Tinggalkan komentar

Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-2 – Habis)

Ramadhân masih menyisakan kisah yang panjang. Berbagai peristiwa bersejarah kembali akan kita renungi pada bagian tulisan yang terakhir ini sebagai ibrah lanjutan, setelah membaca artikel sebelumnya yang berjudul “Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-1): ‘Dari Kenaikan, Rekoneksi Langit & Bumi, Kejayaan, dan Kehinaan’”

07 – Wafatnya putri Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, Ruqayyah radhiallâhu ‘anha

Satu lagi insan mulia setelah Khadïjah radhiallâhu ‘anha yang dimuliakan Allâh untuk menghadap ke haribaan-Nya, di bulan Ramadhân tahun ke-2 setelah hijrah. Beliau adalah Ruqayyah binti Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, istri dari ‘Utsmân bin ‘Affân radhiallâhu ‘anhu. Demikian yang termaktub dalam Siyar A’lâmin Nubalâ (2/177) karya Imam Dzahabi, dan Thabaqât Ibni Sa’ad (8/36).

08 – Cucu Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, al-Hasan, dilahirkan

Tepatnya pada tahun ke-3 Hijriyah di malam pertengahan bulan Ramadhân, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thâlib dilahirkan dari rahim mulia Fâthimah az-Zahrah binti Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Al-Hasan bin ‘Ali, dia—bersama saudaranya Husein—adalah pemimpin para pemuda kelak di surga[1]. Melalui kelapangan dadanya Allâh berkenan menyatukan dua kubu kekuatan kaum mukminin yang tengah bertikai, antara kubu al-Hasan dan Mu’awiyah radhiallâhu’anhuma di Syam[2]. Dialah pemuda terpilih dalam do’a Sang Kakek—shallallâhu ‘alaihi wasallam—ketika dulu pernah memeluknya semasa kecil:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ، وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ

“Ya Allâh, sungguh aku mencintainya (al-Hasan), maka cintailah ia, dan cintailah orang-orang yang mencintainya.” [Bukhâri: 5884]

09 – Pernikahan Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam

Pada bulan Ramadhân tahun ke-3 Hijriyah, Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam menikahi Zainab binti Khuzaimah binti al-Hârits. [Thabaqât al-Kubra: 8/115, Ibnu Sa’ad]

10 – Persaksian langit tentang kesucian Ibunda ‘Aisyah radhiallâhu’anha

Dalam kesucian Ramadhân di tahun ke-5 Hijriyah, Allâh menurunkan wahyu yang menegaskan kesucian ‘Aisyah radhiallâhu’anha dari hadïtsul ifki, desas-desus perbuatan selingkuh yang digembar-gemborkan oleh orang-orang munafik. [al-Bidâyah wan Nihâyah: 3/91-92]

Fitnah keji itu menyeruak menjadi kedustaan publik setelah ‘Aisyah radhiallâhu’anha baru kembali dari perang Bani al-Mushthaliq yang terjadi di bulan Sya’ban. Kedustaan tersebut berlanjut sampai memasuki Ramadhân, sampai Allâh menurunkan sekitar 10 ayat dalam Surat an-Nūr (11-20) untuk membela kehormatan ‘Aisyah dan membantah sekaligus orang-orang mempercayai kabar burung perselingkuhan tersebut. Dan sekali lagi, pembelaan Allâh melalui wahyu-Nya ini, terjadi di bulan Ramadhân yang mulia.

11 – Penugasan pasukan khusus

Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam kerap kali mengutus sâriyah (pasukan-pasukan kecil) di bulan Ramadhân untuk menjalankan misi-misi khusus. Di antaranya adalah; sâriyah Zaid bin Hâritsah yang diutus ke Bani Fazârah pada Ramadhân tahun 6 Hijriyah [Sirah Ibnu Hisyam: 4/351], sâriyah Ghâlib bin ‘Abdillâh ke Bani al-Maifa’ah [Shahïh al-Bukhâri: 6872, Muslim: 158, 159],  sâriyah Abu Qatâdah di tahun ke-8 Hijriyah menuju Bathnu Idham [Thabaqât Ibnu Sa’ad: 2/133], dan lain-lain.

12 – Penaklukan Kota Makkah

Dalam perisitiwa Fathu Makkah, Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam meninggalkan Madinah bersama rombongan pada hari ke-10 Ramadhân, beliau baru memasuki Makkah setelah 19 malam Ramadhân telah berlalu.

13 – Pemusnahan “tuhan-tuhan” yang disembah selain Allâh

Tidak menunggu hitungan hari setelah Fathu Makkah, Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam mengutus beberapa orang sahabatnya untuk melakukan misi pemusnahan tuhan-tuhan selain Allâh di berbagai tempat.

Seperti pengutusan sâriyah Khâlid bin al-Walïd radhiallâhu’anhu untuk merobohkan berhala ‘Uzza saat Ramadhân tahun ke-8 Hijriyah waktu itu masih tersisa 5 malam. [Thabaqât Ibnu Sa’ad: 2/145][3]

Termasuk juga pengutusan sâriyah Sa’ad bin Zaid al-Asyhali radhiallâhu’anhu untuk menghancurkan berhala Manât. Dan sâriyah ‘Amr bin al-‘Ash radhiallâhu’anhu untuk meruntuhkan berhala Suwâ’ milik suku Hudzail. Semuanya terjadi pada tahun yang sama. [Thabaqât Ibnu Sa’ad: 2/146-147]

14 – Berbondongnya manusia masuk Islam

Pada tahun ke-9 Hijiryah di bulan Ramadhân yang mulia, datanglah menghadap Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam utusan Raja-Raja Himyar yang menyatakan keislaman mereka. [Sirah Ibn Hisyâm: 311-313][4]. Demikian juga yang dilakukan oleh duta Tsaqïf. [Sirah Ibn Hisyâm: 4/249]

Adapun Jarïr bin ‘Abdillâh al-Bajili, beliau mendatangi Nabi dan menyatakan keislamannya di bulan Ramadhân pada tahun ke-10 Hijriyah. [Târïkh al-Madïnah Ibn Syibh: 2/311-313, al-Ishâbah: 2/220]

***

Ma’had Abu Hurairah Mataram, saat mentari mulai menyengat

10 Ramadhân 1434 / 19072013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

“semoga Allâh memaafkannya”

Catatan:

Tulisan ini banyak menyadur data referensi dari artikel berjudul “Ahdâts Waqa’at fï Ramadhân”, karya Abu ‘Abdillâh adz-Dzahabi (http://saaid.net). Di beberapa tempat, saya (Abu Ziyân) menambahkan referensi lain, dan saya letakkan di catatan kaki.


[1] Shahïh: Ahmad (3/3, 62, 64, 82), at-Tirmidzi no. 3768, dll. Lih. Siyar A’lâmin Nubalâ’: 4/330, cet. Dârulhadïts 1427-H, dan ash-Shahïhah no. 796.

[2] Bukhari: 3704, Ahmad: 5/37-38, dll. Lih. Siyar A’lâmin Nubalâ’: 4/330, cet. Dârulhadïts 1427-H.

[3] Thabaqât Ibnu Sa’ad: 2/110, Tahqïq: Muhammad Abdul Qadir ‘Atha, Cet. Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah 1410-H.

[4] Al-Bidâyah wan Nihâyah: 5/88, Tahqïq: ‘Ali Syïra, Cet. Dâr Ihyâ-ut Turâts 1408-H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: