Tinggalkan komentar

Paradoksi Syi’ah (2): “Mengetahui yang Ghaib atau Bunuh Diri..??”

Nampaknya Syi’ah butuh penasehat dari pakar menajemen skandal kelas kakap dan berpengalaman demi menciptakan opini menyesatkan yang mampu tidak terendus. Pasalnya, kontradiksi dan paradoksi yang termaktub dalam kitab-kitab referensi Syi’ah, sudah bukan kepalang banyaknya. Tumpang tindih satu sama lain, dan tertolak oleh timbangan akal yang sehat. Yang satu bilang begini, yang satu blang begitu. Sangat kentara ketidakprofesionalan ulama-ulama Syi’ah dalam memenej kebohongan yang mujarab dan terbukti mampu menipu ahlussunnah (dari kalangan awam, terlebih lagi para cendikiawan dan alim-ulamanya).

Apa yang dituliskan oleh al-Kulaini dan al-Majlisi contohnya. Dua tokoh rujukan sentral agama Syi’ah ini memaparkan perkara-perkara yang kontradiktif satu sama lain dalam kitab mereka masing-masing. Al-Kulaini berkata dalam kitabnya Ushūl al-Kâfi (1/258)[1]:

أن الأئمة يعلمون متى يموتون وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم

“Imam-Imam (Syi’ah) mengetahui kapan ajal mereka tiba, dan mereka tidak mati kecuali atas kehendak atau pilihan dari mereka sendiri.”

Sekarang mari membandingkan statemen yang “aduhai lebaynya” tersebut dengan apa yang dituliskan oleh al-Majlisi dalam Bihârul Anwâr (43/364) berikut ini:

لم يكن إمام إلا مات مقتولا أو مسموما

“Tidak ada satu pun Imam (Syi’ah) yang wafat, melainkan karena terbunuh atau diracuni.”

Terus terang kedua alis mata ini seakan tidak mau lepas dari tautan keheranannya. Bagaimana mungkin seorang Imam yang mengetahui—menurut klaim al-Kulaini—bahwa pada makanan atau minumannya terdapat racun, lantas dia tidak menghindarinya? Bukankah ini termasuk bunuh diri yang terlarang berdasarkan nash dari kakek mereka yang mulia, Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa mereka yang mati bunuh diri akan berujung kesudahannya di neraka..??!!!

Syi’ah memang agama yang unik bin aneh. Saking anehnya, paradoksi pun masih dianggap agama. Ooh..God..!!

 

*(Bahan bacaan: As-ilah Qâdat Syabâb asy-Syï’ah ilal Haq (hal. 16-17), karya Sulaiman al-Khurasyi)

***

Selepas Shalat Fajar, di baiti-jannati

01 Dzulqi’dah 1434 – 07092013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

“semoga Allâh memaafkannya”


[1] Juga dalam al-Fushūl al-Muhimmah (hal. 100) oleh al-Hur al-‘Amili asy-Syï’i.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: