Tinggalkan komentar

Musibah; di Antara 2 Pilihan (Sabar ataukah Do’a..??)

Manakah yang lebih afdol tatkala musibah melanda, berdo’a agar musibah tersebut beranjak pergi ataukah bersabar dalam ketabahan dan rasa sakit menahannya, berharap ganjaran kesabaran yang besar?

Pertanyaan tersebut sepintas lalu seolah membenturkan antara dua ibadah yang dicintai Allah; do’a dan sabar. Maka sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut sangatlah sederhana, terangkum indah dalam sebuat kalimat prinsip beragama yang dirumuskan oleh para ulama kita:

الجمع بين خيرين، خير ما أمكن

“Menggabungkan antara dua buah kebaikan, senantiasa merupakan pilihan yang terbaik selama itu memungkinkan”

Antara do’a mengharap hilangnya musibah dengan sabar dalam menghadapi musibah tersebut, bukanlah dua arus yang harus dihentikan salah satunya agar arus yang lain bisa mengalir lancar. Keduanya bisa bersinergi menjadi dua kekuatan ibadah yang bernilai agung di sisi Allah.

Bukankah Nabi kita yang mulia–semoga solawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk beliau–pernah bersabda:

لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ.

“Jangan pernah kalian berharap bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan pada Allah.” (al-Bukhari: 7237, Muslim: 1742)

Hadits tersebut seolah mengisyaratkan bahwa mengharap datangnya musibah dan cobaan dengan tujuan mendulang pahala dari kesabaran, bukanlah termasuk kebajikan.

Muhammad ‘alaihissholaatu was salaam, Sang Nabi yang namanya selalu bersanding dengan nama Allah, adalah panutan sabar bagi para penghulu kesabaran. Dia bersabar atas musibah yang menimpanya, tapi juga berdo’a agar musibah tersebut terangkat dengan izin-Nya. Dia mengajarkan ummatnya untuk bersabar atas sakit yang menimpa, namun dia pula yang telah mengajarkan kita do’a yang agung ini:

اللَّهُمَّ أَذْهِبْ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ ، وَاشْفِ ، فَأَنْتَ الشَّافِي ، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.

“Ya Allah, hilangkanlah sakit, wahai Rabb sekalian manusia, berikanlah kesembuhan, Engkaulah Yang Mahapenyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu, kesembuhan sempurna yang tidak meninggalkan rasa sakit.” [at-Tirmidzi: 3565, dishahihkan al-Albani]

Pun, tali Nubuwwah yang mengikat para Anbiya dari masa ke masa dalam satu simpul risalah ketauhidan, seakan telah menggoreskan ketetapan, bahwa do’a yang dipanjatkan dalam rangka mengangkat musibah yang menimpa, bukanlah gambaran akan keluh kesah seorang hamba yang jauh dari sabar. Tidak.., tidak sama sekali.

Lihatlah bagaimana Ayyub ‘alaihissalaam, Sang Nabi yang penyabar itu, memelas-melas pada Rabbnya untuk mengangkat penyakit yang menimpanya:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِي الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ.

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu…”. [QS. Al Anbiya: 83-84]

Demikian halnya dengan Zakaria ‘alaihissalam saat bayangan kesendirian di hari tua menjadi musibah baginya, dia pun bermunajat pada Rabbnya:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. [QS. Al Anbiya: 89]

Baik do’a maupun sabar, keduanya adalah inti dari makna penghambaan sejati. Do’a adalah bukti kefakiran dan kebutuhan seorang hamba pada Rabbnya. Sebagaimana sabar adalah belenggu jiwa yang mengekangnya dari amarah dan penolakan akan ketentuan dan ketetapan Rabb. Demikianlah, sehingga sabar menjadi simbol terbesar akan ketundukan, kepasrahan, dan ketidakberdayaan seorang hamba di hadapan Rabbnya. Di sinilah tempat bertemunya do’a dan sabar dalam satu muara ubudiyyah.

Maka yang paling afdol, tentu saja sabar yang diiringi oleh do’a dan harapan.

***

Menjelang Zuhur di Ma’had tercinta,
1 Muharram 1435 / 05112013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: