Tinggalkan komentar

Perayaan Maulid dalam Bingkai Sejarah

Siapakah yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid?

Pertanyaan ini pantas kita layangkan mengingat banyak di antara kita yang belum mengetahuinya. Di samping juga fakta sejarah bahwa Nabi kita dan para Sahabat bukanlah para penggagas perayaan Maulid pertama kali. Ini diakui sendiri oleh Imam Ibnu Hajar rahimahullâh (wafat: 852-H), salah seorang pembesar ulama Syâfi’iyyah, sebagaimana dinukil oleh as-Suyûthi rahimahullâh (wafat: 911-H) dalam al-Hâwi lil Fatâwi (1/229). Dan bahkan diakui sendiri oleh para tokoh-tokoh intelektual penggiat perayaan Maulid (sebagaimana yang akan dinukilkan dalam artikel ini).

Para pakar sejarah Islam menuliskan bahwa pada abad ke-4 Hijriyah (sekitar tahun 362-H), Bani ‘Ubaid yang berasal dari Maghrib (Maroko dan sekitar) merebut kekuasaan di Mesir dan Syâm dari kedaulatan Bani ‘Abbâsiyah. Bani ‘Ubaid yang beraliran kebathinan al-Qaramithah ini kemudian mendirikan sebuah Daulah di kedua negeri kaum muslimin tersebut yang mereka sebut sebagai Daulah Fâthimiyyah.

Daulah Fâthimiyyah yang berhaluan Syi’ah Qaramithah ini dikenal sangat mengkultuskan Ahlul Bait secara zhahir, hanya saja dengan pengkultusan yang melampaui batas, yang justru menggiring mereka keluar dari pagar-pagar syari’at yang telah dipancangkan oleh al-Qur’an dan Sunnah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam yang shahih.

Lambat laun, rakyat Mesir merasa tertindas dengan pemerintahan Daulah Fâthimiyyah yang sarat akan kezhaliman. Siasat keji sosial-politik akhirnya dilancarkan demi meraih kembali simpati rakyat Mesir. Dengan alasan—dusta—cinta Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan Ahlul Bait, serta demi meredam gejolak rakyat yang sudah menunjukkan gelagat revolusi, maka seorang hakim Daulah Fâthimiyyah yang bernama al-Mu’iz al-‘Ubaidi lantas membuat-buat perayaan hari kelahiran Nabi, Fâthimah, ‘Ali bin Abi Thâlib, kedua putranya; al-Hasan dan al-Husein, dan segenap anak keturuan Ahlul Bait radhiallâhu’anhum ajma’iin, tentu saja dengan model perayaan yang kental dengan nuansa ajaran-ajaran Syi’ah. Bani ‘Ubaid sukses membohongi rakyatnya, sehingga berkembanglah perayaan-perayaan hari kelahiran Nabi dan para Imam mereka menjadi sebuah tradisi di Mesir.

Setelah kekuasaan Bani ‘Ubaid runtuh, pada abad ke-6 (pakar sejarah lain ada yang mengatakan: awal abad ke-7) seorang tokoh sufi bernama ‘Umar al-Mula’ kemudian mengadopsi perayaan maulid Nabi tersebut dan membawanya menuju Irak, ke sebuah daerah bernama Irbil yang dipimpin oleh Raja al-Muzhaffar Abu Sa’iid Kûkuburiy. Raja Irbil inilah yang kemudian mengadakan perayaan besar-besaran dengan hidangan-hidangan mewah setiap Rabi’ul Awwal. Semenjak saat itu, perayaan Maulid mulai menyebar dan berkembang ke seluruh negeri kaum muslimin hingga saat ini.

Para pakar yang mecatat tetang sejarah perayaan maulid ini di antaranya adalah; Abu Syâmah dalam kitabnya al-Bâ’its ‘alâ Inkâril Bida’ wal Hawâdits (hal. 31), Sibth Ibnul Jauzi dalam Mir-âtuz Zamân (8/310), dan al-Hâfizh Ibnu Katsiir asy-Syâfi’i dalam al-Bidâyah wan Nihâyah (21/362).

Muhammad Kholid Tsâbit seorang tokoh kontemporer yang dikenal sangat intens dalam mengkampanyekan perayaan Maulid, dalam bukunya Târiikh al-Ihtifâl bi Maulidin Nabiy menegaskan bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid Nabi adalah Bani ‘Ubaid yang beraliran Syi’ah:

إن احتفالاتهم بالمولد كانت هزيلة لا تتناسب مع جلال المناسبة، وأن اهتمامهم الأكبر كان بالمناسبات والأعياد الشيعية، واستشهد بما جاء في كتاب “الحياة الاجتماعية في العصر الفاطمى” للدكتور عبد المنعم سلطان طبع دار الثقافة العلمية بالأسكندرية سنة 1992

“Perayaan maulid yang mereka (Bani ‘Ubadi) lakukan sangatlah minim dan penuh kekurangan, tidak cocok dengan keagungan momentum maulid. Semangat mereka yang terbesar hanyalah pada hari-hari perayaan Syi’ah. Hal ini dipersaksikan sendiri oleh DR. Abdul Mun’im Sulthân dalam kitabnya “al-Hayât al-Ijtima’iyyah fil ‘Ashril Fâthimiy” [http://ar.wikipedia.org]

Tujuan Utama Bani ‘Ubaid Mengada-adakan Maulid

Jika kita buka kembali lembaran-lembaran sejarah disertai renungan yang mendalam, maka sangat jelas benang merah yang bisa kita simpulkan mengenai tujuan utama Bani ‘Ubaid dalam mengadakan perayaan Maulid Nabi. Kesimpulan tersebut diungkapkan oleh asy-Syaikh DR. Ibrâhiim bin Muhammad al-Huqail:

إذًا كان الهدف الرئيس من إحداث الموالد هدفًا سياسيًّا لتثبيت حكم بني عبيد، ولم يكن لمحبة النبي – صلى الله عليه وسلم – ولا لمحبة آل بيته فيه أي نصيب

“Jadi, tujuan utama mereka (Bani ‘Ubaid) mengada-adakan perayaan Maulid adalah semata-mata atas alasan politis, demi mengokohkan rezim Bani ‘Ubaid, sama sekali bukan dilandasi oleh rasa cinta pada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, tidak juga atas dasar cinta pada Ahlul Bait Nabi.” [dari makalah beliau yang berjudul “al-Ihtifâl bil Maulid an-Nabawi, Nasy-atuhu, Târiikhuhu, wa Haqiiqatu man Ahdatsûhu” http://www.alukah.net/Web/hogail/0/1310/%5D

Bukti dari apa yang diungkapkan oleh asy-Syaikh DR. Ibrâhim bin Muhammad al-Huqail di atas, akan sangat nampak jelas jika kita menelaah sejarah, siapa dan bagaimana sebenarnya sosok Bani ‘Ubaid yang mendirikan Daulah Fâthimiyyah ini.

Sejarah Hitam Nenek Moyang Bani ‘Ubaid

Para sejarawan menulis bahwa Bani ‘Ubaid ini berasal dari keturunan Abdullâh bin Maimûn al-Qoddâh yang sangat terkenal akan kekufuran dan permusuhannya terhadap Islam. Imâm Abu Syâmah al-Maqdisi, guru dari Imâm Nawawi asy-Syâfi’i, mengatakan dalam kitabnya ar-Raudhatain fii Akhbâri ad-Daulatain (1/102):

قال أبو شامة المقدسي عن عبيدالله: “وعبيد هذا كان اسمه سعيدًا، فلما دخل المغرب تسمى بعبيدالله، وزعم أنه علوي فاطمي، وادعى نسبًا ليس بصحيح، لم يذكره أحد من مصنفي الأنساب العلوية، وترقت به الحال إلى أن ملك وتسمى بالمهدي، وبنى المهدية بالمغرب، ونسبت إليه، وكان زنديقًا خبيثًا عدوًّا للإسلام، متظاهرًا بالتشيع، مستترًا به، حريصًا على إزالة الملة الإسلامية، قتل من الفقهاء والمحدثين والصالحين جماعة كثيرة، وكان قصده إعدامهم من الوجود؛ لتبقى العالم كالبهائم؛ فيتمكن من إفساد عقائدهم وضلالتهم، والله متم نوره ولو كره الكافرون. ونشأت ذريته على ذلك منطوين، يجهرون به إذا أمكنتهم الفرصة وإلا أسروه…” انظر: “مختصر الروضتين” للدكتور محمد حسن عقيل:651

“’Ubaid ini, nama aslinya adalah Sa’iid. Tatkala ia memasuki al-Maghrib (Maroko dan sekitarnya), dia menamai dirinya dengan ‘Ubaidillâh. Dia mengaku punya silsilah nasab (dengan Ahlul Bait Nabi), dan ini dusta, telah dibantah oleh penulis nasab dari kalangan ‘Alawiyah (Ahlul Bait) sendiri. Lambat laun dia berkuasa di Maroko dan sekitarnya dengan julukan al-Mahdi, dan dia mendirikan Dinasti Mahdiyyah di sana. Dia seorang yang menyimpang, sesat, dan menjadi musuh bagi Islam, menampakkan kecintaan pada Ahlul Bait, namun itu hanya kamuflase belaka. Pada hakikatnya dia berambisi untuk melenyapkan agama Islam. Dia telah banyak membantai para fuqaha, para ahli hadits, dan orang-orang shalih. Tujuannya adalah melenyapkan alim ulama dari muka bumi, sehingga tidak ada yang bangkit melawan kesesatan dan rusaknya aqidah mereka, agar alam ini hanya menyisakan prihidup kebinatangan. Namun Allâh akan senantiasa menyempurnakan cahaya agama-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka. Intrik jahat ini, kemudian diwarisi oleh anak-cucunya, (kejahatan terhadap alim ulama tersebut) mereka lakukan secara terang-terangan jika memungkinkan, jika tidak, maka alim ulama tersebut mereka tawan.” [lihat Mukhtashar ar-Raudhatain, oleh DR. Muhammad Hasan ‘Aqiil]

Simaklah ucapan di atas, betapa kerasnya sikap Abu Syâmah al-Maqdisi rahimahullâh terhadap Bani ‘Ubaid. Perlu digarisbawahi bahwa Abu Syâmah al-Maqdisi adalah guru dari al-Imâm an-Nawawi rahimahullâh, salah seorang ulama besar Madzhab Syâfi’i yang menjadi panutan bagi kita di tanah air.

Ucapan al-Ghozali Tentang Bani ‘Ubaid

Tidak ketinggalan, Al-Imâm al-Ghozâli rahimahullâh (wafat: 505-H) telah menyingkap jati diri mereka. Beliau mengatakan dalam kitabnya “Fadhâ-il al-Mustazh-hiriyyah wa Fadhâ-ih al-Bâthiniyyah”:

ظاهر مذهبهم الرَّفض وباطنه الكُفر المحضُ.

“Secara zhahir, madzhab mereka adalah Syi’ah-Râfidhah (yang menolak kekhalifahan dan keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiiq dan ‘Umar bin al-Khaththâb, bahkan mengkafirkan mereka berdua-pen), namun di balik itu sejatinya tersembunyi kekufuran yang murni.”

Demikian ucapan al-Imâm al-Gozhâli rahimahullâh yang sangat keras menyikapi Daulah Fâthimiyyah, karena banyaknya kemunkaran yang telah mereka perbuat. Bagaimana tidak, al-Mu’iz al-‘Ubaidi, tokoh sentral Bani ‘Ubaid yang pertama kali mencetuskan perayaan Maulid ini, adalah orang yang mengaku-ngaku diberi wahyu oleh Allâh. Ibnu Hâni’ al-Andalûsiy, seorang penyair sesat yang menuhankan al-Mu’iz sampai-sampai berkata:

مَا شِئْتَ لاَ مَا شَاءَتِ الأَقْدَارُ        فَاحْكُمْ فَأَنْتَ الوَاحِدُ  الْقَهَّارُ

“(semua tergantung) Kehendakmu (wahai al-Mu’iz), bukan kehendak takdir ** maka putuskanlah olehmu wahai (al-Mu’iz) Yang Esa lagi Maha Berkuasa.”

Imâm Abu Syâmah al-Maqdisi telah membongkar kesesatan orang ini, beliau mengatakan:

فبث دعاته فكانوا يقولون: هو المهدي الذي يملك الأرض، وهو الشمس التي تطلع من مغربها!! وكان يسره ما ينزل بالمسلمين من المصائب من أخذ الروم بلادَهم، واحتجب عن الناس أيامًا ثم ظهر وأوهم أن الله رفعه إليه، وأنه كان غائبًا في السماء

“al-Mu’iz mengutus para da’inya untuk menyebarkan kebohongan publik dengan mengatakan: ‘Dialah al-Mahdi yang menguasai dunia, dialah matahari yang akan terbit dari arah terbenamnya’. Al-Mu’iz ini sangat gembira, manakala kaum muslimin ditimpa musibah akibat invasi orang-orang Romawi pada negeri-negeri mereka. Suatu ketika al-Mu’iz ini sengaja bersembunyi, kemudian dia muncul selang beberapa lama seraya menyebarkan doktrin sesat bahwa dia telah diangkat ke langit oleh Allâh…”

Pengakuan Seorang Sejarawan Penggiat Maulid

Demikianlah, ternyata awal mula lahirnya perayaan Maulid, tidak muncul dari para Imam dan Ulama kita yang shalih. Hasan as-Sandûbi, sejarawan Mesir yang terkenal sangat intens menggalakkan dan menyebarkan perayaan Maulid, telah menuliskan kalimat pengakuan berikut ini dalam kitabnya “Târiikh al-Ihtifâl bil Maulidin Nabawi min ‘Ashril Islâm ilâ ‘Ashril Fârûq al-Awwal (32.22)”:

وهنا يجمل بي أن أقول: إن هذه المواسم والأعياد والموالد وما شاكلها وجرى في سبيلها إنما تعد من البدع، التي لم يأذن بها الله، ولا ورد منها ما يشير إلى أنّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أمر بها، أو أشار إليها، أو باشرها في قول أو فعل – حاشا عيدي الأضحى والفطر – وكذلك لم يعرفها الصحابة على طبقاتهم، ولم يشهدها أحد من التابعين على درجاتهم، ولم ينوه بها أحد من الأئمة المجتهدين، الذين ضبطوا أصول الشريعة، وحرروا فروعها، وبينوا مدلولاتها”

“Di sini, tentunya akan terasa indah jika saya mengatakan: bahwa momen-momen hari perayaan seperti maulid, dan yang semisalnya, sejatinya termasuk bid’ah, yang tidak diijinkan oleh Allâh. Tidak ada riwayat yang mengisyaratkan bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal tersebut, atau (paling tidak) memberi isyarat akan bolehnya hal tersebut, atau kabar gembira melalui isyarat lisan maupun amalan—terkecuali perayaan Idhul Fithri dan al-Adh-ha—. Demikian pula para Sahabat dalam berbagai tingkatan mereka, belum pernah mengenal perayaan tersebut. Demikian pula Tâbi’in pada berbagai level mereka, tidak pernah meyaksikan perayaan tersebut. Bahkan tidak pernah diniatkan untuk dilakukan oleh para Imam-Imam Mujtahid, yang telah meletakkan pokok-pokok kaidah ilmu syari’at ini beserta cabang-cabang, dan yang telah menjelaskan maksud-maksudnya….”

***

Mataram, 19012014

Johan Saputra Halim (Abu Ziyân)

“semoga Allâh memaafkannya”

Sumber bacaan: http://www.alukah.net/Web/hogail/0/1310/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: