2 Komentar

Aku, Istriku, dan Kalung Mutiara Berbenang Merah

Abu Muzhaffar, cucu dari Ibnul Jauzi bertutur: Ibnu ‘Aqïl rahimahullâh menceritakan (sepenggal kisah) tentang dirinya. Beliau berkata: ‘Aku pergi menunaikan manasik haji. Tiba-tiba saja aku menemukan sebuah kalung mutiara dengan seuntai benang berwarna merah. Seorang Syaikh lanjut usia yang kehilangan penglihatannya, ternyata mencari-cari kalung tersebut. Syaikh, bahkan rela mengorbankan 100 dinar bagi siapa saja yang bisa menemukan kalung tersebut. Kalung tersebut, pun kuserahkan kembali pada Syaikh (yang malang) itu.

Ia berkata: ‘ambillah dinar-dinar ini’. Namun aku menolaknya.

Kemudian aku berangkat menuju Syâm. Aku singgah di al-Quds (Palestina) untuk menuju Baghdâd. (Dalam perjalanan), aku bernaung di sebuah masjid di kota Halab (Aleppo, Syria) dalam keadaan dingin dan lapar. Para jama’ah masjid tersebut menghampiriku, maka aku pun mengimami shalat mereka. Makanan, lantas mereka suguhkan untukku.

Saat itu, Ramadhân baru menghampiri. Mereka berkata padaku:

‘Imam kami telah wafat, mohon kiranya engkau bisa mengimami shalat bersama kami bulan ini’. Aku mengiyakan permintaan mereka.

Kembali mereka berkata padaku: ‘Imam kami punya seorang putri’. Aku pun dinikahkan dengannya. Setahun lamanya aku tinggal bersamanya, dan aku memberinya seorang putra. Saat menjalani masa nifas, ia ditimpa oleh sakit.

Suatu hari aku melihat istriku. Di lehernya ada seuntai kalung—yang dulu pernah aku temukan dan aku kembalikan pada pemiliknya, seorang Syaikh yang tua lagi buta—masih dengan benangnya yang berwarna merah.

Aku lantas bertutur pada istriku: ‘Pada kalung ini, ada sebuah kisah’. Kemudian aku menceritakan padanya kejadianku bersama Syaikh kala itu.

Iapun menangis, seraya berkata: ‘Engkau…, engkaulah orangnya, demi Allâh. Dulu ayahku pernah menangis, dalam munajatnya ia berkata: ‘Yâ Allâh…!! Karuniakanlah putriku seorang suami semisal laki-laki yang telah mengembalikan kalung ini padaku’. Sungguh Allâh telah mengabulkan do’anya”. Istriku lantas wafat menyambut ajalnya.

Kisah ini yang indah lagi ajaib ini termaktub dalam Mirâtu az-Zamân hal. 8/52-53. Saya menukilnya dari Siyar A’lâmin Nubalâ’: 14/332-333 (cet. Dârulhadïts-Kairo, 1427-H), karya Imam adz-Dzahabi rahimahullâh (wafat: 748-H).

 ***

Ditulis di Ma’had tercinta, selepas shalat Asar, 07 Syawwal 1434 / 14082013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

Catatan:

Entah kenapa, hati saya tiba-tiba tersentuh untuk mengalihbahasakan kisah nyata ini setelah al-Akh al-Ustâdz al-Fâdhil Lalu Murzan Abu Adzkia memposting teks asli kisah ini disebuah grup WhatsApp tempat ngumpulnya alumni Ma’had Abu Hurairah Mataram. Satu hal yang pasti, tidak ada motivasi saya untuk menyebarkan kisah ini selain rasa kagum pada pesan ruhani yang terkandung di dalamnya, teriring harapan akan ganjaran dari Allâh, melalui mereka yang bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.

***

Berikut, adalah teks asli hasil postingan tersebut (Semoga Allâh membalas al-Akh Abu Adzkia dengan kebaikan yang melimpah, atas faidah kisah yang berharga ini):

وَقَالَ أَبُو المُظَفَّرِ سِبْطُ ابْن الجَوْزِيّ: حَكَى ابْنُ عَقِيْل عَنْ نفسه قال: حججت، فالتقطت عقد لؤلؤ فيه خيط أَحْمَرَ، فَإِذَا شَيْخٌ أَعْمَى يَنشُدُه، وَيبذُلُ لِمُلْتَقِطِهِ مائَة دِيْنَارٍ، فَرددتُهُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: خُذِ الدَّنَانِيْر، فَامتنعتُ.

وَخَرَجتُ إِلَى الشَّامِ، وَزُرْتُ القُدْس، وَقصدتُ بَغْدَادَ، فَأَويتُ بِحَلَبَ إِلَى مَسْجِد وَأَنَا بردَانُ جَائِع، فَقَدَّمُوْنِي، فَصَلَّيْتُ بِهِم، فَأَطعمُوْنِي، وَكَانَ أَوَّلَ رَمَضَان، فَقَالُوا: إِمَامُنَا تُوُفِّيَ, فَصَلِّ بِنَا هَذَا الشَّهْرَ، فَفَعَلتُ، فَقَالُوا: لإِمَامِنَا بنتٌ، فَزُوِّجْتُ بِهَا، فَأَقَمْتُ مَعَهَا سَنَة، وَأَوْلَدْتُهَا وَلداً ذكراً، فَمَرِضَتْ فِي نَفَاسهَا، فَتَأَمَّلتُهَا يَوْماً فَإِذَا فِي عُنُقِهَا العقدُ بِعَيْنِهِ بِخَيطِهِ الأَحْمَر، فَقُلْتُ لَهَا: لِهَذَا قِصَّة، وَحكيتُ لَهَا، فَبكت، وَقَالَتْ: أَنْتَ هُوَ وَاللهِ، لَقَدْ كَانَ أَبِي يَبْكِي، وَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ ارزُقْ بِنْتِي مِثْل الَّذِي رَدَّ العقدَ عَلِيَّ، وَقَدِ اسْتَجَاب اللهُ مِنْهُ، ثُمَّ مَاتَتْ.

2 comments on “Aku, Istriku, dan Kalung Mutiara Berbenang Merah

  1. Subhanallah…
    Kisahnya sangat menginspirasi ustadz…

  2. […] Saputra Halim (Abi Ziyan) on Agustus 14, 2013 in Fawaa-id, Hikmah, Kisahku, Yang Melintas di […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: