Tinggalkan komentar

Sanggahan Atas Tulisan Sebelumnya “Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf..??”

Segala puji bagi Allâh pemilik ilmu yang memuncaki pucuk kesempurnaan. Ada kebahagiaan tersendiri rasanya, ketika mengetahui bahwa Allâh ternyata masih sudi memberikan kita tambahan ilmu. Ya, sepercik ilmu dari keluasan ilmu-Nya yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Segenap luapan rasa syukur hanya pantas tertuju untuk-Nya. Dia masih memberikan kita kesempatan untuk meluruskan yang bengkok, untuk bangkit dari ketergelinciran, untuk membenarkan yang salah, dan untuk kembali ke pangkuan kebenaran.

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf…??” , saya menyatakan kecondongan saya pada pendapat a-immah (para Imâm) yang menyatakan bahwa ibadah puasa bukanlah syarat i’tikâf, melainkan sebatas sunnah yang melengkapi kesempurnaannya semata. Dalam artian, seseorang tetap dikatakan ber-i’tikâf jika dia meniatkan i’tikâf di masjid, kendati saat itu ia tidak berpuasa, terkecuali jika i’tikâf tersebut dilakukan saat Ramadhân.

Sampai rencana Allâh yang begitu indah dengan lembutnya menghampiri saya. Dia menakdirkan saya membaca sebuah risalah berjudul al-Inshâf fï Ahkâmil I’tikâf, karya al-Muhaddits asy-Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari hafizhâhullâhu ta’âla, seorang ulama yang dikenal kokoh di atas sunnah, pakar dan peneliti hadits tersohor di zaman ini, penulis Islami dengan karya-karyanya yang fenomenal. Risalah tersebut benar-benar telah menyingkap selubung yang menirai mata, yang selama ini saya kira sebagai proyeksi riil dari sebuah “kebenaran” yang saya anggap benar. Hanya saja, di balik selubung itu ternyata ada kebenaran yang sebelumnya saya anggap sebuah kekeliruan.

Berbicara tentang syarat-syarat i’tikâf, dalam risalah mungil setebal 48 halaman tersebut Syaikh ‘Ali Hasan menegaskan bahwa i’tikâf harus dibarengi dengan puasa. Beliau dengan panjang lebar memaparkan dalil demi dalil yang menyokong pendapatnya dan pendapat para Imâm yang telah mendahului beliau dalam masalah ini.

Dan yang membuat saya dikerumuni rasa kagum bercampur rasa syukur adalah, manakala penulis menyanggah 2 dalil utama yang digunakan oleh para pengusung pendapat kedua (termasuk saya pada mulanya)—bahwa puasa bukanlah syarat i’tikâf–dengan sanggahan ilmiah yang memuaskan. Benar-benar argumentasi yang memaksa saya harus berubah haluan. Bagaimanapun juga, al-haqqu ahaqqu an yuttaba’, kebenaran tetap lebih layak untuk diikuti, di atas segala kepentingan.

Singkat cerita,

berikut ini adalah cuplikan beberapa penggalan paragraf yang saya tulis pada artikel sebelumnya:

Pijakan dalil pendapat ini (yang menyatakan bahwa puasa adalah sunnah i’tikâf, bukan syarat i’tikâf) adalah:

Pertama: hadits ‘Aisyah radhiallâhu’anha, riwayat Muslim (no. 1172), yang menyebut Nabi pernah melakukan i’tikâf pada 10 hari pertama di bulan Syawwâl. Menurut mereka, tanggal 1 Syawwâl termasuk dalam 10 hari pertama, sementara Nabi mustahil berpuasa pada hari tersebut.

Kedua: hadits ‘Umar radhiallâhu’anhu, riwayat al-Bukhari (no. 2043 dan 6697), yang menyebutkan bahwa beliau pernah bernadzar untuk i’tikâf semalam di Masjidil Harâm, maka Nabi memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut. Ini menunjukkan bahwa i’tikâf tidak harus dibarengi dengan puasa. [lih. Al-Mausū’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: 5/213-214]

Dengan dua dalil tersebut, saya (secara pribadi)—sampai saya menemukan sanggahan ilmiah yang memuaskan dari pendapat pertama—untuk sementara ini lebih condong pada pendapat kedua; bahwa puasa hanyalah bagian dari sunnah i’tikâf dan bukan termasuk syarat ataupun rukunnya. Wallâhu’alâm.

Selanjutnya ijinkan saya menyanggah kembali apa yang saya tuliskan di atas dengan mengadopsi apa yang dipaparkan oleh Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi hafizhâhullâh dalam risalah beliau al-Inshâf fï Ahkâmil I’tikâf (hal. 14-19).

Sanggahan pendalilan dengan ucapan ‘Aisyah

Ibnu ‘Abdil Hâdi mengatakan, sebagaimana dinukil oleh az-Zaili’i dalam Nashbur Râyah (2/489, Cet. Muassasah ar-Rayyân)

وَقَوْلُ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ عليه السلام اعْتَكَفَ فِي الْعَشْرِ الْأوَّلِ مِنْ شَوَّالٍ، لَيْسَ بِصَرِيحٍ فِي دُخُولِ يَوْمِ الْفِطْرِ، لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ أَوَّلُ الْعَشْرِ الَّذِي اعْتَكَفَ ثَانِيَ يَوْمِ الْفِطْرِ، بَلْ هَذَا هُوَ الظَّاهِرُ، وَقَدْ جَاءَ مُصَرَّحًا بِهِ فِي حَدِيثِ، فَلَمَّا أَفْطَرَ اعْتَكَفَ

“Ucapan ‘Aisyah radhiallâhu’anha bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah i’tikâf di sepuluh pertama bulan Syawwâl, tidak secara tegas menyebutkan bahwa beliau i’tikâf di hari ‘Idul Fitri. Karena sah-sah saja ungkapan ‘sepuluh hari yang pertama’ diperuntukkan bagi Nabi sekalipun beliau mulai i’tikâf di hari kedua setelah ‘Idul Fitri. Bahkan inilah yang nampak dari makna tekstual ucapan ‘Aisyah radhiallâhu’anha tersebut, karena ada riwayat yang menyebutkan bahwa (setelah Nabi berhari raya—tanggal 1 Syawwâl—beliau lantas mulai i’tikâf—keesokan harinya—)”

Sanggahan pendalilan dengan riwayat ‘Umar

Riwayat ‘Umar yang dijadikan sebagai dalil utama oleh para pengusung pendapat kedua (tentang bolehnya i’tikâf tanpa berpuasa), ternyata diriwayatkan dalam beberapa lafaz yang berbeda. Jika lafaz-lafaz tersebut dikumpulkan lalu dikompromikan satu sama lain, maka tampak dengan jelas kelemahan sisi pendalilan yang dibangun di atasnya oleh para pengusung pendapat kedua. Berikut, adalah lafaz-lafaz yang dimaksud:

Pertama: Lafaz I’tikâf satu hari

«عَلَيَّ اعْتِكَافُ يَوْمٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، فَأَمَرَهُ أَنْ يَفِيَ بِهِ»

“’Umar radhiallâhu’anhu berkata: ‘dulu semasa jahiliyyah, saya punya nadzar untuk i’tikâf satu hari’. Maka Nabi memerintahkan beliau untuk menunaikannya.” [Bukhâri: 3144]

Sementara dalam riwayat Imam Muslim disebutkan;

سَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اعْتِكَافِ يَوْمٍ

“’Umar radhiallâhu’anhu bertanya pada Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang nadzar i’tikâf sehari yang dulu pernah ia niatkan semasa jahiliyyah.” [Muslim: 1656]

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ يَوْمًا فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَكَيْفَ تَرَى؟ قَالَ: «اذْهَبْ فَاعْتَكِفْ يَوْمًا»

“’Umar radhiallâhu’anhu berkata: ‘wahai Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, saya pernah bernadzar di masa jahiliyyah untuk i’tikâf sehari di Masjidil Harâm, bagaimana menurutmu? Beliau bersabda: ‘pergi, tunaikan nadzarmu sehari.’”  [Muslim: 3/1277]

Kedua: Lafaz yang menyebutkan satu malam

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوْفِ نَذْرَكَ فَاعْتَكِفْ لَيْلَةً»

“’Umar radhiallâhu’anhu berkata: ‘wahai Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, saya pernah bernadzar di masa jahiliyyah untuk i’tikâf semalam di Masjidil Harâm, bagaimana menurutmu? Beliau bersabda: ‘tunaikan nadzarmu, i’tikaflah semalam.’”  [Bukhâri: 2042]

Ketiga: Tanpa penyebutan satu hari atau satu malam

سَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الجَاهِلِيَّةِ، اعْتِكَافٍ: «فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَفَائِهِ»

“’Umar radhiallâhu’anhu bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang nadzar i’tikâf yang dulu pernah ia niatkan di masa jahiliyyah. Maka Nabi memerintahkan beliau untuk menunaikannya.” [Bukhâri: 4320]

Lafaz riwayat yang berbeda-beda ini, menjadikan pendalilan bahwa ‘Umar hanya menunaikan nadzar hanya di malam hari saja, adalah pendalilan yang lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah untuk menyokong pendapat bolehnya i’tikâf tanpa berpuasa.

Pendalilan dari sisi lughah (bahasa)

Setelah membahas perbedaan lafaz pada hadits ‘Umar di atas, Ibnu Hajar menukil metode jama’ (komproni hadits) dari Ibnu Hibbân dan ulama selain beliau yang menyatakan:

بِأَنَّهُ نَذَرَ اعْتِكَافَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَمَنْ أَطْلَقَ لَيْلَةً أَرَادَ بِيَوْمِهَا وَمَنْ أَطْلَقَ يَوْمًا أَرَادَ بِلَيْلَتِهِ

“Bahwasanya ‘Umar sebenarnya meniatkan untuk i’tikâf sehari-semalam. Karena siapa yang memutlakkan lafaz ‘semalam’, juga memaksudkan siang harinya, dan siapa yang memutlakkan lafaz ‘sehari’, juga memaksudkan malam harinya.” [Fathul Bâri: 4/274]

Menggunakan ungkapan “malam” untuk memaksudkan “hari”, adalah salah satu kebiasan lisan arab. Karena ungkapan dengan lafaz ‘malam’ lebih dominan di kalangan Arab daripada lafaz ‘hari’. Mereka mengatakan shumna khomsan “صمنا خمسا” untuk mengungkapkan jumlah puasa sebanyak lima hari, sekalipun menggunakan ungkapan ‘adad “خمسا” yang menunjukkan arti “lima malam”, karena jika yang diinginkan adalah “lima hari” maka semestinya ungkapan yang digunakan adalah shumna khomsatan “صمنا خمسة”. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Daqïqil ‘Ied dalam Ihkâmul Ahkâm (2/56), sebagaimana dinukil pula oleh Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi dalam risalahnya yang berharga, al-Inshâf fï Ahkâmil I’tikâf (hal. 17, cet. Maktabah Islamiyyah, 1407-H)

Akhiru kalâm,

Demikianlah jawaban ilmiah atas pendalilan menggunakan ucapan ‘Aisyah dan riwayat ‘Umar di atas. Keduanya merupakan argumentasi utama para pengusung pendapat bolehnya i’tikâf tanpa puasa.

Terakhir, sebelum menutup tulisan ini, ada baiknya kita menyimakan riwayat Ibnu ‘Umar radhiallâhu’anhu, bahwasanya Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada ‘Umar dalam lafaz keempat dari riwayat ‘Umar di atas:

اعْتَكِفْ وَصُمْ

“Tunaikanlah i’tikâf, dan berpuasalah.” [riwayat Abu Dâwūd: 2474, ad-Dâruquhni: 2/200, al-Baihaqi: 4/316, al-Hâkim: 1/439, Ibnu ‘Adi: 4/1529, dan al-Jashshâsh dalam Ahkâmul Qur’ân: 1/246, dinukil dari al-Inshâf fï Ahkâmil I’tikâf hal. 17, Syaikh ‘Ali Hasan mengisyaratkan hasan-nya hadits ini]

Riwayat tersebut semakin memperkuat pendapat pertama bahwa puasa adalah syarat i’tikâf. Inilah pendapat yang saya pilih setelah sebelumnya saya merangkul pendapat sebaliknya.  Walillâhil hamd.

Untuk tambahan pendalilan yang menyokong pendapat ini, silahkan memabaca artikel sebelumnya “Puasa; Syarat Sahnya I’tikaf..??

***

Di Ma’had tercinta, selepas Tarawih

20 Ramadhân 1434-H / 28072013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: