Tinggalkan komentar

Ucapan Selamat Natal, Antara Aqidah dan Toleransi

Ada yang bilang bahwa memberi ucapan selamat atas perayaan Natal umat Kristiani adalah bentuk toleransi Islam dan sikap yang baik terhadap agama tetangga. Mereka menganggap bahwa ucapan selamat tidak ada kaitan dan sangkut pautnya dengan aqidah dan tauhid. Itu murni mu’amalah, kata mereka. Benarkah demikian?

Dalam ranah teologi (baca: aqidah) Kristiani, perayaan Natal diyakini sebagai perayaan hari kelahiran seorang Tuhan yang dikenal sebagai Yesus, oleh kita kaum muslimin meyakininya sebagai Nabi ‘Isa ‘alaihissalâm, salah seorang utusan Allâh yang mulia sekaligus hamba-Nya. Keyakinan bahwa Allâh memiliki pasangan dan anak, jelas bertentangan dengan pilar-pilar aqidah yang telah dicanangkan oleh al-Qur’an. Bukankah dalam banyak firman-Nya, Allâh telah membantah keyakinan batil tersebut? Seperti dalam ayat:

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allâh mempunyai anak”. Maha Suci Allâh; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Yunus: 68]

Demikian juga dalam ayat: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?….” [QS.al-Mâ-idah: 17]

Allah juga berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak….” [QS. Maryam: 88-93]

Lantas, bagaimana mungkin konsep ketuhanan yang tertuang jelas di dalam al-Qur’an ini dikatakan sebagai perkara yang tidak ada sangkut pautnya dengan aqidah?

Jika kita renungkan dengan hati yang jernih, ucapan selamat atas perayaan Natal sejatinya adalah ucapan selamat atas kelahiran seorang “Tuhan” (di mata Kristiani). Mungkinkah seorang mukmin meyakini bahwa Allâh adalah Dzat yang dilahirkan? Ada konsekuensi secara lisan—sekalipun tidak secara batin—manakala seseorang mengucapkan selamat Natal, bahwa ia telah memberikan ucapan selamat atas keyakinan Trinitas Nashrani. Lantas di manakah kita meletakkan firman Allâh ini?:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga (trinitas)”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [QS. Al-Mâ-idah: 73]

Jika ditilik dari sisi historis, hari Natal sendiri penuh dengan kontroversi di kalangan internal umat Kristiani. Ada pendapat yang berkata bahwa perayaan Natal bersumber dari tradisi Romawi pra-Kristen, peringatan bagi dewa pertanian Saturnus jatuh pada suatu pekan di bulan Desember dengan puncak peringatannya pada hari titik balik musim dingin (winter solstice) yang jatuh pada tanggal 25 Desember dalam kalender Julian. Peringatan yang disebut Saturnalia tersebut merupakan tradisi sosial utama bagi bangsa Romawi. Agar orang-orang Romawi dapat menganut agama Kristen tanpa meninggalkan tradisi mereka sendiri, atas dorongan dari kaisar Kristen pertama Romawi, Konstantin I, Paus Julius I memutuskan pada tahun 350 bahwa kelahiran Yesus diperingati pada tanggal yang sama. [http://id.wikipedia.org/wiki/Natal]

Tidak heran jika Insan LS Mokoginta, seorang Kristolog yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Depok menuturkan, bahwa tanggal 25 Desember sebenarnya bukanlah hari kelahiran Yesus. Ini merupakan taktik teologis orang-orang Kristen pada masa lalu agar agama Kristen diterima oleh orang-orang Romawi Kuno yang selalu memperingati hari kelahiran Dewa Matahari pada tanggal 25 Desember…Karenanya, bagi umat Islam sangat fatal jika ikut-ikutan mengucapkan kedua hari raya itu. [islampos.com]

Kemudian jika kita tilik dari tradisi Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya, tampak jelas bahwa mereka tidak pernah menghadiri apalagi memberikan ucapan selamat atas perayaan-perayaan Ahlul Kitab (Yahudi-Nasrani) atau agama musyrik lainnya. Menunjukkan bahwa toleransi Islam tidaklah diwujudkan dengan hal tersebut. Yang ada justru sebaliknya, al-Qur’ân memuji ‘ibâdurrahmân (hamba-hamba ar-Rahmân) yang tidak menyaksikan az-Zûr (perayaan orang-orang kafir), sebagaimana firman Allâh:

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” [QS. Al-Furqân: 72]. Ibnu ‘Abbâs radhiallâhu’anhu menfasirkan az-zûr sebagai hari raya orang-orang musyrik [Aisarut Tafâsiir: 3/633, al-Jazâiri]

Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam kitabnya Ahkâmu Ahli adz-Dzimmah, mengatakan:

“Adapun memberi ucapan selamat dengan syiar khusus untuk orang kafir, hal itu disepakati keharamannya. Seperti memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka dengan mengucapkan ‘Hari raya yang diberkahi untuk anda.’ Atau memberikan ucapan selamat dengan hari raya ini atau semisal itu. Hal ini, walaupun pelakunya selamat dari kekufuran, maka ia termasuk sesuatu yang diharamkan. Hal itu seperti kedudukannya dengan memberikan ucapan selamat dengan sujudnya kepada salib. Bahkan hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih di murkai dibandingkan memberi ucapan selamat untuk orang yang meminum khamr dan membunuh jiwa. Serta terjerumus dalam perbuatan asusila yang diharamkan dan semisalnya. Banyak di antara orang yang kurang penghargaan terhadap agama, terjerumus terhadap hal itu. tidak tahu keburukan apa yang dilakukannya. Barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada seorang hamba yang melakukan kemaksiatan, bid’ah dan kekufuran, maka dia terancam mendapatkan kemurkaan Allah.” [dinukil dari: islam-qa.com/id/947]

Semoga Allâh merahmati Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullâh atau yang akrab dengan sebutan Buya Hamka (wafat: 1981). Semasa kepemimpinannya di Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 80-an, begitu kukuhnya beliau dalam mempertahankan fatwa MUI tertanggal 7 Maret 1981 yang mengharamkan umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani dan menghadiri Natalan. Beliau lebih merelakan lepasnya jabatan sebagai Ketua MUI, ketimbang menarik kembali fatwa pengharaman tersebut.

Ketua Umum MUI saat ini, KH. Ma’ruf Amin pernah memberikan wejangan kepada seluruh umat Islam Indonesia. Di hadapan wartawan (dalam kumpa pers di kantornya Jalan Proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat, Rabu 19/2012) beliau mengatakan:

“Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal, jangan sampai diucapkan oleh umat Islam…”

Alhasil, tidak mengucapkan selamat atas hari raya non-muslim sama sekali tidak ada mudaratnya, tidak mencederai konsep toleransi dan keadilan yang diajarkan Islam. Seorang muslim tetap dituntut untuk bisa bermuamalah dengan baik dan adil bersama mereka non-muslim, tanpa harus mengucapkan selamat atau ikut memberi andil atas perayaan agama mereka.

***

Shafar 1434 – 18122013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyân)

“semoga Allâh memafkannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: