Tinggalkan komentar

Kisah Pengantar Muraqabatullaah

Alkisah, seorang raja dalam perjalanannya tengah memandang keindahan gunung yang menjulang di hadapannya. Tatapan sang raja senantiasa tertuju pada putihnya salju yang menutupi puncak gunung tersebut. Sementara para pelayan istana, tampak khusyuk mengelilingi sang raja. Mereka yang bisa sedekat itu dengan sang raja, tentu bukan pelayan sembarangan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dicintai oleh sang raja. Namun seperti yang telah dimaklumi bersama tentang karakter cinta yang selalu pilih kasih, cinta sang raja pun demikian terhadap para pelayannya. Selang beberapa waktu, tiba-tiba salah seorang pelayan menghampirinya. Disuguhkanlah di hadapan sang raja segumpal salju yang mengkristal. Wajah sang raja tersipu bahagia, seolah tersapu angin surgawi. Di hadapan pelayan raja yang lain, sang raja pun bertanya pada pelayan (penyuguh salju) yang paling dicintainya ini:

“Bagaimana engkau mengetahui hasratku terhadap salju di puncak gunung ini..?”

Pelayan raja menjawab:

“Wahai tuanku, aku senantiasa mengawasi gerak-gerik dari tatapan matamu. Saat aku melihat betapa kagumnya engkau saat memandang salju di puncak gunung itu, aku pun paham, bahwa engkau berhasrat seandainya salju itu berada di hadapanmu. Maka aku pun segera mendaki puncak gunung tersebut, demi bisa menghadirkan apa yang engkau inginkan.”

Sang raja lantas berkhutbah di hadapan para pelayannya yang lain:

“Atas dasar inilah, aku sangat mencintainya (seraya menunjuk si pelayan), aku sangat perhatian terhadapnya, melebihi perhatianku terhadap kalian. Kalian hanya memperhatikan kebutuhan dan kepentingan kalian pribadi, sementara dia senantiasa mengawasi dan memperhatikan kepentinganku.”

Hikmah dari Kisah Tersebut….

Setelah membawakan kisah tersebut dalam muhadharah yang berjudul “Muraqabatullah”, asy-Syaikh DR. Kholid as-Sabt berkata memberikan komentar:

“Ini adalah bentuk muraqabah makhluk terhadap makhluk, lantas di mana muraqabah kita terhadap Allah, al-Khaliq, Raja Diraja alam semesta….??”

Dia, ar-Rahman, senantiasa melimpahkan nikmat-Nya siang dan malam, sementara dia senantiasa melihat kita sepanjang siang berganti malam dalam kemaksiatan dan kedurhakaan. Jika realita keseharian kita punya kesempatan berbicara, sejatinya kita tidak pernah benar-benar merasa Allah Maha melihat, Maha mengawasi gerak-gerik kita. Aduh…!! Betapa jauhnya kita dari muroqobatullaah.

Sebagai seorang hamba, semestinya kitalah yang harus memfokuskan perhatian pada apa saja yang dicintai Allah, untuk kemudian berusaha mewujudkan dan mempersembahkannya. Kitalah yang seharusnya memperlihatkan diri pada tempat dan keadaan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kitalah yang semestinya tidak tampak dalam pandangan-Nya di tempat dan keadaan yang dibenci-Nya. Inilah hakikat hamba yang senantiasa mewujudkan muroqobatullaah. Namun realita yang terjadi justru bercerita sebaliknya. Kita sering memperlihatkan diri di hadapan Allah pada tempat dan keadaan yang dibenci-Nya. Seakan Dia tidak melihat. Seakan Dia tidak mendengar dan tidak mengetahui.

Lantas, di manakah aplikasi keimanan terhadap nama dan sifat Allah; “ar-Raqiib”, “al-Bashiir”, “as-Samii'”, “al-Khabiir”, dan nama-nama lainnya yang mengharuskan muraqabatullaah….?

***

Ma’had tercinta, 26 Rabi’ul Akhir 1435 / 26022014

Johan Saputra Halim (Abu Ziyan)

“semoga Allah memaafkannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: