalimat dzikir tersebut adalah, subhânallâh wa bihamdihi, subhânallâhil ‘azhïm.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Berikutnya yang ketiga, di antara amalan yang ringan namun sangat besar keberkahannya di bulan Ramadhân adalah: mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Ini adalah sunnah Rasul yang mulia. Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنّا معشرَ الأنبياء أُمِرنا بتعجيل فِطرنا، وتأخير سحورنا

“Kami para Nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka, dan mengakhirkan sahur.” [ash-Shahïhah: 4/376]

لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما عَجَّلوا الفِطْرَ

“Ummatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” [Bukhari: 1957, Muslim: 1098]

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:

إِنّ اللهَ وملائكتَه يُصلّون على المُتَسحِّرين

“Sesungguhnya Allâh dan Malaikat-Malaikat-Nya bersolawat pada orang-orang yang menyantap sahur.” [Riwayat at-Thabrâni, Shahïh at-Targhïb wat Tarhïb: 1053]

Bayangkan, hanya dengan mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka, kita bisa meraih pahala ganda; pahala sahur dan berbuka itu sendiri, ditambah dengan pahala mengikuti sunnah Nabi.

Kemudian yang keempat di antara amalan yang ringan namun berpahala besar di bulan Ramadhân adalah: memberi santapan berbuka untuk orang yang berpuasa. Ini bisa dilakukan dengan seteguk air atau sebutir kurma, apalagi dengan suguhan makanan yang lengkap. Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

من فطَّر صائماً؛ كان له مثل أجره، غير أنّه لا ينقص من أجر الصَّائم شيء

“Barangsiapa memberi santapan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka di akan memperoleh pahala orang yang diberi berbuka tersebut, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” [Riwayat at-Tirmidzi, Shahïh at-Targhïb wat Tarhïb: 1065]

Selanjutnya yang kelima, di antara amalan ringan yang sangat dianjurkan di bulan ini adalah: memperbanyak do’a.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al-Baqarah: 186]

Ayat tersebut terletak di antara ayat-ayat yang berbicara tentang puasa. Sebagai isyarat bahwa bulan Ramadhân adalah bulan untuk memperbanyak do’a.

Demikian pula dengan Solat tarawih yang kita lakukan setiap malam, memberikan kita kesempatan yang besar untuk memperbanyak sujud. Di saat itulah do’a mustajab bisa kita panjatkan. Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد، فأكثروا الدعاء

“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya, adalah pada saat ia sujud, maka perbanyaklah do’a (saat melakukan sujud).” [Muslim: 482]

Demikianlah beberapa amalan sederhana yang bisa kita amalkan demi mengoptimalkan raihan kita di bulan Ramadhân. Semoga Allâh melimpahkan taufiknya kepada kita semua.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفرو الله إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua

الحمد لله جعل شهر رمضانَ سَيِّدُ الشُّهورِ، وضاعف فيه الحسناتِ والأجور، وأحمَدُه وأشكُرُه فَهو الغفورُ الشَّكور، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادة أَدَّخِرُها ليوم النشور، وأشهد أن محمدا عبدُه ورسولُه أَشْرَفَ آمرٍ ومأمور، وعلى آله وصحبه ومنِ اقْتَفَى أَثَرَهُم إلى يوم البعث والنشور.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu waiyyâkum jamï’an…

Kemudian yang terakhir dan yang terpenting adalah, mengerjakan amalan-amalan di atas dengan penuh keimanan dan ihtisâb. Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam menegaskan 2 syarat ini dalam sabdanya:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ (وفي لفظ: من قام ليلة القدر)، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhân (dalam lafaz yang lain: barangsiapa solat saat lailatul qadar), dengan penuh keimanan dan ihtisâb, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Bukhâri: 2014, Muslim: 760] Di sini, ada dua hal yang ditekankan oleh Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam; keimanan dan ihtisâb.

Arti keimanan dalam hadits tersebut mengharuskan pelaksanaan amal ibadah dilandasi oleh aqidah benar dan keyakinan akan janji Allâh. Karena selama aqidah seseorang masih menyimpang dari aqidah yang digariskan oleh al-Qur’ân dan Sunnah, menyimpang dari aqidah Rasulullâh dan para Sahabatnya, dan ragu akan janji-jani Allâh, maka selama itu pula amalan seseorang tidak akan bernilai apa-apa di sisi Allâh.

Adapun ihtisâb dalam hadits tersebut; mengandung makna tauhid, keikhlasan, agar seorang mukmin mengharapkan balasan dari Allâh semata dalam setiap amal perbuatannya, tidak mengharap pujian manusia, bukan karena sekedar menjalankan rutinitas, tapi benar-benar karena Allâh jalla wa ‘ala.

Ma’âsyiral muslimïn rahimakumullâh… Sungguh amat merugi orang-orang yang disapa oleh Ramadhân semasa hidupnya, namun saat Ramadhân berakhir, dosa-dosanya tidak terampuni. Dan pundi-pundi amalnya yang menjadi bekal satu-satunya kelak di akhirat, tidak pula bertambah, ketika Ramadhân berlalu. Dahulu, seorang ulama salaf yang bijak pernah berkata dalam syairnya:

إذَا الرَّوْضُ أَمْسَى مُجْدِبًا فِيْ رَبِيْعِهِ        فَفِيْ أَيِّ حِيْنٍ يَسْتَنِيْرُ وَيَخْصِبُ

“Saat kebun menjadi tandus di musim semi ** Lantas, di musim mana lagi ia dapat berseri-seri melimpahkan buahnya?”

مَنْ فَاتَهُ الزَّرْعُ فِيْ وَقْتِ الْبِدَارِ فَمَـا       تَــرَاهُ يَحْصِدُ إلاَّ الْهَـــَّ وَالنَّدَمَـــــــا

“Siapa saja yang terlewatkan menanam benih di musim menanam benih ** Niscaya engkau tak akan melihatnya menuai, melainkan kesedihan dan penyesalan”

Ikhwatal Kirâm…, Demikian pula halnya Ramadhân. Siapa yang tidak memanfaatkan momentum Ramadhân dengan menanam kebajikan dan amal shalih, maka di akhirat kelak, ia tidak akan menuai apa-apa, selain kesedihan dan penyesalan.

Ikhwatal Imân…, Jika kita tidak bisa meraih rahmat dan ampunan Allâh di bulan yang melimpah rahmat dan maghfirah-nya ini, mungkinkah kita bisa meraihnya di luar Ramadhan? Ikhwatal Islâm.., inilah saatnya untuk bangkit beramal, jika bukan sekarang, lantas kapan lagi..?

Do’a

عباد الله …إن الله يأمركم بأمر بدأ فيه بنفسه فقال عز وجل: إن الله وملائكته يصلون على النبي، يا أيها اللذين آمن صلو عليه وسلم تسليما.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم أصلح أحوال المسلمين، اللهم أصلح أحوال المسلمين حكاماً ومحكومين، اللهم ألّف بين قلوب المؤمنين وأصلح ذات بينهم واهدهم سبل السلام وأخرجهم من الظلمات إلى النور يا ذا الجلال والإكرام. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله….اذكروا الله يذكركم ، واشكروه على نعمه يزدكم، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

***

Khutbah Jum’at, 03 Ramadhân 1434-H /  12072013

Disampaikan di Masjid Komplex Kesehatan Mataram

Oleh:

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

“semoga Allâh memaafkannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: