Tinggalkan komentar

Amalan-Amalan Dzulhijjah dan Fadhilahnya

Setelah dua musim kebajikan—Ramadhân dan Syawwâl—kita lalui, kini datang Dzulhijjah, satu bulan yang tidak kalah melimpah dalam hal keberkahan amal-amal shalih.

Begitu mulianya Dzulhijjah, sampai-sampai Allah bersumpah: “Dan (demi) malam yang sepuluh.” [QS. Al-Fajr: 2]. Di antara tafsiran “malam yang sepuluh” menurut Ibnu Abbâs adalah 10 awal Dzulhijjah. [Tafsir Ibn Katsïr: 4/535]

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada satu rangkaian hari pun di mana amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dikerjakan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Sahabat lantas bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah (mampu menyainginya), kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa raga dan hartanya, dan tidak ada yang kembali satupun.” [Bukhari: 969]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullâh (wafat: 852-H) menjelaskan hikmah di balik keistimewaan 10 hari pertama Dzulhijjah tersebut. Dalam Fathul Bâri (2/593) beliau mengatakan:

أَنَّ السَّبَبَ فِي امْتِيَازِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِمَكَانِ اجْتِمَاعِ أُمَّهَاتِ الْعِبَادَةِ فِيهِ وَهِيَ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْحَجُّ وَلَا يَتَأَتَّى ذَلِكَ فِي غَيْرِهِ

“(Keistimewaan itu) dikarenakan berkumpulnya induk-induk ibadah pada hari-hari tersebut, seperti; shalat, puasa, shadaqah, dan haji. Sementara kondisi yang demikian, tidak terdapat pada waktu yang lain.”

Dalam kitabnya, Lathâ-ifu Ma’ârif (hal. 261, Dâr Ibn Hazm – 1424) Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “(Hadits tersebut) menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama dari sisi fadhilah) jika dilakukan di waktu yang afdhal (utama) untuk beramal, maka itu bisa menyaingi amalan afdhal di waktu-waktu yang lain. Karena amalan yang dilakukan di waktu yang afdhal akan memiliki nilai yang lebih dengan pahala yang dilipatgandakan.”

Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah

Terkait amalan-amalan yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah, perlu dicatat bahwa keutamaan bulan ini mencakup semua jenis amal ibadah yang dicintai oleh Allâh seperti; puasa, dzikir, shalat, dan lain-lain, tidak terbatas pada amalan tertentu. Nah, di antara amalan yang bisa kita kerjakan di bulan yang mulia ini adalah:

Pertama: Berpuasa, khususnya hari Arafah (bagi yang tidak menunaikan ibadah Haji). Berdasarkan sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa-dosa (kecil) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Adapun puasa Asyûra (10 Muharram) akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) setahun yang lalu.” [Shahih Muslim: 1162]

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa, “Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa di Sembilan awal Dzulhijjah, hari tanggal 10 Muharram (‘Asyûra), dan 3 hari (tanggal 13, 14, 15 Qamariyah) pada setiap bulannya.” [Shahïh Sunan Abi Dawud: 2/462, al-Albâni]

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait makna “berpuasa pada Sembilan hari awal Dzulhijjah”. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah sebatas puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) saja. Karena ada riwayat dari ‘Aisyah bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi berpuasa di awal Dzulhijjah. Ini yang diungkapkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Shahïh Muslim (no. 1176). Ada yang menganggap puasa 9 hari penuh, berdasarkan riwayat dari Hafshah yang menyatakan bahwa Nabi tidak pernah meninggalkan puasa pada 9 hari awal Dzulhijjah. Dan di antara para Sahabat, Ibnu ‘Umar mempraktekkan berpuasa 9 hari penuh di awal Dzulhijjah.

Pendapat yang paling tepat dalam masalah ini adalah bolehnya puasa 9 hari penuh namun sebaiknya tidak dilakukan secara mentradisi terus menerus setiap tahun, dan sebaiknya diselingi dengan tidak berpuasa beberapa hari. Demikian kesimpulan dari para ulama yang mengumpulkan seluruh riwayat dalam masalah ini. [lih. Lathâ-iful M’ârif hal. 262]

Adapun 10 Dzulhijjah (hari Iedul Adha) dan hari Tasyrïq (11, 12, dan Dzulhijjah), maka tidak ada keraguan lagi tentang haramnya berpuasa pada hari-hari ini.

Kedua: Memperbanyak Tahlïl, Takbïr, dan Tahmïd.

Allah berfirman: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” [QS. Al-Hajj: 28]

Ibnu ‘Abbâs menafsirkan “hari yang telah ditentukan” dalam ayat tersebut adalah hari-hari yang sepuluh di awal Dzulhijjah.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبَّ إلَيْهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ

“Tidak ada satu rangkaian hari pun yang lebih agung di sisi Allâh dan lebih dicintai amal-amal shalihnya dibanding amalan-amalan di hari-hari ini (10 hari Dzulhijjah). Maka perbanyaklah Tahlïl (Lâ-ilâha illallâh), Takbïr (Allâhu-akbar), dan Tahmïd (Ahamdulillâh) pada hari-hari tersebut.” [Ahmad: 7/224, dishahihkan oleh Ahmad Syâkir]

Catatan: Pada momentum awal Dzulhijjah ini, sangat dianjurkan untuk bertahlil, bertakbir, dan bertahmid dengan suara yang jahr, dikeraskan hingga orang lain bisa mendengar dengan jelas. Bahkan diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar seraya bertakbir dengan suara jahr, sehingga orang-orang di jalan dan di pasar pun ikut bertakbir sendiri-sendiri (namun tanpa dikomandoi oleh siapapun). Sangat disayangkan, ini adalah sunnah mahjûrah (terlupakan dan terpinggirkan) bahkan oleh mereka yang mengaku mengikuti sunnah Nabi.

Di antara lafaz dzikir yang bisa dikumandangkan pada hari-hari tersebut adalah [islamqa.info/ar no. 49042]:

اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر لَا إلٓــهَ إلَّا الله، وَاللهُ أَكْبَر وَلـِلّٰهِ الْحَمْد

Ketiga: Memperbanyak Berdo’a di hari Arafah

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Sebaik-baik do’a adalah do’a yang dipanjatkan pada hari Arafah.” [Hadits Hasan, at-Tirmidzi: 3585]

Keempat: Haji dan ‘Umrah.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Umrah ke Umrah, bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya. Dan tidak ada balasan yang layak bagi Haji yang mabrûr selain surga.” [Bukhari: 1349]

Kelima: Berkurban.

Ibadah kurban adalah ibadah yang agung. Menggabungkan antara ibadah hamba kepada Rabb-nya yang bersifat vertical-transendental dengan ibadah hamba kepada Rabb-nya secara horizontal-sosial, dengan menumbuhkan rasa cinta dan kepeduliaan pada sesama mukmin, khususnya mereka yang fakir dan lemah. Sehingga tidak heran, Allâh mengukuhkan keagungan ibadah kurban ini dan menyandingkannya dengan perintah shalat dalam firman-Nya:

“Maka tegakkanlah shalat (untuk Rabbmu semata), dan berkurbanlah.” [QS. Al-Kautsar: 2]

Sumber bacaan:

Lathâ-iful Ma’ârif Ibn Rajab, Mauqi’ul Islâm Su-âl wal Jawâb (islamqa.info/ar), dll.

artikel: alhujjah.com

***

Lombok, 28 Dzulhijjah 1434 – 05102013

Jo Saputra Halim (Abi Ziyan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: