Tinggalkan komentar

Khutbah Jum’at: Di Balik Keagungan ‘Arafah

Khutbah Pertama

(Setelah Khutbatul Haajah)

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…. Melalui majelis Jum’at yang mulia ini, marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allâh tabâraka wa ta’âla. Keimanan yang tumbuh dari benih-benih amal shâlih, khususnya amal-amal shâlih di sepuluh hari pertama bulan ini, bulan Dzulhijjah yang mulia, menjelang hari ‘Arafah dan Iedul Adha yang Insya Allâh dalam beberapa hari akan datang menyapa kita.

Ma’âsyiral Muslimïn, Hari ‘Arafah yang kita rayakan setiap tahunnya pada tanggal 9 Dzulhijjah, adalah hari yang memiliki banyak keistimewaan dan kemuliaan di sisi Allâh. Sampai-sampai Allâh bersumpah dengan hari ‘Arafah. Hari ‘Arafah adalah hari agung yang dijuluki “al-Yaumul Masyhûd” dalam al-Qur’an, yaitu hari yang disaksikan. Demikianlah tafsiran Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam terhadap sumpah Allâh dalam Surat al-Burûj (ayat: 2-3):

وَالْيَوْمِ الْمَوْعُوْدِ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُوْدٍ

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“al-Yaumul Ma’ûd adalah hari yang dijanjikan yaitu hari kiamat, sementara al-Yaumul Masyhûd adalah Hari ‘Arafah, dan yang dimaksud asy-Syâhid dalam ayat ini adalah hari Jum’at.” Tafsiran Nabawi ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Imâm al-Albâni rahimahullâhu ta’âla.

Dalam Surat al-Fajr (ayat-3) Allâh juga bersumpah:

والشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

“asy-Syaf’u” berarti genap, Ibnu ‘Abbâs radhiallâhu’anhu menafsirkannya dengan “Yaumul Adh-ha” hari Idul Adha yang jatuh pada bilangan genap yaitu hari ke-10 Dzulhijjah. Sedangkan “al-Watr” berarti ganjil. Ibnu ‘Abbâs menafsirkannya sebagai hari yang ganjil yaitu hari ke-9 Dzulhijjah. Tafsiran yang sama, juga diungkapkan oleh ‘Ikrimah dan adh-Dhohâk.

Sumpah Allâh pada ayat di atas, adalah dalil yang nyata akan keagungan hari ‘Arafah. Karena Allâh yang Mahaagung, mustahil bersumpah kecuali dengan sesuatu yang juga bernilai agung di sisi-Nya.

Sumpah Allâh “Wasy Syaf’i wal Watr” pada ayat ke-3 Surat al-Fajr ini, adalah sumpah yang bersifat khusus, karena pada hakikatnya, hari ke-9 dan ke-10 Dzulhijjah sudah tercakup dalam sumpah Allâh pada dua ayat sebelumya, “Wal Fajri, Walayâlin ‘Asyr” yang memiliki tafsiran “Demi fajar Dzulhijjah, dan Demi 10 malam pertama Dzulhijjah.” Pengkhususan ini, sebagaimana diungkapkan oleh para ulama, menunjukkan bahwa Hari ‘Arafah memiliki keutamaan yang bersifat khusus di samping keutamaannya karena menjadi bagian dari hari yang sepuluh di awal Dzulhijjah. Maka kemuliaan dan keagungan ‘Arafah, adalah kemuliaan yang dilingkupi oleh kemuliaan, dan keagungan yang diselimuti oleh keagungan.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…. Di antara keistimewaan hari ‘Arafah adalah; pada hari tersebut, terdapat rukun terbesar ibadah haji, yaitu Wukuf di ‘Arafah.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

الحَجُّ عَرَفَةُ

“Inti ibadah haji adalah Wukuf di Arafah.” [HR. at-Tirmidzi: 889, dan dinyatakan shahih oleh al-Imam al-Albâni rahimahullâhu ta’âla]

Al-Imam at-Tirmidzi membawakan penjelasan para Imam seperti Sufyan ats-Tsauri, asy-Syâfi’i, Ahmad dan yang lainnya, bahwasanya barangsiapa melaksanakan haji namun tidak Wukuf di ‘Arafah maka hajinya terbilang tidak sah. Ini menunjukkan betapa mulianya hari ‘Arafah sebagai puncak dan rukun terbesar dari segenap rangkaian manasik haji bagi mereka para tamu Allâh.

Kemudian yang kedua; di antara yang menunjukkan keistimewaan Hari ‘Arafah adalah sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟

“Tidak ada satu hari pun, di mana para hamba dibebaskan dari neraka pada hari tersebut, yang melebihi banyaknya pembebasan di hari ini (yaitu hari ‘Arafah). Dengan rahmat-Nya, Allâh mendekat kepada orang-orang yang tengah Wukuf, lalu membangga-banggakan mereka di hadapan para Malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang diinginkan oleh hamba-hamba-Ku ini?”  [Muslim: 1348]

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…. Adapun yang ketiga; di antara keistimewaan hari ‘Arafah adalah; ampunan Allâh dan rahmat-Nya yang begitu luas bagi mereka yang berpuasa pada hari tersebut.

Suatu ketika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang fadhilah puasa di hari ‘Arafah bagi orang-orang yang tidak sedang menunaikan manasik haji, beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Puasa ‘Arafah menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” [Muslim: 1162]

Selanjutnya di antara keistimewaan hari ‘Arafah yang keempat adalah; do’a-do’a yang dipanjatkan pada hari tersebut, tergolong do’a yang terbaik. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْء قدير

“Sebaik-baik do’a adalah do’a di hari ‘Arafah. Dan sebaik-baik dzikir yang aku ucapkan dan diucapkan juga oleh Nabi-Nabi sebelumku adalah kalimat: lâ-ilâha illallâhu wahdahû lâ syarïkalah….[Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dinyatakan Hasan oleh al-Imâm al-Albâni rahimahullâh]

Untuk itu Ma’âsyiral Muslimïn… Marilah kita sambut hari ‘Arafah dengan semangat ibadah dan ketaatan. Mari merengkuh kemuliaan dan keberkahan ‘Arafah dengan amalan-amalan yang disunnahkan. Ikhlaskan maksud dan tujuan. Sucikan niat dari noda kesyirikan terhadap ar-Rahmân. Murnikan amalan dengan kesempurnaan mutâba’ah pada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Karena boleh jadi, amalan ‘Arafah tahun ini, menjadi sebab terbebasnya kita dari ‘adzab Allâh. Atau sebaliknya, momentum ‘Arafah yang terlewatkan percuma, dan kosong dari amalan-amalan sunnah tahun ini, menjadi sebesar-besar penyesalan kita di hari akhirat kelak.

Semoga Allâh melimpahkan kepada kita taufik dan hidayah-Nya, agar hati dan segenap anggota badan tergerak untuk beramal, dan agar amalan-amalan sunnah di bulan Dzulhijjah ini, bernilai tinggi di sisi-Nya subhânahu wa ta’âla.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله إمام المتقين وقدوة الخلق أجمعين صلوات الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا إلى يوم الدين

Ma’âsyiral Mukminïn a’azzaniyallâhu wa-iyyâkum jamï’an…. Pada kesempatan khutbah yang kedua ini, ijinkan khatib menyampaikan dua buah fakta yang senantiasa mengiringi peristiwa ‘Arafah sepanjang bergulirnya roda sejarah.

Pertama; Hari ‘Arafah ketika Hajjatul Wadâ’, tepatnya pada tanggal 09 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriah, adalah hari yang sangat bersejarah, di mana Allâh mengukuhkan kesempurnaan Islam, hari di mana Allâh menyempurnakan nikmat-Nya bagi ummat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, hari di mana Allâh meridhai Islam menjadi agama kita.

Al-Imâm al-Bukhâri dan al-Imâm Muslim meriwayatkan bahwa seorang Yahudi pernah menemui ‘Umar ibnul Khattab radhiallâhu’anhu, seraya berkata:

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ عِيدًا.

Wahai Amïrul Mukminïn, ada satu ayat dalam kitab suci yang kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kami kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai Hari Perayaan.

قَالَ: أَيُّ آيَةٍ؟ قَالَ: {اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا} [المائدة: 3]

Lantas ‘Umar balik bertanya: ‘ayat apakah itu?’. Laki-laki Yahudi tersebut menjawab: ‘Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku ridha Islam menjadi agama bagimu.” [QS. Al-Mâ-idah: 3]

قَالَ عُمَرُ: «قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ، وَالمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ»

‘Umar pun berkata: ‘Kami mengetahui dengan pasti hari dan tempat diturunkannya ayat tersebut kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, saat itu beliau tengah berdiri di padang ‘Arafah di hari Jum’at’.” [al-Bukhâri: 45, Muslim: 3017]

Ibnu ‘Abbas radhiallâhu’anhu berkata tentang ayat ini, sebagaimana dinukil oleh al-Hâfizh Ibnu Katsïr dalam tafsirnya:

أَكْمَلَ لَهُمُ الْإِيمَانَ (أي الإسلام)، فَلَا يَحْتَاجُونَ إِلَى زِيَادَةٍ أَبَدًا

“Allâh telah menyempurnakan syariat Islam bagi mereka orang-orang mukmin, sehingga mereka tidak butuh pada tambahan syariat selama-lamanya.” Maka barangsiapa menambah-nambah syari’at, atau mengada-adakan perkara baru berupa kebid’ahan dalam agama, sungguh—sadar ataupun tidak—dia telah mencoreng kemuliaan ayat ini, dengan menganggap syari’at Islam belumlah sempurna.

Dari fakta yang pertama ini, hendaknya momentum ‘Arafah senantiasa mengingatkan kita akan satu hal, bahwa kejayaan Islam, soliditas persatuan Islam, sebagaimana yang tercermin dari para Sahabat ketika mereka berkumpul di padang ‘Arafah, hanyalah bisa terwujud, manakala kita konsisten di atas kesempurnaan Islam, manakala amalan kita sesuai dengan sunnah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, tidak kurang dan tidak lebih, manakala kita jauh dari amalan-amalan bid’ah yang justru mencoreng indahnya kesempurnaan Islam tersebut.

Ma’âsyiral Muslimïn….Adapun fakta yang kedua; sejatinya adalah fakta tentang kebohongan kaum Syi’ah perihal hari ‘Arafah. Mereka beranggapan: “bahwa ayat alyauma akmaltu lakum… sebenarnya tidak turun di ‘Arafah, melainkan disebuah lembah bernama Ghadïr Khum. Di sinilah—menurut klaim dusta mereka—, Rasûlullâh mewasiatkan Keimaman untuk ‘Ali bin Abi Thâlib radhiallâhu’anhu.”

Hawa nafsu kaum Syi’ah telah melahirkan tafsiran menyesatkan terhadap ayat ini, mereka beranggapan: “Ayat alyauma akmaltu lakum ini, turun setelah ‘Ali dikukuhkan oleh Nabi sebagai Imâm. Sehingga yang dimaksud dengan kesempurnaan agama dalam ayat ini adalah sempurnanya risalah Nabi dengan resminya ‘Ali menjadi Imâm.” [2] Subhaanaka haadza buhtaanun ‘azhiim….Mahasuci Allâh dari kedustaan besar yang mereka ada-adakan.

Para ulama menjelaskan, inilah titik awal kesesatan Syi’ah, yang kemudian hari beranak pinak menjadi 1001 kedustaan dan kesesatan. Maka momentum ‘Arafah, wahai saudara-saudaraku kaum mukminin…, selayaknya mengingatkan kita akan bahaya laten Syi’ah, yang tidak hanya menggerayangi aqidah ummat dari dalam, tapi juga menumpahkan darah kaum muslimin dengan tirani kezaliman, seperti yang hari ini kita saksikan sendiri di Suriah—semoga Allâh membersihkan bumi Suriah dari tangan-tangan kotor penguasa Syi’ah—.

Yaa Ahlassunnah…. Ingatlah….Kaum Syi’ah, merekalah para pencetus syirik terbesar dalam sejarah kesyirikan, merekalah para perintis bid’ah terbesar dalam sejarah kebid’ahan, merekalah para pengacau di barisan kaum muslimin, merekalah yang menikam dari dalam, menggunting dalam lipatan. Merekalah kemunafikan sejati.

Demi Allâh, tidaklah mereka berkuasa di suatu negeri ahlussunnah, melainkan iman dan aqidah penduduknya akan hancur, jika tidak, jasad-jasad mereka akan dihancurkan secara zalim. Demi Allâh, Inilah fakta sejarah yang kini terulang kembali. Fa’tabiruu yaa ulil Abshaar…

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أماتنا الله وإياكم على السنة والجماعة ، ورزقنا الله وإياكم اتباع العلم ، ووفقنا الله وإياكم لما يحبه ويرضاه. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ سَوَاءَ السَّبِيْلِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. عباد الله….اذكروا الله يذكركم ، واشكروه على نعمه يزدكم، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


[1] Khutbah Jum’at oleh Abu Ziyan Halim (abiziyan.ponpesabuhurairah.com), disampaikan di Masjid ‘Aisyah Lawata Mataram – NTB, 06 Dzulhijjah 1434.

[2] http://www.al-kawthar.com/husainia/naeem.htm, demikianlah kedustaan tokoh Syi’ah, Ibrâhïm al-Anshâri al-Bahrâni dalam link tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: