Tinggalkan komentar

Kaidah Pembungkam Syubhat Takfiri

Para simpatisan takfiri, akhir-akhir ini menggeliat sejadi-jadinya di dunia maya. Berbagai macam syubhat, kerancuan ideologi dan pemikiran, begitu gencarnya mereka lancarkan melalui berbagai media sosial. Perdebatan pun tak terelakkan. Namun satu hal yang sangat kita sayangkan, para simpatisan paham takfiri seakan-akan menutup rapat pintu dialog ilmiah dengan senjata pamungkas mereka, apalagi kalau bukan stempel “kafir”, …”ulama penguasa”, ….”ulama buncit”, dan beragam istilah rendahan lainnya yang mereka sematkan, demi menjauhkan para simpatisan mereka di kalangan akar rumput agar tidak mendengarkan nasehat dan hujjah-hujjah kokoh yang dipaparkan oleh para ulama.

Di antara bukti kekeliruan paham takfiri adalah kebingungan mereka dalam menetapkan prinsip pengkafiran. Sikap mereka tidak jelas, setengah-setengah, “mau-tapi-malu”. Antara harus mengkafirkan setiap pelanggar hukum Allah (karena konsekuensi prinsip mereka yang bathil), namun malu dicap sebagai Khawarij, atau menanggalkan secara total prinsip takfiri yang selama ini mereka puja-puja. Akhirnya mereka mengambil jalan tengah yang aneh.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah jawaban indah atas sebuah pertanyaan yang diajukan kepada asy-Syaikh Kholid bin Abdurrahman al-Mishri yang dengan gamblangnya menyingkap kerancuan berpikir kaum takfiri.

سئل الشيخ خالد عبد الرحمن المصري حفظه الله :السائل :هل كل من حَكَمَ أوتحاكم إلى غير ما أنزل الله كافرٌ خارجٌ من الملّة ؟ وهل هناك فرقٌ بين الحكم والتشريع؟وهل هناك فرقٌ بين الحكم في مسألة واحدة، وبين الحكم في مسائل عِدّةٍ، وبين الحكم على الدوام بغير شرع الله؟.

Penanya (berkata):

Apakah setiap orang yang menetapkan hukum atau berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allâh, lantas menjadi kafir keluar dari agama? Lalu adakah perbedaan antara hukum dan pensyari’atan? Juga, adakah perbedaan antara hukum pada satu kasus dengan hukum pada beberapa kasus? Dan (perbedaannya) dengan hukum non-syar’i yang dipraktekkan secara terus menerus?

الجواب:هذا الموضوع طويل، أنا أعطيك كلمة مختصرة إن فهمتها سينفعك الله بها، وأقسم بالله العظيم إني من عشرين سنة بستعمل هذه القاعدة مع الإخوان المسلمين ومع التكفير والهجرة ومع الجماعة الإسلامية، أقسم بالله ما أحد في يوم إستطاع أن يخرج من هذه القاعدة في المناقشةالعلمية إلى يومك،

Jawaban Syaikh

Pembahasan masalah ini sangatlah panjang. Namun saya akan memberikan engkau kalimat ringkas (semacam kaidah atau prinsip-pent), jika engkau memahaminya, Allâh akan memberikan manfaat bagimu dengannya. Dan aku bersumpah pada Allâh yang Maha Agung, bahwasanya semenjak 20 tahun yang lalu, aku menerapkan kaidah ini pada jama’ah al-Ikhwânul Muslimin, Jama’ah Takfir wal Hijrah, dan Jama’ah Islamiyyah.  Aku bersumpah pada Allâh, tidak seorang pun dari mereka mampu lepas dari kaidah ini dalam perdebatan ilmiah, sejak dulu sampai hari ini.

 علماء السلف الصالح وعلى رأسهم عبدالله إبن عباس فسّر هذه الآية:( ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون) فسّر ذلك إبن عباس قال:( كفرٌ دون كفر) أي أن الحكم بغير ما أنزل الله تارةً يكون كفراً أكبر وتارةً يكون كفراً أصغر, ولمّا سئل الإمام أحمد إبن حنبل عن هذه الآية قال:( هي كما قال إبن عباس كفرٌ دون كفر)،

Para ulama Salafush Shâlih, dan yang terkemuka (dalam masalah ini) adalah ‘Abdullâh bin ‘Abbâs radhiallâhu’anhu, mereka telah menafsirkan firman Allâh (yang artinya):

‘Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allâh, maka merekalah orang-orang yang kafir.’

Mereka menafsirkannya dengan ungkapan “kufrun dûna kufrin” (jenis kekufuran yang derajatnya di bawah kufur akbar—pent), tafsiran ini mengandung pengertian bahwa berhukum dengan selain hukum Allâh (atau yang sekarang diistilahkan dengan “Hukum Positif”, atau “Hukum Buatan”-pent), ada yang:

  • kufur akbar (mengeluarkan dari Islam-pent) dan ada yang
  • kufur ashgar (tidak mengeluarkan dari Islam-pent)

Tatkala Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullâh ditanya tentang (tafsiran) ayat tersebut, beliau berkata: ‘tafsirannya persis seperti apa yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbâs radhiallâhu’anhu’, kufrun dûna kufrin.’

 الحاكم إذا حكم بغير الشريعة منكراً للشريعة أو زاعماً أنها لا تصلح أو زاعماً أنه لا يلزمه أن يطبّق شرع الله أو رأى أن الشرع لا ينفع أو أن القانون أصلح، إذا ما أقترن شئٌ من هذا مع كونه حكم بغير ما أنزل الله فلا شك ولا ريب أنه يكون كافراً , وأما إذا كان حكم بغير ما أنزل الله كما قال إبن عباس :(كفرٌ دون كفر) ولم ينكر شرع الله؛ ولم يوجد شئٌ من هذه القرائن التي ذكرتها فعندئذٍ يكون عاصياً فاسقاً ظالماً لكن لا يكفر, الآن ما هي القاعدة التي (كلمة غير مفهومة وأظنها تزن) هؤلاء المكفرين؟

Seorang hakim yang tidak memutuskan hukum dengan hukum syari’at karena:

  • mengingkari hukum syari’at,
  • atau menganggap hukum syari’at tidak cocok untuk diterapkan,
  • atau menganggap syari’at Allâh tidak wajib untuk dijalankan,
  • atau menganggapnya tidak bermanfaat
  • atau menganggap undang-undang buatan (hukum positif) lebih cocok untuk dijalankan,

maka tidak diragukan lagi bahwa dia telah kafir (keluar dari Islam-pent), jika penetapan hukum tersebut disertai oleh salah satu di antara sebab-sebab di atas.

Namun jika dia memutuskan hukum dengan hukum selain hukum Allâh, sebagaimana ungkapan Ibnu ‘Abbâs “kufrun dûna kufrin”, dan dia tidak mengingkari syari’at Allâh, atau dia tidak melakukan sebab-sebab di atas, yang telah aku sebutkan, maka pada saat itu dia adalah orang yang bermaksiat, fasiq, dan zalim, namun dia tidak kafir.

Nah, sekarang apa kaidah yang bisa (suara rekaman tidak jelas, mungkin beliau mengatakan “menimbang”-red) sikap orang-orang yang (gampang-pent) mengakfirkan ini?

هؤلاء يفرّقون تفريقاً عجيباً يقولون: نحن لا ننكر كلام إبن عباس ولا ننكر كلام الإمام أحمد لكننانقول (هم يقولون) أن الحاكم لا يكفر إذا عطّل حكم الله في جزئية أو جزئيات ولكن الأصل عنده الشريعة كما كان يحصل في زمن بني أمية فعندئذٍ نقول ( هم يعني) أنه كفرٌ دون كفر, قال وأما أن يعطّل الشريعة وأن يضع قانوناً وضعياً يحمل الناس عليه فهذالا يندرج في كلام السلف كفرٌ دون كفر.

Mereka ini punya prinsip pengklasifikasian (masalah takfir-pent) yang aneh. Mereka mengatakan: “Kami tidak mengingkari tafsiran Ibnu ‘Abbâs, kami juga tidak mengingkari ucapan Imam Ahmad. Hanya saja kami (mereka para takfiri-pent) mengatakan:

“Seorang hakim tidak dikafirkan jika menolak hukum Allâh pada satu atau beberapa perkara parsial (satu atau dua kasus tertentu-pent), dengan syarat pondasi hukum yang ada pada hakim tersebut secara umum adalah syari’at. Sebagaimana yang pernah terjadi di era kekhalifahan Bani Umayyah (yang mana undang-undang dasar pemerintahan Bani Umayyah adalah syari’at, namun terjadi beberapa penyelewengan pada penerapannya—pent). Maka pada kondisi seperti itulah kami menganggapnya sebagai kufrun dûna kufrin. Adapun jika hakim tersebut menolak atau meniadakan syari’at dan menggantinya dengan undang-undang buatan, dan menjadikan manusia berjalan di atasnya, maka ini sama sekali tidak termasuk dalam kategori ucapan salaf tentang kufrun dûna kufrin.” (Peringatan…!!: inilah inti syubhat yang bercokol di kepala mereka—pent)

إذاً بإختصارٍ شديد: هم ماذا يقولون, يفرّقون بين الحاكم إذا عطّل الشريعة كلها وبين الحاكم إذا طبّق شرع الله ثم جاء في جزئية وعطّل؛ مثاله: رجلٌ يحكم بالشريعة فجاء لإبن أخيه أو لقريبٍ له وحكم لقرابته , هذا حكم بغير ما أنزل الله يقولون عندئذٍ يقال أنه عاصي لأنه ترك حكم الله في جزئية, وأما إذا وضع قانوناً عاماً فهذا يكون كافراً , إذاً هم يفرّقون بين الجزئية وبين التشريع العام؛ فيسمون التشريع العام يسمون صاحبه مستبدلاً؛ فقالوا إن إستبدل الشريعة بقانون وضعي هذا كافر؛ وأما إذا ترك جزئية أو جزئيتن والأصل عنده الشريعة هذا عاصي,هذا كلامهم كلهم حول هذه الكلمة يدندنون؛ هناك في السعودية سلمان وسفر وهنا في مصر محمد عبدالمقصود,ياسر برهامي,فوزي السعيد , في الأردن في الجزائر في اليمن في بريطانيا محمد سرور نايف, المسعري ؛ كلهم يقولون بهذه التفرقة .

Kalau begitu, dengan kalimat yang ringkas bisa disimpulkan bahwa, mereka membedakan antara seorang hakim jika dia menolak syari’at secara keseluruhan dengan seorang hakim yang pada asalnya menerapkan syari’at Allâh namun pada kasus tertentu yang sifatnya cabang (parsial) dia tidak menggunakan hukum Allâh (hakim jenis pertama mereka kafirkan, dan hakim jenis kedua tidak mereka kafirkan-pent). Contohnya:

Seseorang berhukum dengan hukum syari’at, namun pada kasus tertentu yang menyangkut keponakannya atau salah seorang kerabatnya, dia tidak menerapkan hukum Allâh di situ. Ini termasuk berhukum dengan selain hukum Allâh. Nah, hakim model ini menurut mereka tidaklah kafir, dia dikatakan sebagai orang yang bermaksiat. Karena dia sekedar meninggalkan hukum Allâh pada perkara yang sifatnya parsial. Namun jika hakim tersebut meletakkan atau menetapkan undang-undang secara umum (yang bukan hukum Allâh-pent) maka dia telah kafir.

Jika demikian, mereka (para takfiri-pent) membedakan antara at-tasyrii’al- juz-iy (penetapan hukum pada kasus parsial) dengan at-tasyrii’ al-‘aam (penetapan hukum secara umum). Mereka menamakan para pelaku at-tasyrii’ al-‘aam dengan sebutan “mustabdil” (pengganti hukum Allâh-pent). Mereka mengatakan; ‘jika dia mengganti hukum syari’at dengan undang-undang buatan, maka dia kafir. Namun jika meninggalkan hukum syari’at pada satu atau dua kasus parsial, maka dia pelaku maksiat. Inilah perkataan mereka. Semua dendangan mereka berkisar pada kalimat tersebut. Di sana di Saudi ada Salmân (al-Audah), Safar (Hawali). Di sini di Mesir ada Muhammad Abdul Maqshûd, Yâsir Birhâmi, Fauzi as-Sa’iid. Di Yordan, Aljazair, di Inggris ada Muhammad Surûr Nâyif, al-Mas’ary, mereka semua berbicara tentang pembedaan ini (yakni membedakan antara tasyrii’ ‘aam dengan tasyrii’ juz-iy—pent).

ما هي القاعدة التي تُبطل هذه الدعوى ؟ الآن إنتبه: الكفر عند أهل السنة كفرٌ بجنسه وليس كفراً بنسبته ؛ ما معنى هذا الكلام؟

Lantas, apa kaidah yang membatalkan dakwaan mereka ini? Sekarang perhatikan dengan seksama..!! Kekufuran di mata Ahlussunnah adalah kekufuran berdasarkan jenisnya, bukan kekufuran berdasarkan prosentase atau kuantitasnya. Apa makna kaidah ini?

نحن نسأل هؤلاء نقول لهم: ماذا تقولون في رجلٍ سجد لصنمٍ سجدةً واحدةً ؟ من طبيعة الجواب سيقولون: كافر طيب, رجلٌ منذ أن وُلد إلى أن مات وهو يسجد للأصنام ماذا تقولون؟ يقولون أيضاً كافر .

Kita tanyakan kepada mereka: ‘bagaimana pendapat kalian tentang seorang laki-laki yang sujud hanya sekali di hadapan berhala? Secara natural mereka tentu akan menjawab: ‘dia kafir’. Oke, sekarang bagaimana jika seorang laki-laki semenjak lahir sampai mati dia senantiasa sujud pada berhala, apa komentar kalian? Mereka akan menjawab: ‘dia kafir’.

طيب ما الفرق الآن بين من سجد سجدة واحدة وبين من سجدطيلة عمره؟ لا فرق, لماذا لا فرق؟ لأن جنس الفعل كفرٌ وهو السجود للصنم .

Oke, lalu apa perbedaan antara orang yang hanya sekali sujud (pada berhala—pent) dengan orang yang sujud sepanjang hidupnya? Tidak ada perbedaan. Kenapa tidak ada? Karena jenis kekufuran tersebut (termasuk jenis kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama—pent) yaitu sujud pada berhala.

طيب مثالٌ آخر: رجلٌ أنكر آيةً من كتاب الله ماذا تقولون؟ يقولون: كافر, طيب. رجلٌ أنكر القرآن كله ماذايقولون؟ يقولون: كافر, يا أخي هذا أنكر آية فقط, قال لا فرق بين من أنكر آية وبينمن أنكر القرآن كله, لماذا؟لأن القاعدة عند أهل السنة أن الكفر كفرٌ بجنس الفعل لا بنسبته قلةً وكثرةً؛ فإذا كان أصل الفعل أو القول أوالإعتقاد كفرٌ لم تضرّ النسبة قلة أو كثرةً, طيب.

Oke, sekarang contoh yang lain. Seorang laki-laki mengingkari satu ayat dalam Kitâbullâh, apa komentar kalian? Mereka akan mengatakan: ‘dia kafir’.  Ya Akhi, dia hanya mengingkari satu ayat saja. Mereka berkata: ‘tidak ada perbedaan antara orang yang mengingkar satu ayat dengan orang yang mengingkari al-Qur’an seluruhnya. Kenapa? Karena kaidah Ahlussunnah menyatakan bahwa kekufuran (yang mengeluarkan dari agama—pent) dilihat berdasarkan jenis perbuatannya, bukan berdasarkan sedikit atau banyaknya perbuatan tersebut. Jika suatu perbuatan, atau ucapan, atau keyakinan, termasuk dalam jenis kekufuran (yang mengeluarkan dari agama—pent) maka baik dilakukan sedikit atau banyak, tidak ada pengaruhnya, sama-sama menyebabkan kekafiran.

وإن لم يكن جنس الفعل كفر؛ رجلٌ شرب الخمر مرة كفر؟ الجواب لا, هذا عاصي , طيب. رجلٌ أدمن شرب الخمر طيلة دهره وهو يقول أسأل الله مغفرته غلبتني نفسي كفر؟ لا , يا رجل هذا يشرب مرةً واحدة وهذا مدمن لماذا لا تكفّره؟ يقولون: لأن هذا الذي يشرب الخمر طيلة دهره جنس الفعل وهوشرب الخمر من الكبائر وليس من المكفرات.

Sekarang contoh jenis perbuatan yang bukan termasuk kekufuran. Laki-laki yang menenggak miras hanya sekali saja, apa dia kafir? Jawabannya tentu saja tidak. Dia pelaku maksiat. Oke, bagaimana dengan laki-laki yang kecanduan miras sepanjang hidupnya, dan dia berkata: ‘aku mohon pada Allâh ampunan-Nya, aku dikalahkan oleh nafsuku’. Apa dia kafir? Tidak. Hei Bung..! Ini orang hanya minum sekali saja, sementara yang itu sudah kecanduan, kenapa engkau tidak mengkafirkannya? Mereka berkata: ‘karena laki-laki yang kecanduan ini melakukan perbuatan yang tergolong dalam jenis dosa-dosa besar, dan bukan termasuk jenis perbuatan yang menyebabkan kekafiran.

إذن من هنا نقول : الكفر كفرٌ بإعتبار جنسه أم بإعتبار نسبته؟ الجواب: بإعتبار جنسه , فقليله وكثيره إن كان كفراً فهو كفرٌ , وقليله وكثيره إن كان أصل جنسه معصيةً فهو معصية.

Kalau begitu; kekufuran apakah dilihat berdasarkan jenisnya, atau berdasarkan kuantitasnya? Jawabnya adalah: berdasarkan jenisnya. Sedikit maupun banyak, jika termasuk pada jenis yang menyebabkan kekafiran, maka dia kafir. Sedikit ataupun banyak, jika termasuk pada jenis maksiat, maka dia maksiat (tidak kafir—pent).

الآن نقول لهؤلاء : أخبرونا عن مسألة الحكم بغير ما أنزل الله أهي من جنس الكفر أم من جنس المعاصي ؟ لهم حالةمن حالتين: إما أن يقولوا أن جنس الحكم بغير الشرع من الكفر الأكبر أو يقولوا من المعاصي التي لا يكفر صاحبها, فيه إحتمال ثالث, لا.

Sekarang, simak dan renungkanlah dengan hati yang jernih–pent…!!

Sekarang kita katakan kepada mereka: ‘beritahukan kami tentang masalah berhukum dengan hukum selain hukum yang diturunkan Allâh, apakah ia termasuk jenis kekufuran atau jenis maksiat?’ Jawaban mereka tidak lepas dari dua hal: (pertama) mereka akan mengatakan bahwa hukum dengan selain hukum syari’at termasuk kufur akbar, atau (yang kedua) mereka akan mengatakan bahwa ia termasuk jenis maksiat yang tidak menyebabkan pelakunya kafir. Apa ada kemungkinan yang ketiga? Tidak ada.

طيب. إن قالوا أنها من جنس الكفر الأكبر, قلنا لهم: وأنتم لا تكفرّونه إذا ترك حكم الله في جزئية واحدة!! . إذن لو كان جنس الحكم بغير ما أنزل الله من الكفر الأكبر للزمكم أن تكفّروا من ترك جزئيةً واحدةً كماتكفّرون من سجد لصنمٍ سجدةً واحدة وكما تكفّرون من أنكر آيةً واحدةً من القرآن…

Oke, jika mereka mengatakan; ‘berhukum tidak dengan hukum syari’at termasuk kufur akbar’, maka kita katakan pada mereka; ‘(Nah loh) kalian tidak mengkafirkannya jika dia meninggalkan hukum syari’at tersebut pada kasus tertentu yang bersifat parsial…!!? Jadi, jika berhukum dengan selain hukum Allâh termasuk jenis kufur akbar, semestinya kalian harus mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allâh pada perkara parsial atau pada satu atau dua kasus tertentu. Sebagaimana kalian mengkafirkan orang yang sujud pada berhala walaupun hanya sekali saja. Dan sebagaimana kalian mengkafirkan orang yang mengingkari satu ayat saja dalam al-Qur’an…

…إذن الإعتبار الآن في الحكم بغير ما أنزل الله يدخل في القاعدة السابقة النظرُ إلى جنس الفعل, فإما أن يكفّروا كلّ من عطّل جزئيةً واحدة ؛ وإما أن لايكفّروا من إستبدل الشرع بقانون وضعي؛ لأن الأمر الآن مداره على جنس الفعل دون النظر إلى قلته أو كثرته,

Kalau begitu kesimpulannya; dalam masalah berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allâh, harus masuk pada prinsip sebelumnya, yaitu prinsip melihat jenis dari suatu perbuatan (apakah maksiat atau kekufuran—pent). Sehingga pilihannya hanya ada dua; mau tidak mau harus mengkafirkan semua orang yang tidak menjalankan hukum Allâh baik dalam kasus parsial sekalipun, atau mau tidak mau mereka harus meniadakan pengkafiran terhadap orang-orang yang mengganti hukum syari’at dengan undang-undang buatan. Karena permasalahannya sekarang adalah pada jenis perbuatan, tanpa memandang pada sedikit atau banyaknya perbuatan tersebut.

أنا أقسم لك بالله العظيم وأُشهد الله أني صادق منذُ أن نزلتُ مصر وناقشت هؤلاء أُلزمهم بهذه القاعدة مع أني كنت صغير السن ورب الكعبة ما أحدٌ منهم يستطيع أن يجيب , لماذا؟ هذا كلام الأئمة ولا نكفّر مسلماً بذنبٍ ما لم يستحله , أهل السنة ينظرون إلى جنس الفعل ؛ فإن كان جنس الفعل كفر لم ينظروا إلى قلته وكثرته ؛ وإذا كان جنس الفعل معصية لم ينظروا إلى قلته وكثرته, فمن نحّى جزئية من الشريعة كمن نحّى ألفاً , ومن أنكر آيةً كمن أنكر القرآن كله , إذن لمّا الآن يقول إبن عباس:( كفرٌ دون كفر) والسلف يقولون ذلك , من الجهل أننا نحمل كلام السلف على أنهم فرّقوا بين القليل وبين الكثير …

Dan aku bersumpah pada Allâh Yang Maha Agung, aku jadikan Allâh sebagai saksi bahwa semenjak aku tinggal di Mesir, dan semenjak aku berdialog dengan orang-orang (takfiri-pent) ini, aku ikat mereka dengan kaidah ini, padahal saat itu aku masih muda belia. Demi Rabb Pemilik Ka’bah, tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa menjawab, kenapa? Karena ini adalah ucapan (atau prinsip-pent) para Imam, yaitu; “Kita tidak mengkafirkan seorang muslim pun gara-gara suatu dosa maksiat selama mereka tidak menghalalkan maksiat tersebut. Ahlussunnah melihat kepada jenis perbuatan. Jika suatu perbuatan termasuk pada jenis yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama, maka ahlussunnah tidak memandang pada sedikit atau banyaknya perbuatan tersebut (sekali saja dilakukan, maka dia kafir—pent). Demikian pula jika jenis perbutan tersebut termasuk maksiat (atau kufur ashgar—pent), mereka juga tidak memandang pada sedikit atau banyaknya perbuatan tersebut dilakukan (sekalipun banyak, tetap tidak mengkafirkan pelakunya, selama ia tidak menghalalkannya—pent). Orang yang menyingkirkan satu cabang syari’at, sama dengan orang yang menyingkirkan seribu hukum syari’at. Orang yang menolak satu ayat, seperti orang yang menolak al-Qur’an seluruhnya.

Jadi, manakala Ibnu ‘Abbâs mengatakan “kufrun dûna kufrin”, dan para Salaf juga berpendapat demikian, maka merupakan sebuah kebodohan jika kita memaknainya bahwa para Salaf membedakan antara sedikit dan banyak (dalam masalah ini-pent).

***

منقول من مادة صوتية للشيخ الفاضل خالد بن عبدالرحمن المصري حفظه الله

 dinukil dari rekaman suara Syaikh Kholid Abdurrahman al-Mishri hafizhahullah

sumber: http://www.bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=9909

diringkas dan diterjemahkan oleh:

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)

**Catatan: terdapat beberapa kesalahan tulis pada teks translasi bahasa arab, saya hanya menukil apa adanya dari sumber.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: