2 Komentar

Paradoksi Syi’ah (1): “Di Balik Pernikahan ‘Umar dengan Putri Imam ‘Ali”

Syi’ah mengaqidahi sebuah keyakinan yang mereka patok dengan harga mati, bahwa ‘Ali bin Abi Thâlib radhiallâhu’anhu adalah Imam yang ma’shūm alias perfect nggak mungkin salah. Jika sepintas beliau dirasa salah, maka kesalahan itu adalah kebenaran (di mata Syi’ah)[1].

Namun anehnya, al-Kulaini[2] (Imam Bukhari versi Syi’ah) dalam kitabnya al-Kâfi (6/115) mengakui dan menetapkan fakta sejarah bahwa ‘Ali bin Abi Thâlib telah menikahkan putrinya, Ummu Kultsūm (saudari kandung al-Hasan dan al-Husein) dengan ‘Umar bin al-Khaththâb, seorang laki-laki kafir bin durjana di mata Syi’ah[3]. Realita tersebut, berujung pada dua kosekuensi tidak mengenakkan bagi Syi’ah. Yang paling manis dari keduanya, pun masih terasa pahit.

Pertama:

‘Ali bin Abi Thâlib sama sekali bukan figur yang ma’shūm. Sebab, mana mungkin Imam yang ma’shūm bisa kepleset dalam perkara yang sangat prinsipil ini. “Putri Imam Ke-2 Syi’ah Menikah dengan Orang Kafir..?!!”, sudah barang tentu ini seharusnya menjadi kemustahilan bagi seorang Imam yang ma’shūm.

Jika Syi’ah mengatakan; ‘Pernikahan itu adalah bentuk siasat Imam ‘Ali untuk menghindari kekejaman ‘Umar terhadap Ahlul Bait’, maka kami katakan: ‘Justru ucapan ini, adalah penghinaan terhadap kepribadian Imam ‘Ali yang ma’shūm—menurut klaim Syi’ah—. Jika Imam ‘Ali meyakini bahwa ‘Umar adalah kafir-munafik, mustahil bagi beliau untuk mengorbankan aqidah al-Barâ’ dan lebih memilih jalan pengecut dengan menyembunyikan kebenaran yang diyakininya. Sebegitu murahkah nilai al-haq di mata Imam ‘Ali..? Sehingga harus disembunyikan dengan hinanya bermuka dua di hadapan ‘Umar? Ini mustahil. ‘Ali bin Abi Thalib adalah sosok pemberani yang rela mengorbankan jiwa demi prinsip iman yang dipegangnya.

Kedua:

‘Umar radhiallâhu’anhu adalah sosok yang tidak diragukan lagi akan keislaman dan keimanannya. Karena Imam ‘Ali telah rela menikahkan putrinya dengan beliau. Sebuah kerelaan yang tidak mungkin beliau berikan kecuali pada seorang mukmin yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Konsekuensi ini pun, jika “terpaksa” harus diterima oleh Syi’ah, akan menelurkan konsekuensi yang lebih pahit lagi, bahwasanya aqidah mereka yang dibangun di atas doktrin kebencian terhadap Abu Bakar, ‘Umar, dan mayoritas Sahabat Nabi, harus terhapus tanpa ada yang tersisa. Dan bahwasanya, kitab-kitab induk yang selama ini menjadi referensi utama mereka perihal kekafiran para Sahabat setelah Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam wafat, adalah kebohongan yang teramat besar.

Waduh..! Sungguh, untuk menjadi seorang pengikut Syi’ah, mereka harus menelan kenyataan pahit ini dengan segenap indra dan akal, lantas dengan sadar mereka terpaksa harus membohongi diri dengan mengatakan bahwa kenyataan pahit tersebut sebenarnya terasa manis. Hal tersebut bisa dibenarkan dan diterima akal sehat, manakala mereka sudah berhasil mendefinisikan ulang “apa itu akal sehat”.

* (Bahan bacaan: As-ilah Qâdat Syabâb asy-Syï’ah ilal Haq (hal. 9), karya Sulaiman al-Khurasyi)

***

Selepas Ashar di Ma’had Abu Hurairah tercinta,

29 Syawwal 1434 – 05092013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

“semoga Allâh memaafkannya”


[1] Adapun kami Ahlussunnah, betapa sangat mencintai dan mengagungkan ‘Ali, namun di atas kecintaan dan pengagungan itu, memayung sebuah prinsip, bahwa yang ma’shūm hanyalah Nabi, dan ‘Ali radhiallâhu’anhu bukanlah seorang Nabi.

[2] Demikian juga ulama-ulama Syi’ah lainnya seperti ath-Thūsi dalam Tahdzïbul Ahkâm (8/148), al-Majlisi dalam Bihârul Anwâr (hal. 621), al-‘Amili dalam Masâlikul Afhâm (1/Kitab an-Nikâh), Ibnu Abil Hadïts dalam Syarh Nahjil Balâghah (3/124), dan banyak lagi ulama Syi’ah lainnya. Silahkan lihat As-ilah Qâdat Syabâb asy-Syï’ah ilal Haq (hal. 9), karya Sulaiman al-Khurasyi.

[3] Namun mulia dan dicinta di mata kami Ahlussunnah.

2 comments on “Paradoksi Syi’ah (1): “Di Balik Pernikahan ‘Umar dengan Putri Imam ‘Ali”

  1. ummu kultsum bin abu bakar… ulas sedikit deh sejarah..ALI hanya menjadi wali karena wafatnya Abubakar , dan Aisyah tidak dapat menjadi wali… cek dan telaah berapa anak Abu bakar dan umurnya…dan cek usia anak Ali pada saat itu

    • @adi: literatur Syi’ah menyatakan Ummu Kultsum (yg sedang dibahas di atas) adalah putri Imam ‘Ali radhiallahu’anhu.
      Kalaupun benar putri Abu Bakar, lantas kenapa Imam ‘Ali sudi menjadi wali bagi orang akan menikah dg laki laki kafir (menurut klaim Syi’ah)..?
      Semoga Allah menuntun kita semua ke jalan hidayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: