Tinggalkan komentar

Sepucuk Surat dari Sang Khalifah: “Tetaplah Engkau di Atas Sunnah”

Suatu ketika Sang Khalïfah,

‘Umar bin ‘Abdilazïz rahimahullâh (wafat: 101-H / 720-M)[1], yang terkenal akan keilmuan dan kezuhudannya itu, menerima sepucuk surat yang berisikan sekelumit pertanyaan tentang al-Qadar (takdir). Tampaknya isi surat tersebut menyiratkan akan semburat kebid’ahan yang mulai muncul di masa beliau terkait keimanan terhadap takdir.

Beliau pun segera menulis beberapa kalimat balasan, juga di atas sepucuk surat. Diiringi harapan akan seteguk ‘ibrah dan ilmu, biarkanlah sepucuk surat itu bercerita tentang kemuliaan apa yang tertulis di atasnya:

Isi Surat

فَإِنِّي أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ ، وَالاقْتِصَادِ فِي أَمْرِهِ ، وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُونَ مِمَّا قَدْ جَرَتْ سُنَّتُهُ ، وَكُفُوا مَؤُنَتَهُ

Aku wasiatkan padamu untuk senantiasa bertakwa pada Allâh, dan sederhana (tidak melampaui batas dan tidak pula meremehkan) dalam menjalankan perintah-Nya. Aku juga mewasiatkan padamu untuk mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wasallam, meninggalkan perkara-perkara baru hasil kreasi mereka yang mengada-ada (dalam masalah agama) setelah berjalannya sunnah (yang begitu jelas dan terang benderang), dan setelah Allâh menghilangkan beban berat amalan-amalan kebid’ahan dari mereka (para Sahabat).

فَعَلَيْكَ بِلُزُومِ السُّنَّةِ فَإِنَّهَا لَكَ عِصْمَةٌ، ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَبْتَدِعِ النَّاسُ بِدْعَةً إِلَّا قَدْ مَضَى قَبْلَهَا مَا هُوَ دَلِيلٌ عَلَيْهَا أَوْ عِبْرَةٌ فِيهَا، فَإِنَّ السُّنَّةَ إِنَّمَا سَنَّهَا مَنْ قَدْ عَلِمَ مَا فِي خِلَافِهَا مِنْ الْخَطَإِ وَالزَّلَلِ وَالْحُمْقِ وَالتَّعَمُّق

Maka wajib atasmu untuk senantiasa di atas sunnah, sebab dengannya, engkau akan meraih penjagaan (dari kesesatan dan adzab Allâh).

Selanjutnya Ketahuilah..! Bahwa tidaklah seseorang mengamalkan kebid’ahan, melainkan telah berlalu keterangan dan bukti-bukti nyata serta ibrah yang memperlihatkan kesesatan bid’ah tersebut. Karena sunnah, telah disyari’atkan oleh pencanang syari’at (Allâh atau Rasūlullâh) yang amat mengetahui lawan dari sunnah tersebut, berupa kesalahan, cela dan cacat, kepandiran dan sikap melampaui batas yang membebani[2].

فَارْضَ لِنَفْسِكَ مَا رَضِيَ بِهِ الْقَوْمُ لأَنْفُسِهِمْ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ قَدْ كفوا، وَلَهُمْ كَانُوا عَلَى كَشْفِ الأُمُورِ أَقْوَى، وَبِفَضْلٍ مَا كَانَ فِيهِ أَوْلَى. فَإِنْ كَانَ الْهُدَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ، لَقَدْ سَبَقْتُمُوهُمْ إِلَيْهِ.

Maka lapangkan dadamu untuk menerima apa-apa yang telah diterima dengan dada lapang oleh as-Salaf Shâlihūn, yaitu Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam berikut para Sahabatnya (menyangkut ajaran agama ini, dan manhaj yang ditempuh oleh mereka-pen). Karena mereka (para Salaf), benar-benar berada di atas ilmu dalam melihat hakikat. Mereka telah mengingkari dan mencegah kebid’ahan juga di atas ilmu dan petunjuk. Mereka adalah kaum yang lebih kokoh dalam menyingkap kebenaran di balik permasalahan-permasalahan agama dibanding al-Khalaf, generasi yang datang setelah mereka. Mereka adalah suatu kaum yang lebih berhak atas keutamaan dalam agama dibanding kaum selain mereka. (Jika demikian halnya, maka pilihlah manhaj beragama untuk diri kalian sebagaimana mereka—para Salaf—memilih manhaj beragama. Karena sungguh, mereka benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus).

فَلَئِنْ قُلْتُمْ: أَمْرٌ حَدَثَ بَعْدَهُمْ، مَا أَحْدَثَهُ بَعْدَهُمْ إِلا مَنِ اتَّبَعَ غَيْرَ سُنَّتِهِمْ، وَرَغِبَ بِنَفْسِهِ عَنْهُمْ، إِنَّهُمْ لَهُمُ السَّابِقُونَ، فَقَدْ تَكَلَّمُوا مِنْهُ بِمَا يَكْفِي، وَوَصَفُوا مِنْهُ مَا يَشْفِي، فَمَا دُونَهُمْ مِنْ مَقْصَرٍ، وَمَا فَوْقَهُمْ من مَحْسَرٍ، لَقَدْ قَصَّرَ قَوْمٌ دُوْنَهُمْ فَجَفَوْا، وَطَمَحَ عَنْهُمْ أَقْوَامٌ فَغَلَوْا، وَإِنَّهُمْ بَيْنَ ذَلِكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ.

Jika kalian (wahai para penggiat bid’ah) berkoar bahwa amalan bid’ah yang terjadi setelah masa Salaf (bukanlah kesesatan), maka camkanlah bahwa bid’ah tersebut tidak dibuat-buat kecuali oleh mereka yang mengikuti selain sunnahnya para Salaf, serta menganggap diri mereka lebih baik daripada Salaf.

Sungguh mereka (para Salaf) adalah pioner dan pendahulu (dalam al-haq). Mereka telah berbicara (menyangkut perkara agama ini) dengan penjelasan yang telah mencukupi (tidak lebih dan tidak kurang). Mereka telah menjelaskan apa-apa yang dibutuhkan terkait ajaran agama ini dengan penjelasan yang menyembuhkan (syubhat).

Tidak ada penjara yang lebih memenjarakan daripada penjara mereka, dan tidak ada penyingkapan yang melebihi penyingkapan mereka (maksudnya: generasi Salaf telah menahan diri mereka dari menyingkap perkara-perkara yang tidak dibutuhkan menyangkut agama, dengan penahanan diri yang maksimal, sampai-sampai tidak butuh lagi pada penahanan diri yang melebihi dari itu. Dan mereka telah menyingkap perkara-perkara yang dibutuhkan terkait agama, dengan penyingkapan yang sempurna, hingga tidak butuh pada penyingkapan yang melebihi dari itu).

Sungguh, orang-orang selain mereka (para Salaf) ada yang menyepelekan dan tidak peduli, hingga mereka melenceng ke kiri, meninggalkan banyak kewajiban yang telah ditetapkan agama. Dan sebagian yang lain, ada yang beramal kelewat batas, mereka pun melenceng tersesat ke kanan (dalam gelapnya kebid’ahan yang mereka sangka bagian dari ajaran agama).

Adapun mereka, as-Salaf ash-Shâlih, adalah kaum yang berjalan di antara dua jalan menyeleweng tersebut. Merekalah yang berjalan di atas jalan yang lurus[3].

Catatan:

Terjemahan dari naskah surat tersebut, disarikan dari ‘Aunul Ma’būd Syarh Sunan Abi Dâwūd (12/241, cet. Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah – Beirut, 1415-H) yang ditulis oleh Muhammad Asyraf Haidar (wafat: 1329-H).

Terakhir, ijinkan saya menghaturkan beribu maaf. Karena terjemahan syarah tersebut terpaksa saya suguhkan dengan “gaya bebas” (tidak terpaku pada struktur makna yang tertulis secara tekstual), semata-mata demi memudahkan pemahaman bagi para pembaca.

***

Lombok, 17 Syawwâl 1434-H / 24082013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

“semoga Allah menolongnya di atas Sunnah”


[2] Demikianlah sifat amalan-amalan bid’ah; memberatkan, melenceng dari konsep Islam yang datang membawa kemudahan bagi hamba-Nya. -pen

[3] Termaktub dalam Sunan Abi Dâwud: 4/202 no. 4612 (cet. Al-Maktabah al-‘Ashriyyah), al-Ibânah Ibn Bath-thah: 163, asy-Syarï’ah lil Aajury: 570, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullâh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: