Tinggalkan komentar

Kelembutan al-Qur’an: “Betapa Dekatnya DIA, Saat Engkau Berdo’a”

Renungan terhadap ayat yang mulia ini, seolah memberikan kita sepasang sayap tuk terbang ke angkasa Ramadhân. Hanya untuk memanjatkan do’a demi do’a pada Dia yang menyebut diri-Nya ‘dekat’.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَالْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya padamu (wahai Muhammad) tentang-Ku, sungguh Aku ini dekat. Aku meng-ijabahi pinta dan do’a hamba yang dipanjatkan (hanya) kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al-Baqarah: 186]

Isyarat lembut ayat ini dengan sejuknya menyapa para hamba yang tengah mengabdi di atas panasnya kesabaran meregang hawa, di bulan yang disebut Sayyidus Syuhūr, Penghulunya segenap bulan.

Bukankah ia terletak di antara ayat-ayat yang berbicara tentang hukum puasa? Ada apa gerangan? Tentu saja untuk menegaskan bahwa Ramadhân kita, selayaknya tidak tandus dari lisan-lisan yang lirih melafazkan kalimat-kalimat do’a dan munajat, lisan-lisan yang menyampaikan keluh kesah dan kehinaan insani di hadapan-Nya. Juga untuk menegaskan bahwa Ramadhân adalah momen diijabahnya do’a.

Ibnu ‘Asyur berkata dalam tafsirnya[1],

وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ إِيمَاءٌ إِلَى أَنَّ الصَّائِمَ مَرْجُوُّ الْإِجَابَةِ، وَإِلَى أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مَرْجُوَّةٌ دَعَوَاتُهُ، وَإِلَى مَشْرُوعِيَّةِ الدُّعَاءِ عِنْدَ انْتِهَاءِ كُلِّ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Dalam ayat ini terdapat isyarat, bahwa orang yang berpuasa, punya harapan besar akan do’a yang terkabul, dan do’a di bulan Ramadhân sangatlah dianjurkan, demikian juga dengan do’a di saat menyelesaikan ibadah puasa setiap harinya”[2]

Ambil air wudhu, lalu bergegaslah menuju mushaf-mu sobat. Cari ayat tersebut dalam lembaran-lembaran suci bertorehkan kalimat Rabb-mu. Lalu renungkan ‘rahasia’ ungkapan-Nya yang memuncaki keindahan bahasa dan penuturan. Engkau akan mendapati ayat tersebut tampil ‘beda’ dengan ayat-ayat yang semisal dalam konteksnya. Coba renungkan sekali lagi keindahan ungkapan kalimat ini dengan kejernihan mata hatimu:

“Jika hamba-hamba-Ku bertanya padamu (wahai Muhammad) tentang-Ku, sungguh Aku ini dekat.”

Siapakah yang menjawab langsung pertanyaan para hamba tersebut? Allâh, yang Mahaagung lagi Mahamulia. Tanpa perantaraan siapapun, sekalipun itu manusia teragung bernama Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Lalu bandingkan dengan ayat-ayat dalam konteks semisal (tanya-jawab) berikut ini:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah (wahai Muhammad): “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji..” [QS. Al-Baqarah: 189]

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah (wahai Muhammad): “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar…” [QS. Al-Baqarah: 217]

Allâh menjadikan Nabi kita tercinta sebagai perantara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hilal, bulan haram, dll. Tidak seperti saat pertanyaan itu tentang-Nya dan tentang do’a yang dipanjatkan kepada-Nya.

Ada apa gerangan? Tidak lain karena keagungan objek pertanyaan para hamba (yaitu tentang-Nya) dan kemuliaan ibadah yang bernama do’a. Sang Kekasih, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, kali ini Allâh hapuskan dari ungkapan ayat tersebut sebagai perantara jawaban, karena alasan yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Asyūr dalam tafsirnya (at-Tahrïr wat Tanwïr: 2/179):

تَنْبِيهًا عَلَى شِدَّةِ قُرْبِ الْعَبْدِ مِنْ رَبِّهِ فِي مَقَامِ الدُّعَاءِ

 “Sebagai penegasan, betapa dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya saat sang hamba dalam maqam berdo’a (pada-Nya)”

Subhânallâh…

***

Di rumahku, menjelang berbuka, 05 Ramadhân 1434-H

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] at-Tahrïr wat Tanwïr: 2/179.

[2] Jujur, saya ingin sekali menukilkan hadits Abdullâh bin ‘Umar berikut ini untuk memperkokoh sisi pendalilan.

إن للصائم عند فطرة دعوة لا ترد

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, ada do’a yang tidak akan ditolak saat dia berbuka.”

Hanya saja di antara para ahli hadits, ada yang men-dha’if-kannya, karena dalam sanadnya ada perawi yang tidak dikenal yang bernama Ishâq bin ‘Ubadillâh al-Madani [lih. Irwâ-ul Ghalïl no. 921, al-Albâni]

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: