Tinggalkan komentar

Untukku & Untukmu yang Selalu Masbuq

Kejadian kala itu, terekam kuat oleh Abu Sa’id al-Khudri. Memori beliau menuturkan secuplik kisah; saat Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam melihat orang-orang yang mulai menampakkan rasa malas dalam mengijabahi penggilan shalat di masjid.

Tak pelak, lisan Nabi yang mulia menyabdakan kalimat teguran untuk mereka:

لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللهُ

“Terus menerus suatu kaum datang belakangan (menghadiri shalat), sampai Allâh mengakhirkan mereka (dalam meraih ilmu, meraih rahmat-Nya, fadhilah dari-Nya yang agung, kedudukan yang mulia)[1]. [Shahih Muslim no. 438][2]

Sangat dikuatirkan keadaan seorang insan, jika ia membiasakan dirinya selalu bangkit belakangan dan baru melangkah di penghujung waktu dalam hal ibadah, Allâh bakal menurunkan bala’ dengan mengakhirkannya di medan-medan kebajikan. Kira-kira demikian ungkapan indah Imam Ibnu al-‘Utsaimïn rahimahullâh dalam fatwanya (13/54) ketika memberikan catatan tambahan dalam memaknai hadits tersebut.

Di antara para ulama, ada yang menganggap hadits tersebut khusus ditujukan untuk orang-orang munafik[3]. Merekalah yang uring-uringan dan bermalas-malasan dalam menunaikan panggilan Rabbul ‘Alamïn. Namun yang benar, sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaukâni (wafat: 1250-H)[4] bahwa hadits tersebut berlaku umum, tidak hanya sebatas mereka para munafik. Itu berarti, ancaman hadits tersebut juga berlaku buat kita orang-orang mukmin.

Cukuplah menjadi cemeti bagi kita, orang-orang yang telah mengikrarkan janji setia keimanan, manakala kemunafikan di dalam al-Qur’an, adalah sifat yang digambarkan begitu melekat dengan mereka yang menunda-nunda langkah menuju masjid saat panggilan shalat dikumandangkan.

Wahai jiwa, merasa amankah engkau dari firman Allâh:

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

“Tidaklah mereka (orang-orang munafik) mendatangi shalat, melainkan dalam keadaan bermalas-malasan.” [QS. At-Taubah: 54]

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [QS. An-Nisâ: 142]

***

Lombok, Dzulhijjah 1434-H / 28092013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)


[1] Syarh Sunan Abi Dawud: 3/234, oleh al-‘Aini, lihat juga islamqa.info/ar fatwa no. 34852.

[2] Dalam riwayat yang dikisahkan oleh ‘Aisyah radhiallâhu’anha, Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُوْنَ عَنِ الصَّفِّ الْأَوَّلِ حَتَّى يُؤَخِّرُهُمُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّارِ

“Terus saja suatu kaum terlambat dari shaf shalat yang pertama, sampai nantinya Allâh bakal mengakhirkan mereka, jadilah mereka penghuni neraka.” [Abu Dawud: 679, Syarh Sunan Ibni Mâjah Abu ‘Abdillâh Ala-uddin: 1630 – asy-Syâmilah]

[3] Sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Mundziri:

قال المنذري: قال هذا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في المنافقين، ويحتمل أن يكون تأخرهم في العلم أو في السبق والمنزلة عنده صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Al-Mundziri mengatakan: “Rasūlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam mengeluarkan ucapan tersebut untuk orang-orang munafik. Boleh jadi maksudnya adalah telatnya mereka dalam hal ilmu (yang berakibat mereka tidak meraihnya sama sekali atau luput dari sebagian besarnya-pent), atau tertinggal dalam perlombaan meraih kebaikan, atau terbelakang dalam hal kedudukan di sisi Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. [Syarh Sunan Ibni Mâjah Abu ‘Abdillâh Ala-uddin: 1630 – asy-Syâmilah]

[4] Dalam Nailul Authar (3/226, Cet. Dârul Hadïts – Mesir, 1413-H) beliau mengatakan:

وَقِيلَ: إنَّ هَذَا فِي الْمُنَافِقِينَ، وَالظَّاهِر أَنَّهُ عَامّ لَهُمْ وَلِغَيْرِهِمْ

وَفِيهِ الْحَثّ عَلَى الْكَوْن فِي الصَّفّ الْأَوَّل وَالتَّنْفِير عَنْ التَّأَخُّر عَنْهُ

“Ada yang mengatakan bahwa hadits ini tertuju untuk orang-orang munafik. Namun pemahaman tertulis yang ada dalam hadits tersebut (menegaskan keumumannya), bahwa ia tertuju untuk orang-orang munafik dan juga selain mereka. Dalam hadits tersebut terdapat anjuran kuat untuk mendapatkan shaf pertama dalam shalat, dan menghindari keterlambatan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: