1 Komentar

Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf..??

Di antara para ulama ada yang menyatakan bahwa i’tikaf harus dibarengi dengan berpuasa. Ini adalah pendapat Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullâh (wafat: 728-H) sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullâh (wafat: 751-H) dalam Zâdul Ma’âd (2/83, Cet. Maktabatul Manâr – Kuwait 1415-H):

وَلَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ اعْتَكَفَ مُفْطِرًا قَطُّ، بَلْ قَدْ قَالَتْ عائشة: لَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ. وَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الِاعْتِكَافَ إِلَّا مَعَ الصَّوْمِ، وَلَا فَعَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مَعَ الصَّوْمِ. فَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ فِي الدَّلِيلِ الَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ السَّلَفِ: أَنَّ الصَّوْمَ شَرْطٌ فِي الِاعْتِكَافِ، وَهُوَ الَّذِي كَانَ يُرَجِّحُهُ شيخ الإسلام أبو العباس ابن تيمية.

“Tidak pernah dinukil dari Nabi riwayat bahwasanya beliau pernah melakukan i’tikâf tanpa berpuasa. Bahkan ‘Aisyah radhiallâhu’anha menegaskan: ‘tidak ada i’tikâf tanpa puasa’. Allâh ta’âla juga tidak menyebut i’tikâf kecuali diiringi dengan penyebutan puasa. Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pun tidak pernah melakukan i’tikâf kecuali dibarengi dengan berpuasa. Maka pendapat yang râjih (lebih kuat) dari sisi pendalilan adalah pendapat jumhūr salaf yang menyatakan bahwa puasa merupakan syarat i’tikâf. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullâh.”

Di antara para Sahabat yang menganggap i’tikâf harus dibarengi dengan puasa adalah; Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbâs, ‘Aisyah radhiallâhu’anhum. Sementara di kalangan Tâbi’ïn ada; ‘Urwah bin Zubair, az-Zuhri, al-Auzâ’i, dan ats-Tsauri. Imam Mâlik rahimahullâh bahkan memasukkan puasa sebagai rukun i’tikâf. Demikian juga pendapat dari Imam Hanafi rahimahullâh yang diriwayatkan oleh al-Hasan. Pendapat ini juga termasuk pendapat qadïm (terdahulu) Imam Syâfi’i. [lih. Al-Mausū’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah: 5/213]

Pendapat yang lain

Sementara asy-Syâfi’iyyah dan al-Hanâbilah menyatakan bahwa puasa bukanlah syarat i’tikâf secara mutlak, sama saja apakah itu i’tikâf sunnah atau i’tikâf wajib (karena nadzar). Ini adalah pendapat al-Hasan al-Bashri, Abu Tsaur, Dawud, Ibnul Mundzir. Menurut mereka, i’tikâf seseorang tetap sah (tidak batal) dengan batalnya puasa karena makan dan minum. Namun pengusung pendapat ini dengan tegas menyatakan bahwa i’tikâf sambil berpuasa lebih afdhal dari pada tidak. Pendapat ini diriwayatkan dari beberapa Sahabat seperti; ‘Ali bin Abi Thâlib dan Ibnu Mas’ūd radhiallâhu’anhum. Pijakan dalil pendapat ini adalah:

Pertama: hadits ‘Aisyah radhiallâhu’anha, riwayat Muslim (no. 1172), yang menyebut Nabi pernah melakukan i’tikâf pada 10 hari pertama di bulan Syawwâl. Menurut mereka, tanggal 1 Syawwâl termasuk dalam 10 hari pertama, sementara Nabi mustahil berpuasa pada hari tersebut.

Kedua: hadits ‘Umar radhiallâhu’anhu, riwayat al-Bukhari (no. 2043 dan 6697), yang menyebutkan bahwa beliau pernah bernadzar untuk i’tikâf semalam di Masjidil Harâm, maka Nabi memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut. Ini menunjukkan bahwa i’tikâf tidak harus dibarengi dengan puasa. [lih. Al-Mausū’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah: 5/213-214]

Dengan dua dalil tersebut, saya (secara pribadi)—sampai saya menemukan sanggahan ilmiah yang memuaskan dari pendapat pertama—untuk sementara ini lebih condong pada pendapat kedua; bahwa puasa hanyalah bagian dari sunnah i’tikâf dan bukan termasuk syarat ataupun rukunnya. Wallâhu’alâm.

Terlintas dalam benak saya untuk menuliskan beberapa sisi jawaban ‘aqli sebagai sanggahan terhadap sisi pendalilan yang dikemukakan oleh pendapat pertama. Hanya saja, kekuatiran akan nihilnya pegangan salaf–yang masih belum saya temukan–pada jawaban ‘aqli yang melintasi benak tersebut, sudah cukup membangkitkan ‘rasa malu’ dan ‘tau diri’ yang mencegah saya untuk melakukannya.

***

Di rumah tempat berteduh, menjelang berbuka, 11 Ramadhan 1434 / 20072013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

“semoga Allah memaafkannya”

One comment on “Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf..??

  1. […] artikel sebelumnya yang berjudul “Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf…??” , saya menyatakan kecondongan saya pada pendapat a-immah (para Imâm) yang menyatakan bahwa […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: