Tinggalkan komentar

Kisah Seorang Pemuda dan Sebuah Apel

Alkisah, pada kurun pertama Hijriyyah, hiduplah seorang pemuda bertakwa yang dihimpit oleh kemiskinan dan kefaqiran. Suatu hari pemuda ini keluar gubuk demi mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya dari rasa lapar. Namun tak ada yang bisa ia peroleh. Sampai sebuah kebun yang menggoda selera, menghentikan langkahnya. Sebuh kebun yang lebat dengan pepohonan apel dengan ranting-ranting buahnya yang menjuntai di balik tembok.

Terbetik bisikan dari sudut hatinya yang mendorong dan merayu untuk memetik satu apel saja. “Tidak ada yang melihat, juga tidak akan ada yang menyadari bahwa kebun apel yang lebat tersebut telah kehilangan satu dari sekian banyak buahnya”, demikian bisikan itu menggodanya. Pemuda itu pun menunaikan bisikan tersebut. Satu buah apel dipetiknya, seraya duduk, ia melahap apel tersebut demi menghilangkan rasa lapar yang seakan mengoyak-ngoyak perutnya.

Manakala ia telah kembali ke gubuknya yang sederhana, sekonyong-konyong rasa sesal menjejali dadanya. Teringatlah ia bahwa mulutnya telah menelan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Demikianlah selayaknya keadaan hati seorang pemuda yang beriman, senantiasa memonitor dan mengintrospeksi diri. “Bagaimana engkau tega memakan apel ini, sementara ia adalah milik seseorang yang belum mengijinkanmu untuk memakannya?”

Pada keesokan harinya, pemuda ini mencari si pemilik kebun sampai ia bertemu dengannya. Ia berkata kepada pemilik kebun: “Wahai paman, kemarin, aku ditimpa oleh rasa lapar yang sangat menyakitkan. Akhirnya aku memakan sebiji apel dari kebunmu tanpa sepengetahuanmu, dan sekarang aku memohon kerelaanmu atasnya.” Si pemilik kebun pun menjawab: “Demi Allâh, aku tidak rela. Bahkan aku akan menuntutmu kelak di hari kiamat di hadapan Allâh.”

Pemuda tersebut lantas menangis terisak-isak. Terus menerus ia meminta kerelaan si pemilik kebun, namun terus menerus pula si pemilik kebun enggan merelakannya. Kembali ia berkata: “Wahai paman, aku siap untuk melakukan apa saja, asalkan engkau mau merelakan dan menghalalkan sebiji apel tersebut untukku.” Berulang kali pemuda ini mengutarakan harapan dan keinginannya, hanya saja si pemilik kebun selalu menolak dan menjauh. Tinggallah pemuda tersebut di rumahnya dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam, dihantui oleh rasa takut hari pengadilan di hadapan Allâh.

Suatu hari di masjid, setelah shalat berjama’ah, pemuda tersebut seperti biasa kembali menunggu si pemilik kebun. Kebetulan mereka berdua selalu shalat di masjid yang sama. Namun kali ini, selepas shalat Ashar, si pemilik kebun yang lebih dulu melihat pemuda itu duduk termenung bersama air mata yang terus-menerus mengalir di wajahnya. Tampak wajah itu semakin bercahaya di samping cahaya ketakwaan dan ilmu yang sebelumnya memang sudah tampak dari pemuda tersebut.

Kembali pemuda ini mencoba berbicara kepada si pemilik kebun: “Wahai paman, saya rela untuk bekerja di kebun ini tanpa upah seumur hidupku, atau aku siap melakukan urusan apa saja yang engkau inginkan, asalkan engkau menghalalkan sebiji apel yang aku makan”. Si pemilik kebun terdiam, tampak ia tengah berpikir, ia pun berkata: “Wahai nak, sekarang aku siap untuk merelakan buah itu untukmu, namun dengan satu syarat”. Sang pemuda tampak gembira sekali, wajahnya seketika berbinar-binar. Dengan penuh kebahagiaan ia berucap: “sebutkan apa saja syarat yang engkau inginkan wahai paman…!!” Si pemilik kebun berkata: “persyaratanku adalah, engkau menikah dengan putriku.”

Seketika pemuda itu kaget dan terhenyak mendengar jawaban si pemilik kebun. Belum pula rasa kaget itu hilang, si pemilik kebun melanjutkan ucapannya: “akan tetapi, nak.., putriku adalah wanita yang buta, tuli, bisu, ditambah lagi dia tidak bisa melangkah. Sejak dulu aku berusaha mencarikannya seorang suami yang sanggup menjaga dan menerimanya dengan segenap sifat yang aku sebutkan tadi. Jika engkau setuju, maka aku akan merelakan buah apel itu untukmu.”

Si pemuda kembali terhenyak untuk kedua kalinya, namun kali bukan kabar gembira bagi kebanyakan orang, ini adalah musibah kedua. Ia pun mulai berpikir bagaimana ia bisa hidup dengan seorang wanita cacat sementara ia sendiri adalah seorang pemuda yang masih belia dalam usia. Bagaimana mungkin wanita cacat lengkap seperti ini bisa mengurus dirinya dan mengurus rumah?

Pemuda ini berbisik dalam hatinya: “aku akan bersabar bersamanya di dunia, yang penting aku bisa selamat di akhirat.” Lantas ia menemui si pemilik kebun: “wahai paman, aku menerima putrimu, aku memohon pada Allâh agar sudi memberiku ganjaran atas niatku, dan menggantikan apa yang menimpaku ini dengan yang lebih baik.” Si pemilik kebun berkata: “bagus… kalau begitu nak…, walimahnya pada hari Kamis pekan depan, di rumahku, dan aku sendiri yang akan menanggung biaya maharnya.”

Saat tiba hari Kamis, hari yang dijanjikan, datanglah pemuda ini dengan langkah yang berat…., membawa hati yang sarat akan kesedihan…, pikiran yang kacau…, tidak seperti umumnya pengantin yang melangkah di hari pernikahannya. Saat acara pernikahan selesai, si pemilik kebun yang baru saja menjadi Ayah mertuanya ini berkata: “Wahai nak…, silahkan masuk ke rumah untuk menemui istrimu. Semoga Allâh memberkahi kalian berdua, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Sang Ayah mengambil tangan menantu, dan mengantarkannya ke kamar pengantin, di mana putrinya telah menunggu.

Manakala pemuda ini membuka pintu, ternyata dia mendapati seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita itu berjalan mendekatinya seraya mengucap salam, “Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wahai suamiku..” Sekali lagi pemuda ini terkejut, seakan-akan ia melihat bidadari yang diturunkan dari surga. Ia masih terheran, karena putri si pemilik kebun yang ternyata sekarang telah menjadi istrinya ini, jauh berbeda dengan apa yang disifatkan oleh Ayahnya. Hal tersebut ia tanyakan pada istrinya. “Mengapa Ayahmu menyebutmu wanita yang buta, tuli, bisu, dan tidak bisa berjalan…?”

Sang istri menjawab: “yang dimaksudkan Ayahku adalah; aku buta dari yang haram, aku tidak pernah melihat apa-apa yang dibenci Allâh. Aku tuli dari yang haram, tidak pernah mendengarkan hal-hal yang dilarang. Aku ini bisu, tidak pernah berbicara yang diharamkan. Dan kakiku tidak pernah melangkah menuju tempat-tempat yang diharamkan.”

Sang istri lanjut bertutur: “aku ini sendiri, tidak memiliki saudara. Sudah bertahun-tahun lamanya Ayahku mencarikan aku seorang suami yang shalih. Manakala dia bertemu denganmu, saat engkau menangis memohon kerelaan dari sebuah apel, Ayahku berkata:

أَنَّ مَنْ يـَخَافَ مِنْ أَكْلِ تُفَّاحَةٍ لَاتَحِلُّ لَهُ؛ حَرِيٌّ بِهِ أَنْ يَـخَافَ اللهَ فِـي ابْنَتِي

“Seorang (pemuda) yang takut karena (tidak menjaga diri dari memakan) sebuah apel yang tidak halal baginya, tentu akan lebih takut kepada Allâh dalam menjaga putriku.”

Sang istri kembali berkata:

فَهَنِيئاً لِي بِكَ زَوْجاً وَهَنِيئاً لِأبِي بِنَسَبِكَ

“Selamat..! Atas diriku yang telah mendapatkan suami (berupa seorang pemuda bertakwa) sepertimu, selamat juga untuk Ayahku yang (Insya Allâh) akan mendapatkan keturunan dari—pemuda shalih seperti—mu.”

***

Demikianlah kisah yang indah ini berakhir, menyisakan untuk para pemuda banyak pelajaran yang berharga, di antaranya:

  • Pemuda yang tumbuh di atas ketaatan pada Allâh, maka Allâh akan senantiasa bersamanya, menolong dan memperbaiki keadaannya di dunia, dan kelak dia akan dinaungi oleh Allâh, di hari yang kosong dari naungan, kecuali naungan Allâh semata.
  • Allâh akan memberikan kebahagiaan yang berlipat ganda, kepada pemuda yang bersabar. Dari kisah ini, seorang santri di pondok bisa mengambil ibrah bahwa kesabaran dalam kesempitan dan ketidaknyamanan tinggal di Pondok, kelak akan dibalas oleh Allâh dengan anugerah di dunia, belum lagi balasan di akhirat kelak.
  • Seorang ulama besar yang terkenal di seluruh dunia, biasanya lahir dari keturunan pemuda-pemuda yang bertakwa. Karena dikisahkan bahwa pasangan suami-istri dalam kisah di atas, melahirkan Imam Abu Hanifah ke dunia, Imam madzhab yang tersohor akan keilmuan dan kecerdasannya.

Faidah fiqh:

Sebagian fuqaha seperti Imam Ahmad, Ibnu Qudamah dan yang lainnya memboleh memakan buah yang menjuntai di dalam tembok pemilik, dengan beberapa persyaratan, seperti; berusaha meminta ijin terlebih dahulu, musafir, dalam keadaan lapar yang sangat, dan tidak dibawa pulang (dimakan di tempatnya secukupnya sesuai kebutuhan).

***

Kisah di atas, diterjemahkan secara bebas oleh:

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

Dari: fatwa.islamweb.net (no. 136749)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: