Tinggalkan komentar

9 Renungan Sepulang Haji

Dalam sebuah hadits yang shahih, diriwayatkan bahwa Baginda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

الحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلَّا الْجَنَّة

“Tidak ada ganjaran yang setimpal bagi haji yang mabrur melainkan surga.” [Bukhari-Muslim]

Sepulang dari perjalanan suci menunaikan manasik haji, dan bersua kembali dengan keluarga serta kerabat tercinta di tanah air, sebuah pertanyaan teramat urgen sudah selayaknya kita layangkan; “apa sebenarnya hakikat haji yang mabrur…? Apakah kita sudah benar-benar meraihnya..?” Para peziarah Baitullâh tercinta yang kini telah kembali ke tanah air…!! Sembilan poin renungan berikut ini, semoga bisa membantu kita dalam menyimpulkan jawaban dari pertanyaan tersebut:

Renungan-01

Perjalanan manasik haji mengingatkan kita pada perjalanan menuju akhirat. Betapa beratnya perjalanan tersebut. Benar-benar menguras tenaga dan biaya, tidak hanya materi, tapi juga jiwa dan psikis calon haji. Namun hendaknya kita mengingat bahwa perjalanan menuju akhirat sungguh jauh lebih berat. Sebagaimana safar di dunia adalah bagian dari serpihan-serpihan adzab, maka ketahuilah bahwa safar menuju akhirat lebih dahsyat lagi tekanan dan adzabnya.

Di hadapan kita ada sakratul maut, ada pertanyaan malaikat, ada adzab kubur yang—na’ûdzubillâh—mungkin saja akan menimpa kita. Selanjutnya akan ada hari kebangkitan, kita dikumpulkan di padang mahsyar yang tidak memiliki naungan kecuali naungan Allâh semata. Berikutnya aka nada hisab, titian ash-shirâth yang membentang di atas buncahan api jahannam. Barulah surga atau neraka. Nas-alullâha al-‘âfiyah.

Sebagaimana safar menuju haji membutuhkan bekal, maka safar menuju akhirat lebih-lebih lagi membutuhkan bekal berupa ketakwaan. Tentunya ada hikmah yang agung ketika Allâh menjelaskan ketentuan manasik haji dalam Surat al-Baqarah ayat ke-197, lantas Allâh menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:

“Dan berbekallah kalian, sungguh bekal yang terbaik (dalam menyongsong akhirat) adalah takwa. Maka bertakwalah kalian kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”

Renungan-02

Kain ihram yang putih, mengingatkan kita pada kain kafan dan kematian yang melekat di baliknya.

Sebagaimana kita melepaskan segenap pakaian kemegahan kita yang beranekaragam warna dan jenisnya, demikian pula kita seharusnya melepaskan pakaian dosa yang selama ini menyelimuti kita dengan nodanya yang beragam.

Sebagaimana putih dan sucinya dua pakaian ihram yang kita kenakan, maka demikian pula seharusnya tubuh dan hati kita, suci dan putih dari hitamnya noda dosa dan maksiat.

Renungan-03

Ucapan talbiyah “labbaikallaahumma labbaik…dst” yang berarti:

“Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allâh, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sungguh, segenap pujian, nikmat, dan kerajaan, adalah milik-Mu semata. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Untaian lafaz penghambaan yang agung ini seharusnya berimbas pada tekad kita untuk hijrah dari jalan-jalan syaithan yang banyak dan berliku, menuju jalan Allâh yang tunggal nan lurus. Lafaz talbiyah tersebut, juga mengandung konsekuensi-konsekuensi tauhid, agar tidak ada Dzat yang kita ibadahi dengan benar kecuali hanya Allâh semata, tidak ada Dzat yang kita jadikan sandaran bagi segenap hajat dan kebutuhan kita, kecuali hanya pada Allâh semata. Tidak ada Dzat yang kita harap rahmat-Nya sekaligus kita takuti adzab-Nya kecuali hanya Allâh saja. h

 

 

 

 

Renungan-04

Saat memasuki Baitullâh al-Haram, yang Allâh jadikan aman bagi para peziarahnya, mengingatkan kita akan rasa aman kelak di hari kiamat. Hari di mana manusia berada dalam ketakutan dan kengerian. Dan keamanan di akhirat itu, tidak mungkin bisa kita raih kecuali dengan mewujudkan pilar-pilar tauhid dalam kehidupan kita. Allâh berfirman

الَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبسُوْا إيْمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

“Dan orang-orang yang beriman, dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapat keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-An’âm: 81]

Renungan-05

Mencium Hajar Aswad, mendidik para peziarah untuk mengagungkan sunnah. Karena ciuman tersebut, bukanlah pengagungan terhadap batu yang tidak mampu mendatangkan kemaslahatan ataupun kemudaratan, akan tetapi hal itu semata-mata karena ittibâ’ (mengikuti) contoh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sunnah manasiknya.

‘Umar bin al-Khaththab radhiallâhu’anhu berkata:

إنّـِي أَعْلَمُ أَنَّكِ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ ، وَلَوْلَا أَنِّـي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عليه وسَلَّم يُقَبِّلُكِ مَا قَبَّلْتُكِ

“Sungguh aku tahu (wahai Hajar Aswad), engkau adalah batu biasa yang tidak mampu mendatangkan mudarat dan manfaat, kalau bukan karena aku pernah melihat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah menciummu, sungguh aku tidak sudi menciummu.” [al-Bukhâri: 1520, Muslim: 1720]

Demikian pula ketika kita melempar jamrah. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam telah menetapkan bahwa batu yang digunakan melempar, hanyalah sebesar batu kerikil kecil yang disebut hashol hadzf. Adapun batu yang besar, maka ini menyalahi sunnah, sekalipun nalar dan perasaan kita menganggapnya baik dan afdol. Padahal tidak demikian adanya. Yang baik dan afdol di mata Allâh, adalah yang sesuai dengan sunnah. Melempar jamrah dengan batu-batu kecil sebagaimana tuntunan Nabi, benar-benar menguji kesetiaan kita pada kesederhanaan dalam melaksanakan sunnah, pas sesuai tuntunan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, tanpa dilebih-lebihkan. Inilah esensi yang hendak diungkapkan oleh Nabi dalam sabdanya tentang batu yang digunakan dalam melempar jamroh:

بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ فَارْمُوْا …، وَإيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ

“Dengan kerikil-kerikil sebesar inilah hendaknya kalian melempar jamroh. Jangan sekali-kali kalian bersikap melampaui batas (ghuluw). Karena sikap ghuluw dalam agama telah membinasakan ummat sebelum kalian.” [Shahïh Ibn Mâjah no. 2455]

Inilah yang senantiasa harus ditanamkan sepulang haji. Istiqomah di atas sunnah, sederhana dalam menjalankannya, tidak menambah-nambah ajaran agama sehingga kita jatuh ke dalam bid’ah, tidak juga menyepelekannya sehingga kita jatuh dalam keteledoran yang berujung pada kedurhakaan terhadap syariat.

Renungan-06

Minum dari air Zam-Zam, mengingatkan kita pada nikmat Allâh yang begitu luas dan agung. Sejak berabad-abad lamanya, manusia minum dari sumur Zam-Zam, namun sumur tersebut sedetik pun tidak pernah kering dan tandus. Ini adalah bukti kebesaran nikmat Allâh yang seharusnya menyadarkan para peziarah Baitullâh untuk senantiasa berterimakasih dan bersyukur pada-Nya, dan jangan sekali-kali mendustakan nikmat-Nya. Bukankah Allâh mengulang-ulang firman-Nya dalam 31 ayat Surat ar-Rahman:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kalian yang manakah (wahai jin dan manusia), yang kalian dustakan?”

Renungan-07

Sa’i dari bukit Shafa ke Marwah, mengandung pelajaran yang amat berharga. Sejatinya ia adalah napak tilas perjuangan Siti Hajar demi anaknya. Kisah agung di balik syari’at sa’i ini, selayaknya mengingatkan kita akan jasa tak terbalas dari seorang Ibu. Dan agar bakti pada Ibu yang dilakukan karena Allâh, benar-benar menjadi jembatan menuju keridhaan-Nya tabâraka wa ta’âla.

Renungan-08

Penyembelihan al-Hadyu (qurban yang ditujukan di al-Haram), mengajarkan kita akan hakikat kesabaran dan ketaatan mutlak sepenuh jiwa pada perintah Allâh. Inilah pelajaran agung dari kisah penyembelihan Ismâ’ïl, putra tercinta yang lama dinanti kehadirannya. Baik Sang Ayah, Ibrahïm, dan Sang Putra, Ismâ’ïl ‘alaihimussalâm, keduanya menunjukkan totalitas kesabaran dan ketaatan yang mutlak terhadap perintah Allâh. Ketaatan yang tidak terpengaruh oleh godaan perasaan, analogi akal yang membutakan dan bisikan hawa yang membangkang. Demikianlah seharusnya sikap para peziarah Baitullâh sepulang mereka dari manasik haji.

Renungan-09

Saat pulang dari manasik haji, kembali ke kampung halaman, bertemu dengan keluarga dan handai tolan tercinta, kebahagiaan pun menyeruak di dada, benar-benar kebahagiaan yang memuncak. Kebahagiaan ini sepatutnya mengingatkan kita pada kebahagiaan di surga kelak, saat orang-orang beriman akan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka sesama mukmin ketika di dunia. Allâh berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Adapun orang-orang yang beriman, maka Kami akan pertemukan mereka dengan keturunan mereka yang beriman kelak di surga (sekalipun amalan-amalan mereka tidak mampu menyamai amalan bapak-bapak mereka)…” [QS. Ath-Thûr: 21, at-Tafsïr al-Muyassar hal. 524]

Perasaan semacam ini, diharapkan mampu membakar semangat kita dalam berlomba-lomba mengumpulkan pundi-pundi amal demi kebahagiaan di akhirat kelak.

***

Lombok, 18 Dzulhijjah 1434 / 23102013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

Bahan bacaan:

“Atsarul Hajj ‘alâ Nafsil Muslim wa Hayâtihi”, artikel www.islamqa.info/ar/2807, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: