2 Komentar

4 Kunci Pengganti Kesedihan Menjadi Kebahagiaan

Khutbah Pertama[1]

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين وسلم تسليماً كثيرا.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…. Melalui majelis Jum’at yang mulia ini, saya mewasiatkan kepada diri saya dan kepada seluruh hadirin sidang  jum’at yang mulia ini untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allâh tabâraka wa ta’âla. Karena takwa adalah, modal pokok seorang mukmin demi menyongsong kehidupan akhirat kelak. Karena takwa adalah penyelamat kita dari kesedihan dan kesusahan di dunia maupun di akhirat.

Ma’âsyiral muslimïn, rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an…. Perasaan sedih, hati yang pilu dan sakit, jiwa yang terasa gundah, dan dada yang terasa sempit, senantiasa dibayangi oleh ketakutan masa depan, ini semua adalah musibah yang tidak bisa tidak, pasti kita semua pernah merasakannya dan akan kembali menemuinya. Ini adalah ketetapan Allah bagi hamba-hamba-Nya, agar terbedakan dengan jelas, siapa saja yang kembali kepada Allah, untuk bersandar kepada-Nya, di kala musibah dan problema menimpa, dan agar jelas siapa saja di antara mereka, yang justru lari dari Allah, menuju hal-hal yang diharamkan oleh Allah, berupa penghilang-penghilang stress yang sifatnya sementara, serta membahayakan jiwa dan raga.

Ibâdallâh… Para ulama telah mengklasifikasikan beragam sakit dan pilunya hati yang dirasakan oleh manusia, ke dalam 3 kategori besar:

Yang pertama; adalah apa yang disebut dengan al-Huzn, yaitu kesedihan yang menggerogoti hati dikarenakan memori masa lalu yang menghantui dan selalu mendatangkan penyesalan yang dalam. Adapun yang kedua; disebut al-Hamm, yaitu kesedihan dan sakitnya hati dikarenakan rasa takut akan suramnya masa depan. Sedangkan yang ketiga; adalah al-Ghamm, yaitu sakit dan gundahnya hati dikarenakan musibah atau masalah yang menimpa saat ini.

Ketiga hal tersebut, ma’âsyirol muslimïn… adalah tabir hitam yang menghalangi manusia dari kebahagian dan kedamaian hakiki yang bisa dirasakan oleh hati mereka. Hanya saja Allâh, dengan sifat Rahman-Nya, melalui lisan Rasul-Nya, telah mengajarkan terapi do’a yang agung, agar seorang hamba bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian di dalam hatinya, agar segenap rasa sakit dan kesedihan, lenyap sirna dari hatinya.

Diriwayatkan dalam hadits yang shahih, dari sahabat Abdullâh bin Mas’ûd radhiallâhu’anhu, bahwasanya Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

مَا أَصَابَ أَحَدًا قَطُّ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ:

“Tidaklah seseorang ditimpa oleh sesuatu pun berupa kesedihan dan kegundahan, lantas dia mengucapkan do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ؛ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا.

“Ya Allâh, sesunggunya aku adalah hamba-Mu, anak dari seorang hamba-Mu dan makhluk-Mu yang hina. Ubun-ubunku berada dalam genggaman tangan-Mu (Engkau menguasai dan memiliki aku dengan kekuasaan dan kepemilikan yang sempurna). Keputusan hukum-Mu Ya Allâh terhadapku, adalah sesuatu yang telah tetap dan pasti. Takdir dan ketetapan-Mu terhadapku Ya Allâh, adalah sesuatu yang adil. Maka aku memohon kepada-Mu, dengan segenap nama-nama agung nan indah yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau dengan nama yang Engaku turunkan dalam kitab-Mu, atau dengan nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau dengan nama yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar kiranya Engkau Ya Allâh, sudi menjadikan al-Qur’ân sebagai hujan musim semi yang mengguyur di hatiku, sebagai cahaya petunjuk di dadaku, sebagai penghilang kesedihanku, serta pemusnah keresahan dan ketakutanku.’ (Tidaklah seorang hamba membaca do’a ini), melainkan pasti Allâh akan menghilangkan kesedihan dan kegundahan dari dalam hatinya, lalu menggantinya dengan kebahagiaan dan kedamaian.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya, dan Ibnu Hibbân dalam shahihnya.

Ma’âsyirol muslimïn rahimanillâhu wa-iyyâkum jamï’an…. Do’a tersebut, adalah untaian kalimat-kalimat yang agung, warisan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam yang tak terhingga nilainya. Sudah seharusnya bagi kita untuk menghafalkannya, mempelajari maknanya, merenungi tujuannya, serta mengamalkannya. Sebagaimana ucapan para Sahabat kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam ketika mereka mendengar beliau mengucapkan do’a tersebut:

يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ

“Sudah seharusnya kami mempelajari kalimat-kalimat do’a yang mulia ini.”

Maka Rasul pun menjawab:

أَجَلْ يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

“Bernar, benar sekali, sudah seharusnya bagi yang mendengar do’a ini, untuk mempelajarinya.”

Ma’âsyirol muslimïn, jika kita renungi secara mendalam esensi makna dari do’a yang agung di atas, maka kita bisa merumuskan beberapa landasan pokok yang menjadi kunci utama pembuka pintu kebahagiaan sekaligus penghilang kesedihan dari hati manusia:

Yang pertama: adalah dengan mewujudkan penghambaan mutlak hanya kepada Allâh semata, sekali lagi, hanya kepada Allâh semata, bukan kepada selain Allâh. Yaitu dengan bersimpuh hina di hadapan Allâh, memelas belas kasih-Nya, merengek-rengek dalam meminta dan berharap kepada-Nya, bersandar dan menggantungkan diri hanya kepada-Nya. Mengakui dan menyerah diri, bahwa kita adalah hamba sekaligus milik Allâh, bapak-bapak kita, yang menjadi sebab keberadaan kita di muka bumi ini, juga sama dengan kita, mereka adalah hamba dan milik Allâh. Allâhu Akbar, Mahabesar Allâh dan betapa kerdilnya kita, seorang hamba, sekaligus anak dari seorang hamba sahaya. Ma’asyirol muslimïn, makna ini semua, adalah yang tercermin dari lafaz (اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ).

Kemudian yang kedua; di antara pelajaran inti dari lafaz do’a yang agung di atas, yang bisa mendatangkan kebahagian dan mengusir kesedihan di hati adalah apa yang bisa dipetik dari lafaz (نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ) “Ubun-ubunku berada dalam genggaman tangan-Mu (Engkau menguasai dan memiliki aku dengan kekuasaan dan kepemilikan yang sempurna). Keputusan hukum-Mu Ya Allâh terhadapku, adalah sesuatu yang telah tetap dan pasti. Takdir dan ketetapan-Mu terhadapku Ya Allâh, adalah sesuatu yang adil’. Lafaz ini mengadung esensi iman terhadap qadho dan qodar, yaitu keyakinan akan takdir Allâh terhadap hamba-Nya. Kita wajib mengimani bahwa apa saja yang dikehendaki Allâh terhadap hamba-Nya, pasti akan terjadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya untuk terjadi, mustahil akan terjadi. Seorang hamba juga harus mengimani bahwa, tidak ada yang mampu menolak takdir tersebut, baik rahmat maupun hukuman-Nya kepada seorang hamba. Karena Allâh berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Apa saja yang Allâh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allâh, maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [QS. Fâthir: 2]

Kepemilikan Allâh terhadap jiwa dan raga kita, bersifat mutlak dan sempurna. Allâh berhak berbuat apa saja terhadap jiwa dan raga kita, takdir-Nya bersifat absolut dan pasti. Kendati demikian, Allâh senantiasa berbuat adil pada hamba-hamba-Nya. Karena kezaliman adalah sifat yang haram bagi Allâh. Maka tidak jalan bagi kita untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat serta hilangnya kesedihan di hati, kecuali dengan menyandarkan harapan dan tawakkal kita hanya kepada Allâh.

Ma’asyirol muslimïn, inilah esensi tauhid, inilah inti dari ajaran tauhid, yang diperjuangkan oleh seluruh Nabi dan Rasul.

Adapun yang ketiga; adalah perlajaran yang dipetik dari lafaz (أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ), “Ya Allâh aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang Indah lagi Sempurna….dst”. Di sini terkandung rahasia do’a yang mustajab, do’a yang mampu dengan seketika menghilangkan kesedihan di hati kita, berganti dengan kebahagiaan dan kelapangan dada, yaitu do’a yang dihiasi dengan nama-nama Allâh yang mulia. Namun rahasia tersebut tidak hanya terletak pada lafaz yang diucapkan oleh lisan kita, tapi kita juga dituntut untuk mengenal Allâh melalui nama-nama-Nya, mengenal keindahan sifat-sifat-Nya melalui pemahaman terhadap asma-ul husna yang lurus dan benar. Inilah yang bisa mendatangkan rahmat Allâh dan kerberkahan-Nya kepada orang-orang yang memanjatkan do’a menggunakan asma-ul husna. Allâh berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Allâh memiliki asma-ul husna, nama-nama yang indah dan agung, maka berdo’alah kalian kepada-Nya menggunakan nama-nama tersebut, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam asma-ul husna tersebut, kelak mereka akan dibalas atas apa-apa yang mereka telah perbuat.” [QS. Al-A’râf: 180]

Ma’âsyirol muslimïn, dahulu, seorang ulama salaf mengatakan:

من كان بالله أعرف كان منه أخوف

“Semakin dalam pengenalan seorang hamba kepada Allâh, maka semakin dalam pula penghambaan dan rasa takut pada-Nya subhânahu wa ta’âla”. Jika perasaan ini tumbuh dan bersemi di hati kita, maka tidak ada satu pun yang akan kita takuti di muka bumi, tidak ada masalah yang bakal menyempitkan dada, tidak ada problem yang bisa menghilangkan kebahagiaan di hati kita, karena yang kita takuti hanya Allâh semata.

Ma’âsyirol muslimïn rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an, adapun pelajaran yang keempat dari do’a di atas, dipetik dari lafaz (أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي), “Agar Engkau Yâ Allâh, sudi menjadikan al-Qur’ân sebagai hujan musim semi yang mengguyur dan menyejukkan hatiku, menghilangkan kesedihan dan kegundahanku.” Di sini, terdapat isyarat yang lembut bahwa al-Qur’an adalah obat sekaligus solusi bagi segenap musibah dan permasalahan yang menghantui hati kita.  Al-Qur’ân adalah petunjuk hidup yang lurus, penerang dalam kegelapan, pembuka pintu rahmat, penawar hati yang terluka, membacanya adalah kemuliaan, memahaminya adalah kejayaan, mengamalkannya dalah kemuliaan di atas kemuliaan, kejayaan di atas kejayaan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57]

Ma’âsyirol muslimïn, demikianlah 4 pelajaran berharga yang bisa kita petik dari do’a yang mulia di atas. Malelui majlis jum’at yang mulia ini, kita panjatkan permohonan kepada Allâh, dengan nama-nama-Nya yang husna, dan sifat-sifat-Nya yang agung lagi mulia, agar Dia memberikan kita taufik untuk menghafal, mempelajari, memahami, dan mengamalkan do’a yang agung ini, do’a yang diwasiatkan oleh Nabi untuk dipelajari ini. Semoga Allâh menyembuhkan segenap rasa sakit dan kesedihan yang dialami oleh kaum muslimin pada hari ini, semoga Allâh mengguyur kita dengan rahmat-Nya, menyelimuti kita dengan kasih sayang-Nya, karena Dialah satu-satunya Ilâh yang memiliki nama ar-Rahmânur Rahïm.

أقول ما تسمعون وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله عظيم الإحسان ، واسع الجود والفضل والامتنان ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين.

Ammâ ba’du…Ma’âsyirol muslimïn rahimanillâhu wa iyyâkum jamï’an, Tauhid, sebagaimana dijelaskan pada khutbah yang pertama, adalah kunci utama pembuka gerbang kebahagiaan hakiki, sekaligus kunci yang menutup rapat pintu kesedihan dan kesusahan. Tauhid yang dimaksud adalah, menjadikan Allâh sebagai satu-satunya tujuan penghambaan dan peribadatan yang benar, berbuat ikhlas karena-Nya, beramal tulus demi meraih ridho-Nya subhânahu wata’âla, menjauhi syirik, meninggalkan pengagungan dan pengkultusan yang dilandasi rasa cinta, pengagungan, dan rasa takut kepada selain Allâh. Kita hanya berharap kepada Allâh, bersandar kepada-Nya, cinta kepada-Nya, sekaligus takut hanya kepada-Nya. Inilah inti ajaran tauhid yang diusung oleh segenap Nabi dan Rasul sholawâtullâhi ‘alaihim ajma’ïn. Inilah hakikat makna Lâ-ilâha illallâh yang senantiasa kita ikrarkan, “Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar, kecuali hanya Allâh semata”.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan beberapa kalimat kepada Asmâ’ binti ‘Umais radhiallâhu’anha, kalimat agung yang bisa diucapkan oleh seorang muslim ketika menghadapi kesedihan dan kesusahan. Kalimat tersebut adalah:

اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Allâh adalah Rabb-ku, aku tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun juga.”

Kalimat ini, adalah ikrar dan janji setia kita sebagai makhluk dan hamba Allâh, untuk tidak menduakan Allâh dalam peribadatan, untuk tidak menduakan-Nya dalam maksud dan tujuan. Inilah hakikat tauhid, dan esensi dari makna Lâ-ilâha illallâh.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. اللهم إنا ظلمنا أنفسنا ظلماً كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لنا مغفرةً من عندك إنك أنت الغفور الرحيم. اللهم اغفر لنا ما قدّمنا وما أخّرنا وما أسررنا وما أعلنا وما أسرفنا وما أنت أعلم به منا أنت المقدِّم وأنت المؤخِّر لا إله إلا أنت، اللهم ألِّف بين قلوبنا وأصلح ذاتَ بيننا واهدنا سبل السلام وأخرجنا من الظلمات إلى النور، وبارك لنا في أسماعنا وأبصارنا وقُوَّاتنا أبداً ما أحْيَيْتَنا. اللهم إنا نعوذ بك من فُجَاءَةِ نقمتك ومن زوال نعمتك وتَحَوُّلِ عافيتك ومن جميع سخطك، ربنا إنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله : اذكروا الله يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ


[1] Khutbah Jum’at disampaikan oleh Abu Ziyan Halim (semoga Allâh mengampuninya) di Masjid al-Ikhlas – Kesehatan Mataram, 25-Okt-2013. Khutbah ini, mengambil faidah dari Khutbah Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq al-Badr yang berjudul “Dawâ-ul Hammi wal Ghammi wal Huzni” (al-badr.net).

2 comments on “4 Kunci Pengganti Kesedihan Menjadi Kebahagiaan

  1. masya Allah, khutbah yg bagus dan bermanfaat insya Allah. izin copy akhi untuk ana pakai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: