Tinggalkan komentar

Antara Niyâhah dan Tragedi Karbala

Tepatnya tanggal 10 Muharram, pada setiap pergantian tahun Hijriah, kaum Syi’ah merayakan satu ritual aneh yang mereka sebut sebagai “Peringatan Tragedi Karbala”. Di situ mereka meluapkan kesedihan dan belasungkawa dengan memukul-mukul dada, meratapi pilunya kisah kematian yang menimpa al-Husein radhiallâhu’anhu, cucu Nabi tercinta, pemimpin bagi para pemuda di surga kelak.

Memang benar, pada hari tersebut di tahun 61-H, sebuah tempat di Iraq yang bernama Karbala, telah menjadi saksi kebiadaban Ubaidullâh bi Ziyâd dan bala tentaranya yang membantai cucu Nabi tercinta, al-Husein radhiallâhu’anhu, berserta sanak familinya.

Tentu saja seorang mukmin sejati di atas manhaj ahlussunnah, adalah orang yang paling bersedih dengan tragedi tersebut. Karena di antara aqidah yang harus dipegang teguh oleh seorang hamba Allah yang mengaku ahlussunnah adalah wajibnya mencintai dan memuliakan Ahul Bait Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam. Namun seorang ahlussunnah, hanya menyalurkan kesedihannya dan ungkapan bela sungkawanya pada perkara yang diridhai oleh Allâh dan Rasul-Nya, bukan dengan Niyâhah sebagaimana yang telah mentradisi di kalangan Syi’ah. Lantas, apa itu Niyâhah? dan apa hukumnya..??

Niyâhah dan Hukumnya

Dari segi bahasa, “an-Niyâhah” berasal dari kata “Nâha-Yanûhu, an-Nauh” yang berarti tangisan dengan suara keras. Dahulu di era jahiliyah, para wanita berkumpul di rumah mayit, dengan saling berhadap-hadapan, mereka lantas menangis keras demi meratapi kepergian si mayit. [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah: 42/49, lihat juga Fiqhus Sunnah: 1/506, Sayyid Sabiq]

Tindakan-tindakan semisal berteriak histeris, merobek-robek baju, mengucapkan kalimat-kalimat penolakan akan takdir Allah atas wafatnya seseorang yang dicintai, digolongkan oleh para ulama sebagai dosa besar. Ini semua termasuk Niyâhah yang terlarang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda (artinya):

“Ada 4 sifat di tengah umatku yang tergolong perkara jahiliyyah, dan mereka belum menanggalkannya secara total; (pertama) membangga-banggakan nenek moyang, (kedua) menasabkan seseorang pada selain bapaknya, (ketiga) meminta hujan melalui bintang-bintang, dan (keempat) an-Niyaahah.” Beliau juga bersabda: “wanita yang melakukan Niyâhah, jika tidak sempat bertaubat sebelum meninggal, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan berpakaian ter (yang menjadikan api neraka menyala semakin dahsyat), dan tubuhnya dipenuhi oleh borok.” [Shahih Muslim no. 934]

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Dalam hadits yang lain berliau juga bersabda: “Tidak termasuk golongan kami, orang yang (meratapi mayit dengan) menampar-nampar pipi, merobek-robek kantong pakaian, dan berkata-kata (dalam ratapannya tersebut) dengan perkataan jahiliyyah (yang menggambarkan penolakan terhadap takdir Allah atas kematian si mayit-pent).” [Shahih Bukhari no. 1294]

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ وَالحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ»

(Abu Musa radhiallaahu’anhu mengatakan) Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari wanita yang menangis histeris, menggunting rambut, dan mencabik-cabik pakaian (saat musibah menimpa-pent)” [Shahih Bukhari no. 1296, Shahih Muslim no. 104]

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: «أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الْبَيْعَةِ، أَلَّا نَنُوحَ»

Dari Ummu ‘Athiyyah dia berkata: “Rasûlullâh shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengambil sumpah setia dari kami (bai’at), agar kami (berjanji) tidak melakukan Niyâhah.” [Shahih Muslim no. 936]

Imam Syafi’i rahimahullâh mengatakan: “Aku tidak menyukai niyâhah (meratap) pada mayit setelah kematiannya, aku pun tidak suka jika niyâhah tersebut dilakukan seorang diri sekalipun. Yang seharusnya dilakukan adalah menjalankan apa yang Allâh perintahkan berupa sabar dan istirjâ’ (ucapan innâlillâhi wa-innâ ilahi râji’ûn, bukan justru larut dalam kesedihan dengan ratapan seolah-olah tidak rela dengan takdir Allah atas si mayit-red). Aku juga tidak suka dengan acara ma’tam, yaitu acara kumpul-kumpul di rumah mayit sekalipun di sana tidak ada tangisan. Karena hal tersebut bisa mengungkit lagi kesedihan yang menima keluarga mayit.” [al-Umm: 1/318]

Demikianlah dalil-dalil otentik yang tidak terbantahkan dari sisi manapun juga, tentang keharaman Niyâhah, suatu amalan yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Namun anehnya, kaum Syi’ah justru menjadikan Nihâyah ini sebagai tradisi tahunan yang bernilai ibadah. Lihatlah apa yang mereka lakukan di Padang Karbala, mereka melantunkan syair-syair kesedihan, mendengarkan kisah syahidnya al-Husein radhiallâhu’anhu yang memilukan, seraya memukul-mukul dada, kepala, dan anggota badan sebagai simbol kesedihan yang mendalam. Bahkan ada di antara mereka yang menyiksa diri dengan benda-benda tajam, seolah ingin merekonstruksi tragedi berdarah yang menimpa al-Husein radhiallâhu’anhu. Tindakan semacam ini, terlebih lagi jika dilakukan serempak bersama ribuan orang, tentu saja akan membangkitkan emosi sekaligus menderaikan air mata. Tidak hanya itu, kebencian beranak dendam pun menggeliat karenanya. Sumpah serapah, dan laknat pun keluar dari mulut-mulut mereka terhadap Sahabat-Sahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam yang mereka tuduh membenci Ahlul Bait. Hal ini sudah barangtentu menjadikan Syi’ah semakin jauh dari Islam dan ahlussunnah yang sangat memuliakan para Sahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Imam Syi’ah Mengharamkan Niyâhah

Tradisi haram Niyâhah, di mata Syi’ah telah dianggap sebagai “manifestasi rasa cinta kepada al-Husein dan Ahlul Bait”. Ini tentu saja klaim dusta mereka. Betapa tidak, pada beberapa riwayat Imam Syi’ah sendiri, justru terdapat penegasan akan haramnya Niyâhah. Mari kita simak beberapa hadits versi Syi’ah berikut ini:

Dari Muhammad bin Ali bin Husein, dengan sanadnya dari Shafwan bin Yahya dan Muhammad bin Abi Umair, dari Musa bin Bakr, dari Zurarah, dari Ja’far As Shadiq dia berkata: Siapa yang memukulkan tangannya ke paha ketika ditimpa musibah, maka pahalanya akan gugur.

Dari Muhammad bin Ya’qub, dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, dari An Naufali, dari As Sukuni, dari Abu Abdillah berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: orang muslim yang memukulkan tangannya ke paha saat musibah, maka itu menggugurkan pahalanya. [Wasâ’il Syiah jilid 3 hal 270, Bab 81, hakekat.com]

Nah, bertolak dari riwayat Imam Syi’ah tersebut, jika Syi’ah benar-benar mencintai al-Husein dan Ahlul Bait radhiallâhu’anhum, maka sudah seharusnya mereka mencampakkan dan meninggalkan perayaan Karbala yang sarat akan Niyâhah dari A sampai Z itu. Karena inilah pesan Ja’far as Shadiq, Imam mereka. Kendati kita tidak menutup mata, bahwa di sana ada banyak sekali riwayat Syi’ah yang justru menganjurkan Niyâhah khususnya dalam memperingati kematian al-Husein radhiallâhu’anhu (sebagaimana yang ditegaskan oleh salah seorang ulama Syi’ah dalam situsnya qadatana.org). Kalaupun mereka tetap bersikukuh membenarkan amalan Niyâhah atas dasar riwayat-riwayat Syi’ah yang menganjurkan Niyâhah, toh para penganut Syi’ah terpaksa harus menelan pil pahit dengan mengakui sebuah kenyataan tentang betapa kontradiktifnya ajaran agama mereka.

Kemudian tanpa mengurangi rasa cinta dan pengagungan kita terhadap al-Husein radhiallâhu’anhu, dengan penuh keyakinan kita katakan; bahwa wafatnya Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah musibah paling dahsyat yang pernah dialami oleh umat manusia, jauh lebih dahsyat daripada wafatnya al-Husein di Karbala. Nah, jika memang Niyâhah adalah ibadah sebagaimana dakwaan mereka, dan jika memang benar Syi’ah cinta pada Ahlul Bait, lantas kenapa mereka tidak memperingati hari wafatnya Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan Niyâhah sebagaimana yang mereka lakukan terhadap hari wafatnya al-Husein..?? Bukankah Rasûlullâh adalah penghulu Ahlul Bait..?? Atau mungkin al-Husein lebih mulia daripada Rasûlullâh di mata Syi’ah. Ini semakin membuktikan bahwa dakwaan cinta mereka pada Ahlul Bait, hanyalah “tong kosong nyaring bunyinya, jauh panggang dari api”.

Nasehat Ulama Ahlul Bait Kepada Syi’ah

Dalam bukunya Mausû’atul Hasan wal Husein (edisi terjemahan: Hasan & Husein, The Untold Stories), Syaikh Hasan al-Huseini hafizhahullâ ta’âla, seorang ulama Ahlul Bait keturunan al-Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallâhu’anhu, telah menuliskan untaian indah kalimat-kalimat nasehat berikut ini (hal. 507-508):

“Ya Allah, seperti apa gerangan kondisi para syuhada? Mari simak firman-Nya berikut ini (yang artinya): ‘Mereka (orang-orang yang mati syahid) bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya….” [QS. Ali Imran: 170].

Benar, mereka (para Syuhada, termasuk al-Husein-red) sedang bergembira karena mendapat karunia Allâh. Jika demikian, bukankah pantas bagi kita untuk ikut berbahagia atas kegembiraan al-Husein di (surga) sana? Lantas, mengapa ada segolongan orang yang menampar-nampar pipi dan wajah mereka sendiri, sambil meratapi kematian al-Husein?”

Lebih lanjut beliau mengatakan: “Meskipun begitu agung dan tinggi, matahari dan bulan tetap mengalami gerhana. Oleh karena itu, siapa pun yang mencintai al-Husein bin Ali hendaklah tetap taat kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, karena itulah yang disebut cinta sejati. Contohlah perbuatan al-Husein dalam menjaga agama, dalam berpegang kepada bimbingan al-Qur’an dan petunjuk Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, dalam membenci orang-orang zalim, dan dalam mencintai orang-orang miskin. Ahlul Bait adalah pemimpin kita, Di antara mereka ada yang dibunuh, dipenjara, dilukai, dan diracun hingga meninggal dunia. Walaupun demikian, al-Husein tidak boleh dikultuskan dengan cara dibangun kuburannya atau disanjung-sanjung secara berlebihan.”

***

Baiti jannati, 09 Muharram 1435 – 13112013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: